
Adzan subuh berkumandang di mesjid samping Hotel Korain, Anna terbangun dari tidurnya, membuka lapisan gorden yang menghambat pandangan subuh, betapa kuasa segala pengaturannya menciptakan segala sesuatu seindah mungkin.
Anna melihat tempat tidurnya kosong, ada rasa geli di jiwanya membayangkan Dae Jung yang mengorok bila tidur di tempat yang sama dan sebagai Istri dia mengusiknya dengan berbagai cara agar pengusaha muda itu terbangun.
"Ah kamu, An. mulai nakal lagi." Anna membuyarkan lamunannya.
Dia berwudhu terlebih dulu, merasakan butiran air suci menyentuh kulitnya, dingin sekali.
Usai shalat subuh, juga membaca dua lembar ayat suci alqur'an, Anna berniat melanjutkan tidur, rasa pegal setelah menjamu tamu di resepsi kemarin masih terasa mengoyak di sekujur tubuhnya.
Mukenah pink yang masih terpasang, Anna membaringkan badan di kasur empuk besar itu.
Hhmm, aku seperti menjadi anak konglomerat saja. gumamnya.
Belum sempat matanya terpejam, telinganya di suguhkan suara,
Tingtong!
Ada yang memencet bel kamarnya, masih jam lima subuh entah siapa yang bertamu, dia mengintip di balik door viewer, ha! itu Suaminya, Dae Jung.
"Mau apa dia? jangan-jangan dia sudah mau,ah. Tidak! kamu pikirannya aneh mulu." Hardiknya pada diri sendiri.
Anna bergegas membuka pintu, seketika Dae Jung menyusup ke kamarnya dengan tergesa-gesa, melihat gelagat suaminya, Anna mengeleng, Ternyata begini sikap CEO Korain? Ucapnya dalam hati.
"Sini cepat." Dae Jung menarik tangan Anna." Tutup pintunya." Lanjut Dae Jung menutup pintu.
Anna yang kebingungan, tak habis pikir dengan sikap Dae Jung.
"Kamu naik tidur di ranjang." Titah Dae Jung padanya.
"Apa? baru semalam kamu bilang sepakat untuk tidak saling ganggu." Ketus Anna.
Dae Jung membekap mulut Anna.
"Diam. Hust! Aku tadi di telpon Ji Yeong, Kakek sudah ada di bawah menuju ke kamar ini."
"Haaa? Untuk apa?" Tanya Anna heran.
__ADS_1
"Untuk apa lagi? Memastikan apakah kita tidur bersama." Jawab Dae Jung yang masih memegang tangan kanan Anna.
Anna membelalakkan mata.
"Segitunya Kakek kamu? Sampai-sampai malam pertama kita di awasi pula, wah keren banget Korain." Canda Anna.
"Sini kamu tidur, biarkan saya yang membuka pintu." Dae Jung menarik tangan Anna ke tempat tidur, membaringkan Anna secara paksa di bantal lalu Dae Jung yang berbaju piyama saat itu menyelimutkan Anna.
"Kamu pura-pura tidur, ya. Kalau ada Kakek kamu akting tidur nyenyak, ok?" Usul Dae Jung.
Anna menurut saja dengan kekonyolan Suaminya. Melihat ekspresi Dae Jung yang sangat takut pada Kakeknya buat dia merasa terkesan,sungguh Dae Jung pria penyayang.
"Tidur, tidur." Dae Jung tak henti-henti memberikan aba-aba padanya.
Ada lagi yang membunyikan bel kamar, tentu itu Presdir Hang yang datang bersama kedua pengawalnya.
Dae Jung mulai memasang wajah bangun tidur, rambut sedikit di acak-acak, lalu memutar knop pintu, matanya pura-pura mengerjap.
"Ah, Kakek..kenapa? Ini masih subuh Kek." Tanyanya dengan suara memelas.
Presdir Hang dari luar mengamati keadaan kamar pengantin Dae Jung, terlihat di tempat tidur Anna meringkuk dibalik selimut, Presdir Hang tersenyum.
"Luarbiasa, kan. malam pertama?"
Dae Jung tersenyum paksa, dia hanya mengangkat kedua jempolnya dengan isyarat, Ok!
"Sekarang Kakek mau pulang ke rumah, lanjutkan ya, biar Kakek segera dapat Cicit."
Presdir Hang meninggalkan kamar pengantin Dae Jung.
