
Kim Dae Jung, Sek Ji Yeong dan Sekertaris Yuna tiba di Korea, mereka di sambut oleh Kepala Han serta pelayan yang memberi hormat akan kedatangan bos muda mereka.
Dae Jung yang masih jet lag tak memilih istirahat, dia tetap harus pada rencana sebelumnya, bertemu dengan Presdir Senior.
D iatas tanah yang seluas dua hektar itu berdiri dua bangunan yang menyerupai istana ke presidenan, lapangan golf yang terpampang, rumput hijaunya diselimuti sisa salju yang sudah hampir habis dileleh oleh matahari, danau yang mehimpit yang luas terawat.
Presdir Hang berada di rumah kacanya, di usia seperti sekarang tak menghilangkan semangatnya untuk bercocok tanam, ini salahsatu cara menikmati hidup setelah pensiun bertahun-tahun yang lalu.
"Kenapa berdiri saja?" Tanya pria tua itu dengan berbahasa Korea, seakan sudah tau kehadiran Dae Jung di dekatnya.
Dae Jung mendekat padanya, mereka memulai percakapan itu dengan berbahasa Korea,
"Kau berulah lagi?" Tanyanya yang masih membersihkan dedaunan kering di sela pot.
Dae Jung coba memberanikan diri. "Kakek, aku ingin meminta penjelasan."
"Tentang tanah di mamali itu?" Kakeknya sudah mengetahui apa yang terjadi pada Korain di Indonesia. perihal sengketa tanah yang buat cucunya itu menjadi sorotan.
Dae Jung gamang, Kakeknya menghadapkan wajah ke cucunya yang menunduk.
"Jangan pernah prioritaskan ambisi dibanding naluri kemanusiaanmu." Ucap Presdir Hang.
"Kakek, saya hanya ingin tahu, kenapa mereka mengatakan itu sudah hak mereka, padahal itu masuk daftar kepemilikan Korain."
Kakek Hang Gang San menghela nafas.
"Dae Junga, kamu hanya melihat dari apa yang sekarang terlihat tanpa mengetahui kisah perjuangan kami. Bagaimana awal mula Korain terbentuk menjadi perusahaan besar."
Kakek Hang membuang jauh pandangannya ke arah danau, matanya menatap kosong, membayangkan sesuatu yang di masa lampau.
"Baiklah, saatnya kamu tahu, lagi pula ini wajib kamu ketahui." Tuturnya.
__ADS_1
Dae Jung pun duduk disamping kakeknya. Pria dengan garis keriput di pipinya itu mulai bercerita tentang awal mula Korain.
-"Saat peperangan terjadi 1942. Kakak kakek yang bernama Hang Baek Hyeon terpilih oleh tentara Jepang untuk di kirim ke Indonesia menjadi sekutu. Dia pergi dengan perasaan ikhlas, meninggalkan orangtua kami, Desanya, Negaranya.
Namun kakek tidak mengetahui apa yang terjadi sehingga dia bisa menjadi seorang muslim, dan ingin menikahi wanita Indonesia yang bernama Yama.
Ayah dan Ibuku selalu bertanya dan ingin mengetahui keadaan Hang Baek Hyeon, sehingga di tahun 1963, di desa kami sudah di landa paceklik dan kelaparan, kakek ke Indonesia mencari Hang Baek Hyeon, namun tak kutemukan sosok itu lagi. Rupanya sebelum itu Baek Hyeon sudah menikahi gadis bernama Yama itu. Kakek mencari Yama, tetapi kakek hanya mendapati namanya di batu nisan, cintanya pada Baek Hyeon sangat tulus sehingga Yama selalu menanti Baek Hyeon, setiap waktu, berdoa agar suaminya pulang dengan selamat dalam peperangan. Dia tak mempercayai Baek Hyeon meninggal bila tak melihat langsung jenazahnya.
Hingga akhir hayatnya, Yama tetap menanti Baek Hyeon, disaat itu kakek masih tak punya apa-apa, hidup hanya numpang di rumah Yama, adik Yama yang bernama Pak Lambau menemani kakek memulai bangkit dari kemiskinan.
