
Anna masih berdiam diri di meja makan, memandang kosong ke arah sisa sarapan suaminya. Perasaannya sangat gundah pagi itu, benar kata Bibi Nami, dia berhasil meresahkan ketenangan Anna serta rumahtangganya.
Melihat kelancangan Bora yang memeluk Dae Jung di depan matanya, buat dia kehilangan kepercayaan diri. Anna takut bila suaminya akan jatuh cinta lagi pada Bora yang semakin cantik dan seksi itu.
'Oh, ya Allah, kenapa aku gelisah seperti ini," Gumamnya seraya mengusap wajah.
"Nona, masih memikirkan kejadian tadi?" Bu Nas mengagetkannya.
"Hem, seperti itu, Bu Nas."
"Jangan di pikirkan, Nona. mereka akan merasa menang bila Nona gelisah."
"Iya, Bu Nas. Tapi aku tidak melupakan ancaman Bibi Nami itu."
"Tuan Kim bukan laki-laki yang pada umumnya, Nona. Dia tahu aturan dalam hidup, saya mengenalnya sejak bayi, jadi saya tahu apa yang dia tidak senangi dan apa yang dia senangi. Tuan Kim orang yang berprinsip." Tutur Bu Nas menyamarkan kekhwatiran Anna.
"Tapi, Bu Nas .. setiap hari Bora akan selalu menemuinya, bukan laki-laki normal bila dia tak tergoda."
Bu Nas tergugu, yang di katakan Anna benar. Sekuat apapun imam pria, tidak akan bisa mengalahkan syahwat bila godaan setiap saat di depan mata.
"Aku sudah kehilangan kepercayaan diri, Bu Nas."
"Jangan berkata begitu, Nona. Jika di banding dengan Bora, Nona Anna jauh lebih menarik dan cantik, hanya saja penampilan Nona yang lebih sopan."
Sangat terlihat di wajah Anna menyimpan kegelisahan, pernikahannya baru saja di mulai, tapi ujian sudah mengantri tanpa henti.
"Aku tadi ingat, kenapa Bu Nas berkata pada Ibu Bora tentang merebut sepert dia?" Tanya Anna yang menilik perkataan Bu Nas saat berdebat dengan Bibi Nami.
Bu Nas diam sejenak, sebenarnya ini rahasi pribadi antara dirinya dengan Bibi Nami, tapi pertanyaan Anna sudah memojokkannya.
"Kami pernah kenal sebelumnya, jauh sebelum Dae Jung dan Bora memiliki hubungan Nona."
"Benarkah, Bu Nas? Memang Ibunya Bora seperti itu kepribadiannya? "
"Iya, dari dulu dia sudah di selimuti keangkuhan sejak kami duduk di bangku SMU."
Anna ingin menyelidik lagi lembih lanjut, jiwa kepo kembali kumat dengan hubungan Bu Nas dan Bibi Nami bak kucing dan tikus itu.
"Kenapa Bu Nas mengatakan dia perebut? apa yang pernah di lakukan Ibunya Bora itu? Maaf Bu Nas, aku ingin tahu keluarga mereka seperti apa."
__ADS_1
Bu Nas tertawa di barengi rasa gugup, sebab kisah pilunya akan ia ceritakan pada Anna.
"Kami pernah sekolah di tempat yang sama, jujur Nona, jika mengingat itu, saya sedikit malu, ternyata harta dan kekuasaan mampu merubah seseorang jujur dan baik menjadi berkhianat." Tutur Bu Nas.
Anna mengangguk, tapi masih menunggu kalimat-kalimat dari Bu Nas.
"Saya pernah punya pacar di waktu SMU, kami bersahabat sejak kecil. Tapi, karna kehadiran Nami yang cantik dan punya harta dengan segala kekuasaan orangtuanya, dia menginginkan pacar saya waktu itu. Janji pria itu putus karna imingan harta, mereka menjalin hubungan tanpa sepengatahuanku, saat saya mau menikah dengan dia, ternyata Nami sudah hamil lebih dulu. Jadi, saya harus mengalah dan memutuskan untuk pergi dari kehidupan pria itu." Kenang Bu Nas. Tak ada gutatan sedih di wajahnya, hanya suara yang menyendu saat menceritakan kisah kelamnya kala itu.
Anna tergaguk mendengar kepiluan Bu Nas, Bora dan Ibunya apakah gen yang memang suka menganggu hak orang lain? Anna makin gusar saja, bagaimana jika dia bernasib sama seperti Bu Nas? Oh .. malangnya Bu Nas, batin Anna.
