BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
HASRAT TERPERANGKAP


__ADS_3

Dae Song masih saja diam di tempat, rambutnya belum kering, dia menatap Anna begitu nanar, istri adiknya itu memang sempurna, andaikan Anna gadis bayaran, mungkin dari tadi Dae Song sudah menindih tubuh Anna.


Dia tidak pernah jatuh cinta, wanita hanya dijadikan penghibur meleburkan kesepiannya. Tapi melihat Anna, 'Hahh.. jangan sampai aku terlalu larut dalam perasaanku ini.' lirihnya dalam hati.


Anna yang ditatap demikian, mencoba mengalihkan, dia memainkan ponsel agar rasa canggungnya tidak terbaca.


'Apa aku harus keluar mencari bidadari malam, bisa-bisa Anna nanti curiga. Tapi rasanya aku sudah tidak tahan, Oh ..' Kata Dae Song dalam hati.


Karna sudah tidak tahan lagi, Dae Song melangkah perlahan ke Anna, makin lama makin dekat, hingga wajahnya di dekatkan pada Anna. Adik iparnya itu terlihat gemetar seraya menutup mata, tampak sangat ketakutan. Dae Song menghela nafas melihatnya, lalu mengambil ponsel Dae Jung dari tangan Anna.


"Cuma mau ambil ponselku, aku mau buang air besar, ini agak lama. Kamu tidur lebih dulu." Ujar Dae Song beralasan.


Dia kembali ke kamar mandi, memainkan imajinasi sembari menonton video xxxxx, cara ini lebih baik ketimbang menggauli Anna.


'Ahkk .. Aku bisa jadi hewan bila harus sekamar terus dengan Anna.' Gumamnya sembari memegang kejantannya yang sudah duduk di atas closet.


Di luar, Anna segera merapikan tempat tidur, dia membuyarkan pikiran negatifnya pula. Feelingnya ia redamkan sementara, tak ada alasan bila harus mencurigai suaminya itu. Karna rasa lelah hamil muda, Anna yang sebelumya terjaga telah tertidur pulas.


Dae Song sudah mengeluarkan benihnya yang baginya tak berharga, dia membersihkan kembali badannya. Setelah itu keluar dari kamar mandi membawa handphone Dae Jung.


Dia melihat ada piyama biru tua telah disiapkan Anna di atas kasur, piyama itu yang sering dipakai Dae Jung. Usai memakai piyama, Dae Song berbaring disamping Anna. Dia menatap lekat-lekat wajah istri adiknya itu.


Sembari membelai rambut Anna, Dae Song berkata,


'Andaikan aku berada disini sejak kecil, aku pasti yang dijodohkan denganmu. Tapi sayangnya, Dae Jung lebih beruntung dari segalanya.'


'Kamu sangat manis, bahkan saat tidur pun wajahmu tidak berubah, pantas saja Jun Hyun putar haluan, ternyata benar sihirmu bisa meluluhkan hati pria mana saja.' Itu setumpuk kata pujian Dae Song pada Anna.


Malam itu Dae Song tidak tidur, dia mempelajari semua tentang perusahaan yang tercatat di ponsel Dae Jung, sesekali dia menghibur matanya dengan melirik ke Anna. Anna yang tak sadar memeluknya juga menekuk kaki di tubuhnya, pelukan Anna begitu erat, ini cara tidurnya setiap malam bila bersama Dae Jung.


'Ternyata begini indahnya punya istri, aku saja yang berpura-pura sangat bahagia.' Ujar Dae Song senyum-senyum sendiri mendapat perlakuan demikian dari Anna.


'Anggap saja aku Dae Jung. Peluklah sepuasmu."


Dae Song mengutak-atik isi notebook ponsel Dae Jung. Salah satu ia mendapat file berjudul "Hak Kuasa Kepemilikan Korain". Tapi untuk membuka file itu harus deanga password, dan ia sama sekali tak tahu kata sandi file tersebut.


"Apa passwordnya .." Gumamnya yang mencoba menyusun angka.

__ADS_1


Ada banyak angka ia rumus di kertas, mulai dari tanggal lahirnya yang sama dengan Dae Jing ia bolak-balik, tapi semua gagal.


"Tenang Dae Song, bisa saja ini bukan tanggal lahir kami. Lalu siapa?"


Dia kembali memalingkan wajah ke Anna. Lalu dia tersenyum miring. Pikirannya menebak bisa saja password file itu adalah tanggal lahir Anna. Dae Song beranjak dari tempat tidur, di mencari identitas Anna di tas yang tergeletak di laci meja.


Dae Song hanya menemukan buku catatan kehamilan Anna, namun di buku itu terdapat data diri Anna.


Anna Binar Bintang, lahir di Maluli 12 Desember 1994.


Dae Song mencoba memasukkan angka 12121994. Cukup lama ia menunggu, dan jawaban itu menghasilkan bahwa password itu benar. File rahasia itu terpampang yang bisa diatur sesukanya.