Dia segera menghampiri Anna di tempat tidur.
"Bangun, Kakek sudah pergi."
Namun Anna tak bergerak sama sekali. Berkali-kali ia goncangkan tubuh amAnna dibalik selimut, tetapi perempuan yang sudah berstatus Istrinya itu tak merespon, tentu Dae Jung khawatir.
"Anna, Anna, kamu pingsan?" Tanyanya.
__ADS_1
Saat Dae Jung mendekatkan diri pada Anna,dia yang masih berbalut mukenah itu menarik tubuh Dae Jung hingga menindih tubuhnya. Rupanya Anna ingin mengerjai Dae Jung dengan cara genit.
"Kamu !" Ucap Dae Jung menatap kesal Anna.
Wajah yang semakin dekat, kedua pasang mata itu tenggelam dalam pandangan menahan gejolak. Nafas mereka saling berpacu dengan nada seirama, ada yang tak bisa di ungkapkan oleh kata-kata,a asmara mulai tumbuh, namun rasa gengsi mendominasi diantara mereka.
"Maaf!" Anna mendorong tubuh Dae Jung dengan terkekeh.
"Sial, Anna mengerjaiku, mana gairahku mulai kumat, huuft." Dae Jung mengerutu dalam hati.
Bagi Anna, tak ada yang salah pada tingkahnya, lagipula Dae Jung sudah menjadi suaminya, hanya saja hasrat Dae Jung yang berbeda, sebagai istri dia harus berusaha mengembalikan suaminya di jalur yang semestinya.
Anna berasumsi Dae Jung seorang gay, padahal pria yang terkenal cuek itu hanya ingin menjaga jarak, selain trauma kisah cintanya dengan Bora, pria berzodiak canser itu juga tak ingin sembarang menjatuhkan hati pada wanita yang salah.
"Opla keluar cepat, aku mau tidur, capek, piuhhh." Ucap Anna jahil.
Tak ingin pula berlama-lama,
Dae Jung keluar dari kamar istrinya tanpa berucap sepatah kata. Meninggalkan Anna yang ingin melanjutkan tidurnya. jika tidak, maka perjanjian itu batal sebab gairah kelelakiannya melemahkan seluruh otot-ototnua.
"Lihat saja Anna, akan ku balas permainanmu." Gumam Dae Jung.
"Haa oppa, jangan lupa sholat subuh, dosa ya kalau kita tidak sholat." Anna memperingati Dae Jung yang sudah menghilang di balik pintu.
"Dia benar-benar gay." Lirih Anna.
***********
Dae jumung menghempaskan tubuh kekarnya di atas kasur. Menetralkan hasratnya yang terpendam, benar-benar sial paginya kali ini, dia di uji oleh Istrinya sendiri, membayangkan tadi saja jantungnya serasa jatuh berserakan, tatapan anna mulai menggetarkan jiwanya, namun ia belum ingin lebih dari itu, ini bukan saatnya dia menjama Anna.
Baginya, melakukan hubungan intim itu harus di dasari cinta, bukan hanya karna nafsu belaka, takut bila dia tak bisa mencintai Anna dengan tulus, dia tak ingin di jajah syahwat seperti Ayahnya dahulu, sehingga kaum wanita cara dia mengekspreaikan kesenangan hidupnya, menyia-nyiakan Ibu Dae Jung, dia tak mau nafsu jadi belenggu di antara mereka, begitupun Anna sebaliknya.
Tiba-tiba sketsa wajah Bora terpampang di matanya, perempuan yang di pacarinya selama tujuh tahun itu menggoda jiwanya, kenangan bersama Bora terngiang lagi di benaknya, begitu indah hingga senyuman di malam hari menghiasi apartement mereka berdua di Sidney.
Namun bila ingat kekejaman Bora yang meninggalkannya hanya demi menikah dengan seorang Atlet Basket, Dae Jung sangat membencinya, cinta yang begitu di agungkan di khianati begitu saja oleh wanita yang ia pacari selama tujuh tahun, padahal dae jung sudah mempersiapkan diri untuk melamar setelah kuliahnya selesai.
"Bora, Kenapa kamu tega." Lirihnya.
__ADS_1
Dae Jung tertidur membawa bayangan wajah Bora, melupakan Anna yang sudah menjadi Istrinya, ini yang membuat Dae Jung tak ingin lebih jauh pada Anna, sebab cintanya pada Ahn Bora masih utuh belum terkikis oleh waktu.