
Sepulang dari kantor, Dae Jung menjemput Anna. Sore itu dia sudah menjadwalkan ke dokter kandungan langganan mendiang ibunya. Dae Jung menunggu di mobil, kali ini dia tak ingin memakai jasa Pak Su, namun di belakang mereka akan tetap ada mobil khusus bagi bodyguard yang menjaganya.
"Oppa," dari teras Anna menyapanya, wajah manisnya sungguh mempesona yang dihiasi hijab berwarna mint.:
"Ayo masuk,"
Anna dudui di jok depan pula, Dae Jung memasangkang sabuk pengaman pada istrinya, hal inilah yang membuat dia selalu istimewa dimata Anna, hal kecil sekalipun Dae Jung sangat memperhatikannya secara detil. Sungguh, pria yang nyaris sempurna, tak ada kurang di diri Dae Jung, batin Anna.
"Terima kasih," ucap Anna.
"Hem.." Dae Jung tersenyum mengusap kepala Anna.
Dae Jung melajukan mobilnya ke rumah sakit bersalin tempatnya dulu dilahirkan. Mobil ferrari berwarna putih itu melaju tenang. Wajah tampan Dae Jung tak henti tersenyum bahagia.Dia tak sabar mendengar penuturan dokter tentang calon anaknya.
Sebagai pria yang lama sendiri, di usia 34 tahun, tentu dia sangat merindukan keturunan, dan beberapa bulan lagi, impiannya terwujud, berkat kehadiran bidadarinya, Anna.
"Dari tadi aku lihat oppa tersenyum," imbuh Anna mengamati mimik wajah suaminya.
"Tentu saja aku tersenyum, aku sangat bahagia. Ini anak pertama kita."Sahut Dae Jung yang masih mengfokuskan mata ke arah jalan.
"Tapi aku gerogi, mungkin karna ini pertama, ya?"
"Nanti kalau sama Dokter Yee Rim, bilang semua keluhan,dan tips selama kehamilan. Kita akan sama-sama mendengarnya, buat bekal selama kamu hamil." Tujas Dae Jung.
20 menit waktu tersita oleh perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit bersalin para istri konglomerat. Menunggu sesuai nomor antrian, Dae Jung dan Anna harus mengikuti prosedur. Mata Ibu-ibu yang sedang duduk pula di barisan kursi antrian tak henti memuji ketampanan Dae Jung, kharismanya terpancar, kulitnya yang putih bersih sangat kontras dengan kemeja coklatnya, melelehkan mata kaum perempuan.
Anna senyum-senyum masam melihat suaminya jadi perhatian sore itu. "Ya Allah, apa mereka tidak pernah melihat orang tampan sebelumnya?" batin Anna.
Tidak lama kemudian, giliran mereka yang harus menemui Dokter Yee Rim, dokter yang seusia Ibu Dae Jung.
"PERCAKAPAN BAHASA KOREA-
"Wah, pasangan muslim." Ucap Dokter Yee Rim penih keramahan.
__ADS_1
Sesuai permintaan mereka, Anna akan melakukan pemeriksaan USG juga konsultasi kesehatan kandungannya.
"Kamu Kim Dae Jung?" tanya Dokter Yee Rim yang melihat data-data Dae diri dari calon Ayah si bayi tersebut.
"Ya, Dokter."
"Kau sudah akan memiliki anak, padahal kau juga dulu diruangan ino diperiksa Ibu Rifasya Salim." Ujar Dokter Yee Rim yang juga sempat akrab dengan ibu Dae Jung.
Salah satu perawat Dokter Yee Rim mulai memberikan gel pada perut Anna. Wajah tegang sangat terlihat di pasangan itu. Dokter Yee Rim mulai memainkan alat pendeteksi di perut Anna bagian bawah. Gelombang frekuensi mulai pula berbunyi. Mata Dae Jung seakan tak ingin berkedip, tak ingin melewatkan moment itu sedetik pun.
"Usia kehamilan sudah 7 minggu 3 hari. Detak jantunya normal." Ujar Dokter Yee Rim memperhatikan layar 4D tersebut.
"Belum bisa tahu jenin kelaminnya, Dok?" tanya Dae Jung.
"Hm, belum bisa disimpulakan, tapi kalau dilihat dari letaknya, ini sepertinya laki-laki, tapi tunggu dulu ..." Dokter Yee Rim melihat sesuatu lagi.
