BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
MENYANYANGI ANNA


__ADS_3

Tiga hari berselang, Dae Jung masih sibuk menggantikan posisi Dae Song di kantor. Kakek Hang juga sudah mengumumkan di publik secara virtual memperkenalkan Kim Dae Song sebagai saudara kembar Dae Jung.


Anna duduk melihat siaran berita tv di Korea, fia melihat pemberitaan Dae Song yang tega do sembunyikan oleh Ayah kandungnya sendiri. Padahal, mereka tak pernha mengatakan itu pada media. Berarti ada yang membocorkan itu, apaakh itu perbuatan Ayah Ji Yeong? batin Anna menerka.


Dae Jung baru saja mandi. Dia melihat Anna dengan perut yang sudah membuncit. Dae Jung tersenyum miring. Dari belakang dia memeluk Anna tanpa mengenakan handuk.


"Hei , Ibu hamil, sini kamu." Pintanya.


Melihat itu Anna memasang wajah masam. Geli melihat Dae Jung bertingkah demikian.


"Pakai baju sana. Anak kita tidak suka liat itu."


Anna kembali berfokus pada tv. Dia melihat ada Bora dan Bibi Nami yang akan di wawancara oleh wartawan. Tentu Anna terkejut, melihat ibu dan anak itu.


"Apa yang mereka lakukan disana?" gumam Anna.


"Benarkah Dae Jung dan Dae Song itu anak kembar? atau ini hanya permainan Korain saja?"


tanya paparazi pada mereka.


Bibi Nami yang lengkap mengenakan kacamata hitam menjawab,


"Iya, benar. Mereka saudara kembar. Mereka sudah melakukan pelecehan pada anak saya. Dua cucu Hang itu melecehkan anak saya." Ujar Bibi Nami yang kehabisan akal lagi menjatuhkan Korain. Hingga di membuat skandal tentang pelecehan Dae Jung dan Dae Song pada Bora.


Bibi Nami tah henti memberikan keterangan tidak benar. Dae Jung geram di buat oleh ibu dari mantannya itu.


"Mereka buat skandal untuk kalian." Lirih Anna.


"Tenang sayang, pihak kita tidak akan tinggal diam. Kamu jangan pikirkan itu, ya. Ada kembar di dalam sini." Dae Jung menenangkan Anna.


Isteri siapa yang tak sakit hati bila suaminya di fitnah demikian? tentu Anna merasakan pula. Dae Jung mengambil ponselnya. Dia meminta Ji Yeong untuk menghubungi tim pengacara Korain.


"Matikan tv nya, temani aku olahraga, sudah lama aku tidak gym." Dae Jung menarik tangan Anna.


Saat ke lantai tiga rumah Korain, dia melihat ada Dae Song yang juga berada di sana. Tak ada cemburu lagi di hati keduanya. Semua sudah ikhlas menerima ketentuan itu. Pengumuman pengakuan sudah Kakek Hang lakukan, Dae Song sudah sepenuhnya menjadi anggota keluarga Korain yang sah.


"Kaliam mau disini? aku akan turun." Kata Dae Song yang tangannya masih terlilit perban.


Anna sesekali melirik kebelakang, melihat jejak bayangan kakak iparnya itu. Dia hanya bisa menghela nafas, tak ada yang bisa ia lakukan selain diam.


Dae Jung mulai treadmil.


"Kamu tidak terganggu dengan berita tadi?" tanya Anna pada Dae Jung.


Sembari berlari di tempat, Dae Jung menjawab dengan nafas yang tidak beraturan. "Aku sudah biasa dengan skandal. Dari mulai artis sampai di katakan gay dulu. Bukankah kamu salah satu yang menganggapku gay?"

__ADS_1


Anna tersenyum konyol. "Maaf, dulu karena aku belum mengetahui luar dalammu." Katanya seraya mencolek punggung suami.


"Auhk ! Awas nanti aku jatuh." Timpal Dae Jung.


Satu jam terlewati, Dae Jung sudah selesai. Tubuhnya cukup banyak mengeluarkan keringat. Ia rasa cukup untuk hari ini. Anna juga sudah lelah menunggunya. Anna memberikannya air mineral.


Setelah meneguk airnya, dia berkata pada Anna.


"Nanti malam, aku akan pergi ke suatu tempat bersama Ji Yeong."


"Kemana?"


"Ke suatu tempat. Ini misi sangat bahaya, kamu jangan keluar rumah, ya. Tetap di rumah, ada Pak Lee dan polisi akan menjaga rumah ini." Ujar Dae Jung mengusap pipi Anna.


Anna menggeleng. Sangat tidak setuju tindakan suaminya. " Aku tidak mau, aku takut kamu sampai kenapa-kenapa, pikirkan anak kita." Anna merengek tidak setuju.


Dae Jung menarik nafas. " Sayang, kita harus akhiri teror mereka. Aku takut ini tidak akan berakhir bila kita hanya diam saja. Aku bisa jaga diri."


Anna tidak mau mengerti. Dia tetap saja memaksa agar Dae Jung tidak melakukan itu. Anna memeluk suaminya, tak peduli keringat Dae Jung menempel di tubuhnya.


"Aku tidak mau, kamu batalkan, ya."


"Ini sudah rencana berhari-hari kami. Kamu tenang saja. Semua akan berjalan dengan baik. Aku akan kembali dengan keadaan baik." Kata Dae Jung mengusap perut Anna.


