
Anna kembali ke rumah dengan wajah memelas, batinnya benar-benar terguncang kali ini, tulisannya belum rampung, namun patah hati telah mengalahkan akal pikirannya yang sudah tak sinkron lagi.
Saat melewati Rasti dan Raka di depan tv, kedua Adiknya itu saling memberi kode satu sama lain, hal itu tertangkap kedua mata Anna.
"Kenapa???"
Raka dan Rasti serentak mengeleng.
"Raka, kenapa kamu tidak bilang sama Kakak, kalau Faiz itu," Anna tak sanggup melanjutkannya.
"Selingkuh." Ucap Rasti spontan. Seketika dia menutup mulutnya dengan sofa bantal.
"Nanti aku bilang, Kakak gak akan percaya, ya, sudah. Lama-lama Kakak akan tahu juga, buktinya, iyakan?."
Anna membenarkan kata Raka dalam hati.
"Ya sudah Kak, lupakan saja, Kakak orangnya baik, pasti dapat yang terbaik." Ucap Raka menghiburnya.
"Kakak pun juga merasa lega, Dek . Dari pada Kakak berharap lebih pada Faiz. Memang benar, tak ada tempat berharap yang baik selain Allah."
"Begitu dong, Kak . Itu namanya Anna Binar Bintang, masa tipe kayak Faiz bisa buat Kakak selinglung ini. Aduh! Selera Kakak itu kacang goreng di plastik." Ejek Raka padanya.
Lagi-lagi Raka mengingatkan tentang perkataan Faiz, bahwa dirinya wanita yang membosankan, monoton, flat.
Anna sedih bukan karna perselingkuhan Faiz, tapi dia merasa di rendahkan saja sebagai seorang perempuan, kata-kata Faiz bak tombak yang menghantamnya dari depan menembus belakang.
"Ya, Raka, Kamu benar. Kakak harus hidup lebih baik lagi." Lirihnya.
Tiba-tiba ada suara yang mengetuk pintu, di bukanya pintu itu oleh Rasti, ternyata Bu Minah tetangga sebelah.
"Anna, Uwa Nuri mu mana?" Tanyanya yang tergesa-gesa.
"Dia ke rumah bu RT, antar pesanan kue." Sahut raka.
"Aduh." Keluh Bu Minah.
"Kenapa sih, Bu?" Tanya Anna penasaran.
Bu Minah mengajak Anna duduk lalu bercerita.
__ADS_1
"Tadi ada tiga Orang yang tampilannya kayak di film-film, memakai jas hitam datang pake mobil mewah, dan anehnya dia bertanya-tanya tentang mendiang Kakek kalian, Uwa Lambau.
Rumahnya dimana? Tinggal sama siapa? Pokoknya tanya-tanya gitulah, setelah saya ceritakan semuanya, mereka langsung pergi." Tutur Bu Minah tanpa jeda.
"Siapa ya, Bu?" Tanya Anna.
Ketiga kakak beradik itu berpikir keras, siapa yang mencari tahu informasi tentang keluarga mereka, setaunya mereka tak punya saudara sekaya yang seperti diceritakan Bu Minah, namun ketiganya tak membuahkan hasil yang bisa di jadikan sasaran objek.
"Jangan bapak bupati kali, kan kakek kita pahlawan." Jawab Rasti polos.
"Ya kali, pejabat mau ngengintai masyarakat segitunya." Ketus Raka.
"Jangan-jangan t*roris,Kak." Rasti lagi-lagi menerka.
"Hu, jangan dzuozon dulu, bisa saja mereka itu orang sejarawan, mau tau kisah almarhum kakek kita, dan keluarganya." Anna berusaha bijak.
Bu Minah pun pamit meninggalkan mereka dengan daftar pertanyaan yang mengekelebat di kepala masing-masing.
Anna yang sudah lelah dengan masalah pribadinya tak mau ambil pusing dengan orang yang di ceritakan oleh Bu Minah tadi, dia beranjak memasuki kamarnya seperti kebiasaannya, menghempaskan diri di kasur, merentangkan kedua tangan cara alaminya untuk rileks.
"Jika aku mengatakan sulit, apakah aku termasuk hambamu yang lemah?" Keluhnya.
"Aku tidak tahu bagaimana rencana engkau, ya Allah. Tapi apapun itu jangan buat saya meragukan kebesaranmu, kemurahan hatimu." Gumamnya.