Cukup lama Dokter berkaca mata itu mendeteksi perut Anna, lalu akhirnya dia menyimpulkan sesuatu yang diyakini oleh penglihatannya.
"Ada dua jabang bayi." Imbuhnya.
"Nona Anna mengandung bayi kembar."
Dae Jung langsung memotret layar 4D itu, puluhan kali gambar calon bayinya suara jepretan kameranya berpacu dengan detak jantung kedua bayinya yang menggema di ruangan Obgyn mewah itu.
"Sepertinya, karna faktor genetik ayahnya yang juga kembar." Tukas Dokter Yee Rim.
"Ha? maksuk dokter?" tanya Anna bingung.
"Mengikuti Ayahnya, Kim Dae Jung juga kembar." Sahut Dokter Yee Rim yang masih sibuk mencatat catatan kesehatan anak bayi mereka.
"Saya yang kembar?" Dae Jung bertanya untuk memastikan lagi.
"Iya, kamu anak kembar, kamu tidak tahu? atau tidak diberi tahu?" Dokter Yee Rim juga ikut bingung.
__ADS_1
Dae Jung memalingkan wajah ke Anna, dia mengeleng pertanda dia pun juga tak tahu hal itu.
"Ibu kamu hamil anak kembar, dari awal kehamilan sampai melahirkan, saya yang menangani kalian. Dua bayi laki-laki lahir pada malam itu." Tutur Dokter Yee Rim.
"Tapi, saya tidak diberitahu itu, Dokter .." Dae Jung melirih pelan.
Dokter Yee Rim tersenyum, " Mungkin orangtuamu punya alasan, kakakmu itu memang diagnosa lemah jantung sejak lahir, setelah melahirkan ibumu berpamitan kembali ke indonesia sementara, aku mendengar kabar dari sesama teman dokter, kakakmu meninggal diusia tiga bulan." Imbuh Dokter Yee Rim yang sempat menangani bayi kembar Rifasaya Salim kala itu.
"Kau sungguh tidak mengetahuinya?" tanya Dokter Yee Rim.
"Tidak, Dokter." Jawab Dae Jung.
"Itu mungkin karna kalian masoh bayi, dan ibumu sangat kehilangan, makanya dia tidak ingin mengungkit kakakmu yang sudah meninggal itu."
"Ohw ..." Dae Jung mengangguk namun dia tetap saja shock. Dia tak menyangka dia terlahir sebagai anak kembar. Tapi lemah jantung? bukankah dulu dia yang diagnosa lemah jantung hingha usia satu tahun? atau mereka yang salah diagnosa kala itu. Entahlah, Dae Jung kembali berfokus pada calon bayi kembarnya.
"Nona Anna, ada keluhan?" tanya Dokter Yee Rim.
"Cuma mual dipagi hari, dan sedikit lemas bila sore hari, Dok." Sahut Anna yang juga masih hock mendengar status Dae Jung yang terlahir sebagai anak kembar.
"Banyak makan buah, sayuran hijau, dan jangan terlalu banyak berpikir. Ini akan ada vitamin yang akan Nona Anna minum setiap hari." Dokter Yee Rim mencatat semua di kertas resepnya.
Dae Jung mendengar seksama apa saja yang pantang selama hamil, dan apa saja yang ahrus dilakukan saat hamil. Karna sebagai Calon Ibu, Anna harus lebih waspada, kondisi rawan dengan ketidaktahuan bisa saja jadi bumerang baginya dan kedua bayi mereka.
Setelah semua selesai, obat pun sudah mereka tebus, Dae Jung dan Anna kembali masuk ke dalam mobil.
"Anak kita kembar," imbuh Dae Jung.
"Iya, dan ternyata itu mengikuti kamu."
Dae Jung menghela nafas.
"Aku juga kaget mendengar penjelasan Dokter Yee Rim, aku pikir yang dikatakan semua itu benar, karna dia memang dokter yang menangani Ibuku saat mengandungku."
__ADS_1
"Sudahlah, jagan pikirkan itu, kata dokter jangan pikirkan hal yang tidak penting. Sebelum pulang, aku akan mengajakmu makan, dan jalan-jalan." Lanjut Dae Jung yang menyalakan mobilnya.
Dea Jung akan membawa Anna le Itaewon street, disana dia akan memanjakan Anna dengan hidangan lezat dan berbagai hiburan lainnya.