"Ayo, kita turun ke kamar, aku ingin mandi lagi."


Malam itu Dae Jung bersiap-siap, memakai rumpi anti peluru juga jaket yang menyediakan cadangan peleuru juga pistol. Dia tahu, ini akan jadi peperangan pertumpahan darah.


Di belakangnya ada Anna yang begitu gusar. Dia tak rela suaminya pergi melakukan hal berbahaya itu.


"Apa kamu tidak pernah memikirkan nasibku bersama anak-anak kalau ada terjadi sesuatu dengan kamu?" Anna lagi menyergahnya.


"Anna, doakan saja. Bukankah doa seorang isteri itu mujarab? doakan, semoga petualangan Ayah Ji Yeong berakhir malam ini." Ujar Dae Jung penuh ketenangan.


Dae Jung turun ke bawah, Anna juga ikut mengikuti langkahnya. Barisan keamanan Korain siap terbagi menjadi dua kubuh. Di rumah juga ada yang ikut bersama Dae Jung dan Ji Yeong. Mereka sudah memakai alat tempur yang lengkap.


"Pastikan jangan ada yang masuk di rumah ini. Juga Jangan ada yang keluar melewati pintu gerbang." Titah Dae Jung pada para keamanannya.


"Baik, Tuan."


"Bu Nas, apapun yang terjadi, jangan lepaskan Anna keluar dari rumah." Pintanya pada Bu Nas.


"Baik, Tuan. Saya akan mengawasi Nona Anna."


Dae Jung melihat ke atas lantai dua. Di sana ada Dae Song yang kebingungan dengan apa yang akan adiknya lakukan itu. Wajah Anna juga terlihat murung. Dia sungguh tidak ikhlas melepaskan Dae Jung pergi malam ini.

__ADS_1


""Ayo, kita berangkat sekarang." Imbuh Dae Jung segera ke mobil.


Ji Yeong dan barisan keamanan lainnya masuk ke mobil. Mereka akan menuju tempat persembunyiaan Chung Sang yang mereka dapatkan dari anggota Chung Sang yang tertangkap.


Kali ini bukan Kota Busan, melainkan sekitaran Mokdong, di Yangcheon. Perumahan bagi kalanhan menengah.


"Siapkan Helikopter kapan saja. Kita akan butuh nanti. Perasaanku tidak enak, Ji Yeong." Ujar Dae Jung.


"Jangan terlalu banyak menyerang nanti. Biarkan kami yang melakukannya.." Tangkas Ji Yeong.


Setiba di tempat itu. Rumah yang mereka tuju, no. 104 B, dari jauh terlihat banyak penjagaaan. Kelima mobil itu berhenti. Salahsatu Helikopter dengan dua pilot Korain mereka sudah ada di atas Hotel yang siap di panggil kapan saja.


Dae Junh berada di barisan kedua. Tak ada lagi endap-endapan. Mereka menyerang dengan menembak ke arah rumah sewaan Chung Sang itu.


Aada lebih sepuluh anggota Chung Sang di dalam, mereka melakukan perlawanan.


Satu tegelatak, di tembak oleh kubuh Korain. Ada dinatara kubuh Korain yang kakinya puka ikut tertembak. Pintu pagar rumah itu di dobrak oleh Kubuh Karain, Dae Junh dan Ji Yeong lebih leluasa masuk dengan sesekali menghidari peluru yang kapan saja bisa mencabut nyawa mereka.


Suara tembakan begitu mengcekam di Mokdong. Warga di sekitar rumah itu mengunci diri di dalam rumah masing-masing.


Semua anggota Chung Sang tergeletak kesakitan. Para keamanan Korain mengawasi mereka, meski sebagian dari pengabdi Korain itu ada yang mengalami luka. Sementara Dae Jung dan Ji Yeong masuk ke dalam rumah.


Mengelilingi rumah yang sangat besar itu. Dae Jung menemukan ibu kandung Ji Yeong di ikat di kursi.


"Bibi Ling, " Dae Jung melepas ikatan itu dengan pisau yang ia kantongi.


Ji Yeong bergegas memeluk ibunya.


"Kalian kenapa kemari?" tanya Bibi Ling yang nafasnya belum stabil.


"Kenapa tidak ada Paman disini?" tanya Dae Jung bingung.


"Mereka akan menyerang Korain malam ini. Mereka akan bom rumah Korain. Kalian di kelabui." Jawab Bibi Ling ketakutan.


Dae Jung dan Ji Yeong saling bertatapan, ekspresi mereka panik.


"Nami juga terlibat dengan ini. Kalian pulang sekarang."


Ji Yeong memanggil Helikopter itu agar segera menjemput mereka. Dae Jung menelpon Pak Lee.


"Pak Lee, kalian semua keluar dari rumah itu. Menyingkirlah dari rumah korain sejauh mungkin. Bawa Kakek, Anna, dan semuanya keluar dari rumah sekarang juga. Rumah akan di ledakkan oleh Chung Sang."


Pak Lee bergetar. Dia sebagai penanggung jawab akan melindungi seluruh nyawa di rumah korain.


Pak Lee melihat banyak wartawan di luar pagar rumah Korain. Ini adalah salahsatu rencana Chung Sang dan Bibi Nami membuat skandal agar menjebak keluarga Korain.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Sahut Pak Lee.


__ADS_2