
"Ha, Untuk apa kamu kemari? kau merindukanku? Karna pagi tadi tidak sempat bertemu." Tanya Dae Jung menyombongkan diri.
Anna menghela nafas, rupanya kesombongan suaminya sedang kumat. Dia rasa salah langkah kali ini, mengkhawatirkan perut Dae Jung sementara dia sama sekali tak peka.
"Aku kemari membawa ini." Ucap Anna memperlihat kotak makanan.
"Itu hanya Alibi saja." Ketus Dae Jung.
Anna menyerngit, Dae Jung memang pria menyebalkan, oh .. rasanya dia ingin kembali pukang saja. Namun bagaiman tanggapan ketika karyawan melihatnya, apa yang mereka akan katakan bila hanya datang sekilas melihat suaminya.
"Terserahlah, yang jelas, aku bertugas sebagai Istri yang baik."
"Oppa, makan saja dulu. Simpan kesombonganmu dulu, bisa saja iti efek laparmu." Tukas Anna.
Anna membuka kotak makanan hitam itu untuk Dae Jung. Berisi soto ayam yang masih panas.
"Ini, satu untuk Ji Yeong, berikan nanti padanya." Anna meletakkan pula di meja Ji Yeong yang sedang kosong.
Dae Jung melihat tersisa satu kotak lagi di tas Kain Anna.
"Yang satunya lagi untuk siapa?" Tanyanya.
Anna hanya tersenyum masam, sangat malu bila dia lebih dulu mengatakan ingin makan bersama.
"Aku simpan untuk aku makan di rumah."
"Ha? Kamu membawa makanan ini dari rumah, lalu kamu membawanya kembali ke rumah?" Tanya Dae Jung Sinis.
"Kamu makan saja disini." Lanjut Dae Jung.
Anna tersenyum puas, rupanya suaminya marah itu hanya akting saja. Dia tahu, Dae Jung sangat peduli padanya. Hanya saja pria kaya memang mungkin berwatak gengsian, dan salah satunya Kim Dae Jung.
Dae Jung menyeruput kuah sotonya, sangat enak. Batinya memuji. Ia akui, Anna memang pandai memasak, soto buatannya hampir mirip dengan soto buatan mendiang Ibu Dae Jung.
"Makan yang banyak, Oppa." Ucap Anna mengedipkan mata.
Dae Jung menahan untuk tidak tersenyum, wibawanya tak boleh jatuh berserakan hanya karna tingkah manis Anna.
Ponsel Anna mengumandangkan sholawat, ada panggilan yang masuk, tertera nama Jun Hyun. Dia mengangkat itu di depan Dae Jung.
"Hallo, Jun Hyun." Ucap Anna pada gurunya itu.
__ADS_1
Dae Jung terkejut mendegarnya menelan paksa potongan daging ayam ke tenggorokannya.
'Jun Hyun, siapa dia?' Batin Dae Jung.
"Iya, Sore ini.Saya segera kesana." Sahut Anna yang menyetujui pertemuan dengan Jun Hyun di perpustakaan rekomendasinya.
Anna menutup telponnya.Dia kembali memakan sotonya, sebagian lontongnya di berikan pada Dae Jung.
"Ini, Oppa makan punyaku. saya sedang buru-buru Oppa, mau permantap bahasa Koreaku, dan Inggrisku." Ujar Anna mengunyah dengan tergesa-gesa.
Dae Jung kesal melihat Istrinya itu, dia menghetakkan sendok di atas meja.
"Anna, Kamu mengajakku makan siang. tapi belum selesai kamu akan meninggalkanki menghabisi semua makanan ini?" Celetuk Dae Jung.
Mendengar Anna berbicara dengan pria lain, api cemburu Dae Jung membara. Dia baru tahu, kalau guru private Anna itu seorang Laki-laki.
"Oppa, saya hanya inging on time." Jawab Anna pelan.
"Itu tadi siapa?"
"Jun Hyun,guru private bahasaku."
"Ya sudah, pergi sana." Hardik Dae Jung.
"Aku tadi cuma bercanda. Ayo kita makan lagi." Ucap Anna mendinginkan suasana.
Dae Jung kembali makan. Anna yang diam menatapnya ingin menanyakan sesuatu.
"Oppa, Apa arti Cinta bagi Oppa?"