"Bu Nas, maafkan saya, sudah mengingatkan masa lalu." Anna merasa bersalah.
"Tidak apa, Nona. itu sudah 30 tahun lebih, tak ada lagi yamg perlu di sesihkan." Sahut Bu Nas menguatkan diri.
Anna merasa kaeadaan tubuhnya sedang tidak baik pagi ini. Dia ingin berisitirahat, sepertinya rasa lelah karna kelamaan di dalam laut masih menyeringai tubuhnya.
"Bu, Nas ..aku sedikit lelah, badanku pegal." Keluh Anna mengusap batang lehernya.
"Nona, istirahat saja. Kami akan membereskan semua ini."
Anna naik ke atas kamarnya, membuka hijabnya, dia melihat tubuhnya di pantulan cermin, cukup ideal dan bisa di bilang langsing, yang hanya membedakan dia dan Bora hanya postur tinggi badan, Anna memiliki tinggi 158 cm sedang Bora kisaran 170 cm.
"Jujur, kenapa aku minder sepert ini .." Anna mengerutu di depan cermin.
Setinggi apapun kepercayaan diri seorang perempuan, bila di hadapkan situasi beradu penampilan dengan mantan kekasih dari pasangannya yang jauh lebih elegant, tentu ia akan merasa minder. Tetapi kembali lagi dengan prinsip kecantikan Anna, setiap wanita punya versi kecantikan masing-masing, tak ada yang boleh melakukan perbandingan untuk menyelaraskan sesama perempuan.
Tiba- tiba pandangan Anna berkunang-kunang, pusing, lehernya seperti di timpa benda berat.
'Aku seperti mau sakit lagi.' Kata Anna dalam hati.
Anna membaringkan diri kembali di kasur.
******************
Bora sudah tiba di kantor Korain, dia melangkah tanpa menjawab pertanyaan resepsionis, Bibi Nami malah menunggu di mobil, memberikan keleluasan anaknya mulai memadu kasih pada pria yang masuk dalam kolom daftar pengusaha terkaya di Asia itu.
Siapa yang tak menginginkan Dae Jun menjadi menantu? Tentu juga dia menginginkannya, agar pundi-pundi kekayaannya makin bertambah.
Bora menaiki lift sesuai petunjuk arahan dari pihak keamanan, dia menuju ke lantai paling atas tepatnya di ruangam Dae Jung. Saat keluar dari lift dia menjalarkan mata ke semua pintu, terlihat ada Yuna yang duduk di meja Kerjanya yang sedang menyusun berkas.
__ADS_1
'Percakapan Bahasa Korea-
"Kamu yang tadi bersama Dae Jung, kan?" Tanya Bora mangagetkan Yuna.
"Ya, Pak Kim sekarang ada rapat dadakan bersama klien, jadi dia tidak bisa di ganggu." Sahut Yuna.
"Bohong, aku ketemu dia, dimana ruangannya?"
"Dia sedang meeting, tidak bisa bertemu tamu. apalagi yang belum membuat agenda pertemuan." Yuna mulai nyolot, dia sangat kesal dengan niat Bora yang ingin merebut Dae Jung dari temannya, Anna.
"Aku sudah bilang di rumah tadi, aku ingin ke kantornya." Bora mulai mengeraskan suara.
"Tidak Bisa."
"Kamu siapanya? mengatur seperti itu?"
Yuna merapikan kera bajunya lalu merapikan puka rambutnya, lalu berkata, "Saya Yuna, Sekeryarisnya, primadona Korain."
Bora mengangkat bibir sebelah, dia tetap kukuh ingin bertemu Dae Jung.
"Aku tidak peduli, pasti kamu bohong."
Yuna mulai memanas, berbicara dengan Bora yang mengalami gangguan emosional memang menguras tenaga.
"Tapi dia sedang ada meeting, ya ampun .. susahnya bicara dengan orang gangguan mental." Yuna mengerutu pelan, tapi itu terdengan oleh Bora.
"Kamu mengolokku?" Bora mulai tersulut emosi.
"Kau merasa di olok?"
Penyakit Bora kembali kumat, Brakkk !!!
Tangannya memukul meja menggertak Yuna.
"Kau sudah membuatku marah." Kata Bora menajamkan mata.
Bukkk !!
Tangan Yuna pun memukul meja kerjanya lebih keras lagi, tak mau kalah, tatapan mata penuh keapian ia layangkan pula pada anak pemilik GG group itu.
__ADS_1