
Malam makin larut, namun suaminya tak kunjung pulang. Seperti biasa, Anna masih menunggu di ruang tamu, sejak sholat isya tadi tangannya mas'h setia memutar tasbih, dia tak henti mungucap asma Allah mendoakan agar mereka bisa meleqati ujian demi ujian ini.
Bu Nas yang melihatnya merasa khawatir, selama pulang dari Maldives, Anna belum juga memakan apapun, Bu Nas khawatir bila kondisi janin yang di kandung berdampak dengan musibah yang di alami kedua orangtuanya.
"Nona makan dulu," pinta Bu Nas.
Anna mengeleng, dia tak menoleh sedikit pun ke Bu Nas.
"Bayi Nona pasti juga sudah lapar." Ujar Bu Nas.
"Aku tunggu Tuan Kim saja Bu Nas, aku tahu dia belum makan, dia tidak bisa juga makan di kondisi seperti ini."
Mata Anna berkaca-kaca, dia melihat foto pernikahannya bersama Dae Jung, senyum suaminya begitu ceria kala itu, padahal saat pesta pernikahan, keduanya terpaksa hingga membuat perjanjian yang tak masuk akal.
"Oh, Dae Jung .. hhuhuhuuuu ..." Anna tersedu-sedu bila memikirkan masalah suaminya yang bertubi-tubi.
Bu Nas mengusap pundak Anna, di luar sudah ada mobil yang terparkir, itu Dae Jung yang datang bersama Ji Yeong, wajah mereka sangat lelah, tak ada senyum lagi yang terlihat seperti di Maldives kemarin.
Anna secepat kilat menghapus air matanya, tak ingin bila kesedihannya di ketahui kedua orang terdekatnya itu.
"Kalian sudah makan? Bu Nas sudah menyiapkan makan malam." Ujar Anna.
"Saya belum lapar Anna, nanti aku pinta Bu Nas mengantarkannya bila aku mau makan, aku ke kamar dulu." Ji Yeong berlalu ke sebelah rumah Presdir Hang.
Dae Jung menghampirinya, pria itu berusaha menghilangkan kesedihannya malam ini agar tidak meresahkan hati istrinya yang sedang hamil.
"Kamu sudah makan?" Tanya Anna.
"Kita makan di kamar saja," pinta Dae Jung.
"Bu Nas, antarkan makan malam kami ke kamar." Titah Anna.
Dia menyusul Dae Jung naik ke menyusuri tangga satu per satu, melihat istrinya yang mengikutinya dari belakang, Dae Jung meraih tangan Anna untuk di genggam.
"Aku pegang, nanti kamu jatuh." Kata Dae Jung.
Disaat seperti ini, hal-hal kecil pun masih diperhatikan oleh suaminya.
Di kamar Dae Jung melepas kemejanya, Anna membantu membuka kancing kemeja baby blue itu. Pria itu berlalu ke kamar mandi, Anna merasa Dae Jung sungguh membuatnya frustasi, terlihat tak ada senyum dan canda yang biasa mereka lakoni setiap hari.
__ADS_1
Sembari menunggu Dae Jung, Anna menyiapkan piyama untuk suaminya. Dia tak henti menghela nafas, sesak di dadanya juga ikut tertampung malam ini.
"Apa kau sudah makan?" Dae Jung kluar dari kamar mandi yang terlilit handuk di pinggangnya.
"Aku menunggumu, kita makan bersama."
Dae Jung melempar senyum, dia juga tahu istrinya sedang khawatir pada dirinya.
"Anna, biar semua aku yang pikirkan, kamu tidak usah membebani diri, tugasmu jaga anak kita supaya dia tumbuh dengan baik." Tangkas Dae Jung.
Pria itu ke balkon, sepoi angin mengibas wajahnya, dia memandangi malam pyeochandong tak seindah malam-malam sebelumnya, baginya tak ada keindahan, tak ada sinar bulan yang merekah, tak ada bintang yang memberikan cahaya kecilnya di hitamnya langit.
Anna pun ikut menatap langit berselimut kegelapan,
"Apa yang kamu lihat dilangit tanpa bintang?" Tanya Anna.
"Aku tidak mencari bintang, Aku ingin bertanya pada kedua orangtuanku bila dia melihatku dari atas sana."
"Apa yang kamu tanyakan?"
"Kenapa mereka memilih menjadikanku sebagai anaknya?" Sahut Dae Jung.
"Kenapa aku harus jadi anak dari ayahku? kenapa semua seperti karma yang harus aku dapatkan menjadi anaknya?" Lanjutnya kembali.
"Jika bisa memilih, aku hanya ingin dilahirkan dari keluarga yang biasa-biasa, tak perlu jadi pewaris Korain, cukup jadi anak oleh kedua orangtuanya yang membimbingnya setiap saat."