***************
"Terima kasih atas informasinya." Ucap Ji Yeong pada mata-matanya yang sudah memberikan informasi akurat tentang sahabat presdir hang,yaitu Pak Lambau.
Pria berbadan atletis itu menuju ke ruangan Dae Jung untuk memberikan informasi tersebut.
Dae Jung menanda tangani berkas dari Seketaris Yuna, melihat Yuna juga ada di ruangan yang sama, Ji Yeong menahan untuk tidak berucap, matanya yang sipit mencuri pandang pada gadis balasteran Korea-Indonesia itu.
Semakin terpesona saja melihat yuna yang semakin cantik, sayang yuna tak pernah melihat kehadiran Ji Yeong yang memendam rasa padanya.
"Sekertaris Ji. Ada apa?" Tanya Dae Jung.
Dae Jung mempersilahkan Yuna terlebih dahulu keluar dari ruangannya, gadis bertubuh seksi itu pamit, setalah hilang di balik pintu, Dae Jug baru memerintah Ji Yeong berkata.
"Dae Jung, sahabat Presdir Hang itu sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu."
__ADS_1
"Sudah ku duga." Dae Jung mengangguk.
"Tetapi, tempat tinggal keluarganya sudah kami temukan, anak pertamanya yang bernama Rafiah sudah meninggal, sisa anak bungsunya bernama Nuri yang belum menikah, dia tinggal bersama ketiga anak dari Rafiah. Tadi aku lupa namanya." Ji Yeong menjelaskan sambil mengingat-ingat nama-nama yang di lupa itu.
Dae Jung berharap tak ada perempuan yang bisa ia nikahi di keluarga itu, perjodohan tak ada sama sekali ia pikirkan dalam hidupnya yang hampir sempurna.
Keusilan Ji Yeong mulai kumat." Dae Jung, anak Pak Lambau yang bernama Nuri itu belum menikah."
"Lalu?" Tanya Dae Jung melotot.
"Dae Junga, bisa saja Nuri itu jodoh kamu hahahah .." Jawab Ji Yeong terkekeh.
"Ji Yeeong!" Pekiknya.
"Haa, Dae Junga, kamu belum melihat Nuri, bisa saja dia secantik gadis-gadis yang jatuh dari surga."
"Secantik apapun perempuan takkan bisa runtuhkan idealku." Balas Dae Jung.
"Tunggu, tunggu, dari dulu kamu berkata ideal, ideal, yang ideal itu seperti bagaimana? Aku saja dua puluh tahun mengenalmu belum tahu cara melihat gadis."
Dae Jung melototi Ji Yeong, lalu berucap." Pola pikir yang tak biasa."
Ji Yeong menyerngit, mengangkatalis sebelah cara dia berpikir serius.
"Seideal apa mau kamu? Seperti yang dulu pergi itu? Jika dia idela mana mungkin dia lari."
"Dia bisa saja lari, tapi dia tak tahu betapa bodohnya dia pergi tanpa alasan, itu hanya akan membuahkan penyesalan untuknya." Jawab Dae Jung mengingat moment memilukan itu.
"Jadi, mamu kenal dulu dengan Nuri, bisa saja dia punya pola pikir yang ideal itu?" Ji Yeoang belum puas jahilin sahabat sekaligus bosnya itu.
Tak tahan dengan Ji Yeong yang semakin usil.
"Keluar, keluar." Usirnya pada kaki tangannya itu.
"Kau sekarang lebih sensitif menjelang pernikahanmu. Nuri, Nuri." Setelah Ji Yeong ucap itu dia berlari keluar dari ruangan dae jung sambil terbahak-bahak.
Dae Jung mulai parno dengan candaan Ji Yeong, apakah memang dia harus menikahi Nuri? Tidak, dia harus memberi pengertian pada Presdir Hang. Batinnya.
Padahal mereka belum tahu, Nuri yang mereka berdua bahas sudah berusia empat puluh tujuh tahun, seorang wanita yang menyandang perawan tua sebab trauma setelah calon suaminya meninggal dalam kecelakaan.
__ADS_1
Di balik pintu ruangan Dae Jung yang tidak rapat, sepasang telingan mendengar percakapan mereka, merasa gelisah sebab kata perjodohan untuk Dae Jung terdengar olehnya. Dia ingin mulai mencari tahu tentang kebenaran itu.
********************