BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
SIDIK JARI MISTERI


__ADS_3

Pagi-pagi Ji Yeong menuju ke kantor polisi, tanpa membsritahu Dae Jing dan Yuna. Dia meminta bagian penyelidikan untuk memberikan keterangan di balik pemilik sidik jari yang ada di gelas juga di bekas bungkusan obat dari rumah misteri 308 C.


Sejam dia menunggu di ruangan penyidik, akhirnya salah satu penyidik memanggilnya yang juga teman SMU dia dan Dae Jung.


"Apa kau sudah menemukan isdentitas siapa sidik jari itu?" tanyanya.


"Ini sangat aneh, semua data sudah kami rangkumkan, tapi tidak ada yang sesuai dengan sidik jari si pemegang gelas itu." Imbuhnya yang kebingungan melihat hasil lab.


"Yang benar saja, mungkin kau salah analisa, coba lagi." Ketus Ji Yeong.


"Kami sudah berkali-kali lakukan itu. Seseorang ini tidak tercatat di kependudukan Korea Selatan." Sahut temannya itu.


Ji Yeong menelan salivanya dengan kasar. Dia benar-benar hampir gila dengan misteri ini. Bagaimana bisa pemilik rumah itu tidak memiliki identitas kewarganegaraan.


"Ji Yeong, ada dua kemungkinan, orang ini WNA atau dia tidak memiliki identitas."


"Hha, di jaman sekarang mana ada orang yang tak memiliki identitas." Timpal Ji Yeong.


Dia mengambil lembaran hasil lap yang menggambarkan scan milik si sesesorang misterius tersebut.


"Lalu obatnya? bagaimana?" tanyanya.


"Itu obat penderita lemah jantung. Dari bagian farmasi mengatakan obat itu harus setiap saat di minum artinya ini pengobatan yang jangka panjang." Sahut polisi muda itu.


"Berarti orang itu mengidap lemah jantung?" tanya Ji Yeong.


"Bisa saja, karna sidik jari yang di bungkusan obat itu sama dengan yang di gelas bekas yang kau bawa."


Ji Yeong menyerahkan lagi berkas itu,


"Baiklah, kau simpan ini sebagai salahsatu bukti kita. Aku harus menemui Jun Hyun dulu."


Ji Yeong kembali menemui Jun Hyun. Lagi-lagi Jun Hyun bersedia di jajal pertanyaan dari sekertaris Dae Jung itu.


"Katakan sebenarnya, siapa pemilik rumah 308 C itu ?" tanyanya tanpa basa-basi.


Jun Hyun mengerutkan dahi, "Apa kau tidak menemukannya?" tanyanya kembali.


"Kau sudah pandai bermain lagi Jun Hyun, jika kau seperti ini, kau lebih lama lagi meringkus disini." Ji Yeong mulai kesal.

__ADS_1


"Aku sudah membantumu, jangan berkata menuduh padaku." Jun Hyun juga ikut kesal.


"Lalu? harus apa yang ku katakan tentang pembual sepertimu? kau masih berpihak pada mereka yang jelas-jelas hanya ancaman bagimu?"


"Kau kesana dengan cara apa?" tanya Jun Hyun.


Ji Yeong menelaah pertanyaan Jun Hyun, pria itu berpesan agar Ji Yeong kesana tanpa memberitahu siapapun, atau membawa siapapun.


"Kau bertemu dengan siapa sebelum mencari tempat itu?" Jun Hyun meropol Ji Yeong dengan pertanyaan balasan atas tuduhannya.


Jun Hyun tersenyum miring, sangat kesal dengan tuduhan Ji Yeong.


"Aku coba menahan diri, demi kebaikan semuanya. Dengan kau sendiri kerumah itu, kau takkan mendapat bahaya ataupun kematian. Dia takkan melukaimu. Dia tidak akan tega." Jelas Jun Hyun.


"Maksudmu?"


"Di rumah itu tempatku selalu bertemu dengan sekutu besar, musuh Korain. Setiap sudut rumah itu banyak misteri, aku pun juga tidak tahu apa yang pria tua itu sembunyikan di rumah 308 C."


"Tunggu, pria tua?" tanya Ji Yeong.


"Iya, pria tua, dia musuh besar Korain. Yang kau tak sangka siapa dia."


"Apa pria yang kau maksud memiliki penyakit jantung? dan tinggal disana?"


