
'Aku jatuh cinta padamu'
itu keterangan Yuna pada Mister S di chatnya, wanita tinggi 170 cm itu benar-benar terbuai dengan kata-kata cinta dari Mister S, entah siapa nama lengkapnya seba dia memberikan hanya nama awalannya saja pad Yuna yaitu inisial S. Begitupun sebaliknya, Yuna memberikan inisial nama Y untuk nama samarannya, ini tahap pengenalan mereka, karakter yang akan apa adanya tanpa di buat oleh make up wanita pada umumnya atau pun stay cool pria pada khususnya.
Yuna masih belum puas bila percakapan message berakhir begitu saja.
-PERCAKAPAN BAHASA KOREA-
'Oppa, apa kamu sudah makan?'
'belum, banyak urusan di kantor,kamu sudah makan?
'Sudah, aku sudah makannya, oppa apakah sudah nyaman sama aku?'
Mister S menjawabnya,
'Seharusnya pria yang bertanya seperti itu, apa kau sudah nyaman menjalani hubungan ini bersamaku?'
'*Sangat, sangat nyaman. Ya Tuhan, aku baru kali mengenal pria yang baik, tidak membiarkan perempuan untuk lebih agresif.'
'Seharusnya pria seperti itu.Perempuan bagaimanapun bentuknya, harus di hargai dan di perlakukan dengan baik*.'
Membaca kata-kata Mister S, Yuna berjingkrak-jingkrak di kamarnya, baru kali ini dia diperlakukan special pada lelaki.
'*Oppa, kapan kita bisa bertemu?'
'Itu terserah kamu, kapan kamu siap bertemu*?'
Lagi-lagi Mister S menanyakan padanya, perlakuan Miter S benar-benar membuatnya jadi ratu idaman.
'Aku siap kapan saja, besok malam di taman, besok aku akan infokan taman itu.'
'Baiklah, semoga kita ketemu dengan keadaan baik.'
''Apapun yang terjadi, bisakah kita saling menerima satu sama lain?'
'Itu harus, aku sudah terlalu nyaman padamu' balasan Mister S
'*Aku mencintaimu Oppa.'
__ADS_1
'Aku juga mencintaimu*.'
Keduanya di rundung gelisah, esok malam akan jadi pertemuan pertama mereka, melihat langsung wajah yang penuh misteri selama seminggu menjalani hubungan via chatting, apakah mereka bisa menerima bila tifak sesuai ekspektasi? Tidak, pasti bisa. Fisik bukan lagi yang mereka cari, itu sudah jadi topik pembicaraan yang utama sering mereka bahas. Semua akan baik-baik saja, batin mereka menegaskan.
"Yuna, kamu harus tampil cantik besok. Sebelum berangkat, aku harus bertemu Anna. Meminta pendapat dari pakar cintaku." Gumam Yuna penuh kegelisahan.
****************
Di belahan bumi lainnya, Anna masih sibuk membaca berita-berita tentang kematian Chu Ha, berbagai media cetak menjadikan trending kematian bunuh diri paling tragis itu. Dari berbagai bukti yang di dapatkan oleh pada jenazah, tak ada kekerasan di tubuh Chu Ha, hanya bekas ciuman merah di leher gadis itu, seperti tanda ciuaman dari seorang pria.
Barang-barang Chu Ha masih lengkap, dia terjun bersama tas selempangnya, namun layar ponsel Chu Ha retak, padahal ponsel itu di biarkan dalam tas senyaman mungkin, meski itu retak, tidak mungkin separah yang terdapat di foto oleh media.
"Ha, memang benar kata Ayah Chu Ha, anaknya mungkin tidak bunuh diri." Gumam Anna memperhatikan keadaan Ayah Chu Ha yang memeluk jenazah Chu Ha yang di sensor.
Anna menghela nafas, ini memang sangat mencurigakan, alamat rumah mereka pun jadi sangkut paut terkahir tujuan Chu Ha. Sangat jelas tertulis di catatan kecil dari si penelpon ..?
Anna tahu, siapa yang harus ditanyakan terlebih dahulu. Pertama, dia akan mencari tahu siapa penelpon Chu Ha, mengawalinya siapa yang mencarikan dirinya guru private sebelum Jun Hyun.
Ada yang memutar knop pintu kamarnya, di baliknya ada Dae Jung, Anna langsung mematikan ponselnya, dia tak ingin suaminya curiga bila keterlibatan alamat rumah jadi pemicu Chu Ha bisa terbunuh.
"Oppa, kenapa kesini?" Tanyanya.
Dae Jung menganga, sangat terkejut dengan pertanyaan istrinya.