"Oh Tuhan, Dae Jung sangat menyayangi Anna. Tanggal lahirnya saja dijadikan hal penting." Gumam Dae Song yang begitu senang, sebentar lagi rencananya Ayahnya akan berhasil.


Ada rasa bersalah pada Dae Jung, adiknya itu tidak tahu menahu dengan kelakuan Ayah kandung mereka. Tetapi bukankah dia harus lebih berterima lasih pada Ayah angkatnya, berkat Paman Chung Sang dia masih hidup dan menikmati keindahan dunia meski itu secara tersembunyi.


*******************


Di Sebuah hotel, ada Ji Yeong yang masih meratapi kejahatan Ayahnya. Dia masih memantau pergerakan polisi dari ponsel barunya. Malam ini polisi harus meringkus Ayahnya, agar keluarga Korain hidup tentram lagi.


Ji Yeong mendial nomor teman polisinya,


"Iya, tapi sudah kosong. Mereka sudah pergi." Sahut Eung He.


"Mereka tidak akan bisa keluar dari kota Busan. Pasangkan keamanan pintu masuk keluar kota." Ujar Ji Yeong.


"Tapi, Ayah kamu pasti sudah keluar pulau. Kami baru saja mendapat informasi. Kami akan menyusuri jejak-jejak kapal yang sudah melintas di laut." Terang Eung He.


Dia mematikan panggilannya. Ji Yeong rasa ini hal yang tidak baik. Caranya bersembunyi kali ini salah bila Ayahnya belum juga tertangkap. Korain pasti diintai oleh bahaya. Tanpanya, Dae Jung akan kewalahan melawan kejahatan Ayahnya.


Ji Yeong memutuskan untuk kembali ke rumah Korain. Dia tidak akan meninggalkan tugas begitu saja. Keamanan Korain utama baginya, apapun itu penghalangnya.


Setiba di rumah, Ji Yeong menemui Bu Nas yang masih sibuk mangawasi pelayan membersihkan dapur.


"Bu Nas, apa ada terjadi sesuatu?" tanyanya.


"Kau dari mana saja? tidak ada yang terjadi." Sahut Bu Nas.

__ADS_1


"Dae Jung dan Anna dimana?" tanya Ji Yeong kembali.


"Mereka sudah tidur. Kamu dari mana saja?"


"Bu Nas, ada yang ingin aku bilang tapi ini jangan diberi tahu Dae Jung dan Anna dulu."


Ji Yeong menceritakan semua kebenaran yang ada, kejahatan Ayahnya pada Korain. Bu Nas mendengar itu menangkup tangan ke mulut. Dia tidak menyangkan Chung Sang yang ia kenal baik begitu keji melakukan demikian.


"Ji Yeong, Tuan Kim pasti sangat terpukul bila mengetahui itu."


"Itulah, Bu Nas. Aku malu pada kalian," sahut Ji Yeong menunduk.


Bu Nas mengusap pundak Ji Yeong.


"Kamu sabar, Tapi Ji Yeong, Chung Sang harus ditangkap, didalam penjara bukan juga bentuk hukuman tetapi dia harus merenungkan kesalahannya."


"Polisi sementara mencarinya, Bu Nas. Ayahku memang harus membayar kesalahannya."


"Harusnya memang seperti itu, Nak."


Ji Yeong kembali menyusuri setiap sudut rumah, dia curiga bila ada seseuatu yang akan membahayakan di rumah itu. Sejam dia mengitari rumah Korain, tak ada satu pun yang mencurigakan. Ji Yeong kembali ke bawah menuju bagian keamanan.


"Pastikam CCTV harus aktif selalu, tambahkan lagi di setiap pinggir pagar. Kita harus lebih waspada sekarang." Ujar J' Yeong pada Pak Lee kepala keamanan.


"Baik, Pak Ji." Sahut Pak Lee.


Ji Yeong kembali ke kamarnya, tapi sebelum itu, dia mengetuk pintu kamar Yuna. Dia ingin mengetahui keadaan pacarnya. Ji Yeong sadar, seharian sikapnya sangat dingin pada Yuna.


Yuna nampak dibalik pintu dengan wajah bantal.


"Kamu sudah tidur?" tanyanya.


"Kamu dari mana saja? seharian Pak Kim mencarimu."


"Ada banyak yang harus aku selesaikan, apa kantor baik-baik saja hari ini?"


"Iya, Pak Kim lebih dulu pulang karna ingin mengantara Anna ke dokter kandungan."

__ADS_1


"Begitu, kamu lanjut tidur. Aku juga mau ke kamar."


Ji Yeong memberi kecupan pada Yuna. Lalu bergegas ke kamarnya. Malam ini dia akan berjaga menunggu informasi dari Eung He, dia tidak akan tenang bila Ayahnya belum tertangkap. Ji Yeong sangat tahu, Ayahnya tidak mungkin lari begitu saja sebelum mencapai keinginannya.


__ADS_2