"Dia kewarganegaraan apa? dia tidak punya identitas di Korea Selatan." Tukass Ji Yeong.


Jun Hyun tertegun, bagaiman bisa pria tua itu tidak memiliki identitas padahal dia pernah menjadi orang terpandang dengan Korain.


"Kau mendapat sesuatu yang lain disana?" tanyanya.


"Iya, sidik jari yang tak memiliki identitas dan obat buat penderita penyakit jantung. Juga handuk pria dan alat-alat pria lainnya." Sahut Ji Yeong.


Jun Hyun terdiam, dia tidak mengerti siapa dimaksud oleh Ji Yeong. Setaunya di rumah itu di jadikan persinggahan oleh pria tua itu.


"Astaga, berarti dia menyembunyikan seseorang di rumah itu, tapi tidak pernah memuculkan wujudnya." Lirih Jun Hyun dalam hati.


Tetapi hal itu belum ingin di kemukakan pada Ji Yeong, karna itu hanya presepsinya saja. Belum ada bukti yang mendasari, yang ada Ji Yeong akan menuduhnya membual lagi.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ji Yeong membuyarkan imajinasinya.

__ADS_1


"Langsung saja Jun Hyun. Ini kebaikan Dae Jung." Lanjutnya.


"Baiklah, aku butuh pulpen dan kertas. Aku tidak ingin melukai hatimu dengan berucap langsung."


Ji Yeong menyodorkan kertas dan pulpen padanya. Dia menuliskan nama pada kertas tersebut. Setelah itu dia melipat kertas itu lalu mengembalikannya ke Ji Yeong.


"Ini, aku harap jantungmu juga baik-baik saja bila mengetahui isi kertas itu." Imbuh Jun Hyun.


Mumpung dia berada di kantor polisi, Ji Yeong ingin segera melaporkan orang tersebut sebagai tersangka. Namun saat membuka lipatan kertas itu, nama seseorang didalamnya sangat mengejutkan, benar kata Jun Hyun, jantungnya seperti berhenti berdetak.


Drak !!


Ji Yeong memukul kaca pembatas pembatas antara dia dan Jun Hyun, rasanya dia ingin meraih wajah Jin Hyun lalu menghajarnya habis-habisan.


"Beraninya kau menuduh dia seperti itu !" Hardik Ji Yoeng.


"Aku tidak menuduh, memang itu kenyataanya."


"Jun Hyun, rasanya aku ingin menghabisi atas bualanmu lagi !" Ji Yeong benar-benar emosi atas nama yang dituliskan Jun Hyum di kertas itu.


"Sudah kubilang temui dia sendiri saja. Jangan kau memaksaku berucap, karna kau pun takkan percaya itu, hm, tapi kalian terlalu lugu akan hal itu."


Ji Yeong menatap Jun Hyun penuh kemarahan, baru kali ini ada yang membuatnya semarah itu.


"Atas dasar apa kau menuduhnya?"


Jun Hyun tertawa, dia merasa Ji Yeong menjadi konyol karna tak menerima kenyataan yang ada.


"Jangan konyol Ji Yeong, setiap saat bila kami merencanakan sesuatu, aku selalu ke rumah 308 C bertemu dengan pria tua itu."


Ji Yeong berdiri dari tempat duduknya,


"Aku akan buktikan, bila ini permainanmu, aku akan kembali datang menghabisimu." Kecam Ji Yeong.


"Semoga saja kau menemukannya, tapi lakukan secara diam-diam." Sahut Jun Hyun begitu tenang.


Ji Yeong meninggalkan Jun Hyun di ruang kunjungan, membawa amarah yang amat besar bersamanya.


Jun Hyun mengerti mengapa Ji Yeong semarah itu, jika di posisi yang sama, dia akan melakukan hal yang sama. Kehancuran Korain tidak jauh dari orang terdekat Korain sendiri. Namun yang jadi pertanyaan Jun Hyun sendiri, siapa pria pengidap penyakit jantung itu? mengapa dia di tinggak di rumah 308 C? apa hubungannya dengan pria tua itu? lalu di jadikan apa pria yang disembunyikannya itu? setumpuk pertanyaan Jun Hyun membantin.

__ADS_1


Rasanya dia ingin terbebas dalam ruangan sempit itu. Ada banyak yang misteri yang juga ingin di ketahui, dia ingin membalas jasa Dae Jung yang sudah menjaga ibunya dengan baik hingga saat ini.


Pelan-


__ADS_2