Anna mengeleng, dia menarik tangan Dae Jung untuk duduk di sampingnya.
"Oppa, yang mencarikan guru private itu siapa?"
"Itu semua ku serahkan pada Ji Yeong, memangnya kenapa? siapa lagi nama guru privatemu itu?"
"Jun Hyun."
"Ha, iya. Dia pandai juga mengajarimu, kamu sudah lumayan lancar beebahasa Korea, aku harus berterima kasih padanya bila bertemu, aku akan naikkan gajinya." Ujar Dae Jung.
Di dalam hati Anna, dia merencanakan untuk bertanya ke Sekertaris suaminya itu, semoga di Ji Yeong, dia bisa menemukan jawaban.
"Aku ingin membuatkanmu anak malam ini." Ujar Dae Jung sembari merapikan bantal-bantalnya.
"Ha? Apakah Aku seperti perempuan mesum?"
__ADS_1
"Kalau aku lihat, menurutku begitu."
Anna menepuk pundak Dae Jung, tidak terima dengan jawaban suaminya yang menggelikan itu. Dae Jung merangkul Anna dalam pelukannya, dia mencium dau telinga istrinya dengan lembut.
"Kamu mesum sama aku saja." Bisiknya.
Anna meluncurkan jari telunjuk ke hidung mancung Dae Jung, dia melihat ketampanan suaminya memang idaman semua wanita, termasuk Bora yang belum bisa bangkit dari Dae Jung. Pria yang hanya mungkin di dapatkan di drama atau novel, namun kini di depan matanya, merangkulnya, menjadikan dirinya istri yang sempurna.
"Kamu kenapa tertawa?" Tanya Dae Jung.
"Aku menangis, bukan tertawa." Ketus Anna.
Anna menusap air matanya, dia lagi-lagi jadi bahan usilan suaminya.
"Oppa, mau punya anak berapa?"
"Tujuh. Lima jagoan, dua princess."
"Itu banyak sekali, pemerintah tidak akan setuju bila melebihi dari dua anak."
"Apa hubungannya dengan mereka, Aku sanggup merberikan anak-anakku makan dan pendidikan, kenapa pemerintah yang jadi persoalan. Lagipula mau dua anak mereka tidak akan bisa mengenyangkan anak kita nanti."
Lagi-lagi jawaban cerdas Dae Jung buat Anna tergugu, suaminya memang sangat berpikir luas, tidak main-main bila dia mampu memimpin Korain Group salahsatu perusahaan terbaik di Asia.
Dae Jung mulai mencium bibir ranum Anna, birahinya sudah tak terbendung lagi, dia melepaskan kancing piyama Anna satu per satu, meraba seluruh area sensitif istrinya penuh kelembutan. Sementara Anna mulai terbakar oleh ransangan suaminya, tangan kirinya melingkari leher Dae Jung, tangan kanannya meraba dada Dae Jung yang bidang.
"Baca doa dulu." Protes Anna.
"Aku belum tahu bacaannya, sementara kamu yang bimbing doanya dulu."
Dae Jung mengikuti setiap kalimat doa yang di ucapkan Anna.
Dengan lembut Dae Jung menyusuri bagian bawah Anna yang sanga indah, bagian yang hanya fia seorang pernah memecahkan darah kesucian Anna di malam sebelum ini. Dae Jung memperhatikan tubuh polos Anna dari ujung kepala hingga ujung kaki, tentu sebagai perempuan yang masih awam dalam bercinta, Anna masih malumalu pada suaminya, dia memejamkan matanya, melihat tingkah Anna, Dae Jung tersenyum mungil.
"Aku suamimu, jangan malu." Bisik Dae Jung.
Dia mulai mencumbui bagian bawah Anna, mengul*mnya, menjil*tnya, suara desahan Anna buat dia begitu bersemangat melakukan pemanasan cinta itu. Dengusan Dae Jung makin liar, semua yang ada padabtubuh Anna memberikan aroma kenikmatan untuknya.
__ADS_1
Kehausan birahi selama lima tahun buat dia melampiaskannya semua pada istrinya, selama lkma tahun dia hanya bermain solo, bagi pria berprinsip sepertinya, melakukan hubungan intim bukan hanya di dasari nafsu, melainkan cinta yang terselip di dalamnya, pantang bagi dirinya meminta perempuan bayaran untuk melampiaskan hasrat kelelakiannya, karna itu salahsatu pesan Ibunya, Rifasya Salim.
Mereka melewati malam panjang itu hingga terlelap tidur, keindahan surga dunia telah mereka teguk dengan keayukuran, dan itu berkat cinta Yama dan Baek Hyeon yang di anugerahkan pada mereka berdua.