Di sanalah awal mulanya kakek merintis usaha membuat pabrik kayu lapis, kakek tak punya modal apa-apa hanya bermodalkan kepiawaian mengolah bisnis, Pak Lambau yang kakak Yama, seorang yang sangat sederhana, tulus, meminjam tanahnya pada kakek untuk di gadaikan agar kakek bisa membuat pabrik besar, dan sekarang menjadi Korain yang kamu kelola.
Karna ikatan hubungan keluarga itu tak ingin terputus, Kakek berjanji akan menjadikan hubungan ini menjadi keluarga yang lebih erat lagi.
anak atau cucu kami akan kami nikahkan, namun Ayahmu pada saat itu menolak, karna dia sudah memilih Ibumu.
Kakek yang kecewa pada Ayahmu merasa malu lalu kembali ke Korea dengan membawa janji yang belum kakek tepati hingga sekarang ini." Kenangnya.
Dae Jung yang menyimak cerita kakeknya mengahsilkan suatu pertanyaan, apakah janji kakeknya itu tetap dilanjutkan atau malah akan ingkar?
Tiba-tiba Kakek Hang meminta pada Dae Jung,
"Dae Jung, apakah kamu mau membantu kakek untuk memenuhi janji itu?"
Dae Jung terperanjat, sontak dia berdiri dengan mimik wajah serius.
"Dae Jung, kakek sudah di kecewakan oleh Ayahmu."
Dae Jung masih dalam kebisuannya.
"Tapi bisakah kamu mengantarkan kakek ke tempat Pak Lambau?." Pinta Presdir Hang yang bernafas berat.
__ADS_1
Sebab tak tega, Dae Jung yang sedari tadi dalam kebisuan mengangguk, isyarat dia bersedia mengantar Kakek Hang ke Indonesia, tempat Pak Lambau berada.
************
Dae Jung berdiri di balkon kamarnya, melihat suasana Seoul yang tak pernah sepi dari hiruk pikuk, matanya di terpa angin malam yang masih menyisakan musim dingin yang telah berlalu.
Pikirannya saat ini carut-marut, Korain yang tidak sesuai dengan apa yang di rencanakan, kisah cinta kakak dari kakeknya yang memilukan, dan janji kakeknya pada keluarga Yama hingga semua itu berbuntut pada dirinya yang menjadi tumpuan untuk mewujudkan semua harapan kakek tercinta.
"Dae Jung." Suara Ji Yeong yang sudah ada di sampingnya.
Ji Yeong sudah mengetahui itu pula. Dae Jung hang selalu menceritakan semua pada sahabat sekaligus sekertarisnya itu hingga masalah ini pun tak di lewatkan olehnya untuk Ji Yeong tahu.
"Aku harus bagaimana ?" Tanyanya pada Ji Yeong dengan lirih.
"Dae Jung, aku juga tidak tahu harus bagaimana. Biarkan dulu waktu yang menjawab semua itu." Ji Yeong berusaha bijak.
Karna tak ingin Dae Jung berlarut, dia berusaha menghiburnya.
"Tapi Dae Jung, Kakek Hang Baek Hyeon itu pria sejati, pahlawan cinta sejati juga, rela berkorban demi cintanya, aku kira cinta sejati itu hanya dalam cerita novel dan dongeng, ternyata memang real, itu bagus buat kamu jalani juga." Candanya dengan harapan Dae Jung bisa terpancing.
"Maksudmu dengan menikahi anak atau cucu Pak Lambau?" Tanya Dae Jung dengan nada kesal.
"Iya, Dae Jung, cinta itu tidak ada yang tau, bisa saja itu jodoh kamu, mungkin itu yang bisa buat kamu bangkit dari Bora."
Seketika wajah Dae Jung memerah mendengar nama bora terucap dari mulut sahabatnya itu, Ji Yeong yang lagi-lagi keceplosan menangkup kedua tangannya untuk menutup mulut.
"Astaga, aku minta maaf Dae Jung, Hyung (kakak) tersayang." Ucapnya dengan memelas.
Dae Jung sangat sensitif bila nama perempuan itu di sebut di hadapannya, sebab itu hanya sebuah kenangan pahit membawa luka hingga membekas sampai sekarang ini.
Bora adalah nama yang harus ia lupakan.
__ADS_1