Dae Jung tergugu. Tak ada jawaban yang ia tahu tentang cinta, sebab dia pernah mencintai begitu dakam namun di balas oleh pengkhinatan.
"Aku tidak tahu." Jawabnya.
Anna kembali menanyakan hal kedua.
"Apa Oppa pernah mencintai wanita sebelumnya?"
Dae Jung tersentak, pertanyaan kedua Anna buatnya panik, sebab itu menyangkut nama Bora. Tapi, Dae Jung merasa ini belum waktunya menjelaskan kehidupan masa lalunya yang suram bersama cinta pertamanya itu.
"Pernah, dia ibuku. Rifasya Salim." Jawab Dae Jung.
__ADS_1
"Jika Oppa jatuh cinta, apa yang akan kamu lakukan?"
Pertanyaan ini sudah lama ia simoan untuk di lontarkan pada Dae Jung, kemisterian suaminya itu harus terungkap.
Dae Jung diam sejenak, dia tersenyum lalu memjawab,
"Aku akan memberikan semuanya pada wanita itu. Waktuku, Hartaku, Tujuanku, Bahkan nyawaku. karna mencintai itu hal keseriusan bagiku."
Anna tertegun. Jawaban Dae Jung buatnya terharu, ternyata Dae Jung melajang bukan karna tak mennyukai perempuan, melaikan mengahargai arti suatu hubungan yang harus di dasari cinta.
"Sampai kapan kamu akan mencarinya?" Tanya Anna dnegan tatapan sendu.
Dae Jung terdiam. Terlihat di kelopak mata Istrinya itu menampung air yang akan menjatuhakn diri di pipi Anna.
"Anna ..." Lirih Dae Jung larut dalam pandangan Anna.
"Aku tahu, Oppa mempunyai stnadart tinggi terhadap pasangan, akan tetapi apakah pernikahan kita tak pernah berarti untuk di bangun dengan Cinta."
"Aku ingin tahu, pernikahan kita untuk apakah ingin membangun cinta atau malah menanti cinta yang lain?"
Anna tak mampu lagi mengendalikan perasaanya, Air matanya telah tumpah di hadapan Dae Jung, tujuannya bukan untuk mengemis cinta pada pria yang di kagumi banyak wanita itu, melainkan nasib pernikahannya yang belum menemukan lentera cinta di hati Dae Jung.
Anna membuang pandangannya ke arah jendela, tampaknya Dae Jung belum mempuntai jawaban untuk pertanyaan terakhirnya.
"Lupakan, anggap saja dialog tadi gurauan kita berdua, Oppa." Ujar Anna meredam kesedihannya.
Dia melanjutkan makanannya, berusaha menenangkan diri. Anna tahu, caranya sudah menjatuhkan harga dirinya sebagai perempuan, namun di sisi lain pernikahan mereka tak boleh di permainkan begitu saja oleh Dae Jung. Menikah, bukan hanya sekedar memberi segala kebutuhan materi, melainkan batin dan cinta kasih sayang, dan itu belum dia dapatkan dari Pria Indo-Korea itu.
Sementara kegamangan Dae Jung di penuhi kebimbangan. Dia sendiri pun tak tahu, apa yang telah ia rasakan pada Anna. Perempuam di hadapannya cukup cantik, berkepribadian baik dan tulus. Semua yang di lakukan Anna selalu membuatnya khawatir, tak ingin bila Anna samoai terluka, Kekurangan, Kesakitan bahkan dia tak sudi ketika Anna berbicara dengan pria lain.
'Apakah semua itu cinta?' Batin Dae Jung menggema.
Jika benar, mengapa nama Bora masih melekat di ruang hati kecilnya.
Suasana makan siang mereka telah membeku dalam kebisuan, tak ada senda gurau lagi mengaung di antara keduanya. Seketika senyap akibat pembahasan cinta yang belum jua terwujud di pernikahan mereka.
Ah, Cinta memang kadang jadi misteri, menumbuhkan dan memadamkan begitu saja di hati yang lain, namun begitu sulit tercipta di hati pria yang idealis seperti Kim Dae Jung.
------------''''----''''--------'''''---------
" Cinta itu bagai kampas putih, sedangkan kau yang mencintai adalah tintanya. Lukislah warna semaumu, buatlah mengagumkan untuk dilihat oleh orang yang kau cintai."
__ADS_1
-YAMA-