Anna tergugu, dia masih belum punya kalimat untuk penawar keluhan Dae Jung.
"Apa aku salah Anna, bila mengeluh seperti ini? sejarah kelam ayahku bagai bom waktu yang tersembunyi di hidupku, dia akan meledakkan diri secara tiba-tiba."
"Jangan berkata seperti itu, kamu tidak.sendiri, ada kami yang selalu bersamamu." Imbuh Anna mengusap pundaknya.
"Ibuku selalu bilang, jadilah pria kuat, jangan pernah tampakkan kesedihanmu, tapi ..huhhuhuhhudghu .." Tangisan Dae Jung tak dapat di bendung lagi, dia menumpahkannya di kedua tangan yang ia silangkan menutuli wajahnya, dia tak ingin kelemahannya di lihat oleh Anna.
Mata Anna pun ikut berkaca-kaca, untuk pertama kalinya dia melihat Kim Dae Jung menangis seperti kehilangan arah.
Istri mana yang kuat melihat suaminya tertimpa kemalangan? tentu bukan dirinya, Dae Jung adalah kekuatannya, juga sebagian kelemahannya, dia Ayah dari calon Anaknya yang berusaha setiap saat memberikan dirinya yang terbaik.
Dae Jung yang di kenal sangat dingin dan misterius ternyata menyimpan luka batin yang mendalam, hidup memang tak ada yang sempurna, Kim Dae Jung di mata publik adalah sosok pria tampan nan rupawan, sama sekalitak memiliki cacat sosial, kehidupan mewahnya terkadang buat orang lain iri bila melihat secara tak kasat mata, namun di balik itu semua, ada luka yang terpendam, ada ketakutan yang tak bisa ia ungkapkan, ada beban berat di pundaknya berpuluh-puluh tahun.
__ADS_1
"Oppa .." Lirih Anna.
Dae Jung menenggelamkan wajahnya di pundak Anna, air matanya masih mengalir, suara sesegukan pria sejati terdengar menyedihkan malam itu, bukan karna kekalahan saat peperangan, melaikan seorang raja yang kehilangan nyawa ribuan rakyatnya.
"Huhuuhhu Anna, aku lelah seperti ini .." Keluh Dae Jung.
"Kadang lelah itu memang datang, tapi ingatlah sayang, setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan dibaliknya. Kamu sudah berusaha yang terbaik, tetapi kekuatan kita kadang di uji lagi."
"Anna .." Suara lirihan Dae Jung.
"Ada aku yang selalu bersamamu, kamu tidak sendiri menghadapinya, kita akan sama-sama melewati ini."
"Huhuhuhuhu .. Aku ingin Ibuku tahu, aku membutuhkannya.. aku tidak bisa kuat tanpa dia .." Dae Jung berlirih memanggil nama ibunya.
Duka lara Dae Jung membatin pada Anna, kini ia tahu betapa traumanya Dae Jung saat kehilangan Ibunya, dia bak seperti berjalan sendiri di lembah yang sepi, diam dalam langkah yang gelap.
"Kamu ingat, kisah cinta Yama dan Baek Hyeon, meski mereka tahu akan kehilangan satu sama lain, tapi mereka yakin akan mampu mengahadapinya .." Imbuh Anna mengingatkan sejarah cinta yang mereka teruskan.
Dae Jung memeluk erat Anna, dia menangis sejadi-jadinya, seperti anak yang meluapkan kesedihan pada ibunya, meminta kekuatan pada ibunya.
"Aku lelah berpura-pura tegar, Anna .Huhuhuuhu..."
Anna terenyuh, suaminya sungguh terpukul mendapat musibah seperti ini. Entah cara apa yang bisa membuat pria tampan itu kembali teguh menghadapi tantangan, Anna pun tak tahu, yang jelas dia akan bersama Dae Jung hinggat nafas terakhir.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Anna ..kamu satun-satunya pengganti Ibuku." Dae Jung memohon padanya.
"Aku tidak akan pria hebat seperti kamu, itu kebodohan namanya."
Di luar kamar, ada yang mengetuk pintu kamar mereka, itu pasti Bu Nas dan pelayan membawakan makan malam mereka. Dae Jung menghapus air matanya di hijab Anna, dia memperbaiki raut wajahnya, berusaha melenyapkan kepiluan yang hanya ingin ia tampilkan pada istrinya seorang.
Anna beranjak membuka pintu, dibalik pintu, ada Bu Nas dan kedua pelayan mendorong troli makanan untuk mereka.
"Makanannya enak-enak, hmmm .." Anna berupaya ceria di depan mereka.
Di kamar yang berbeda, ada Ji Yeong yang menatao alamat yang di berikan Jun Hyun padanya, menelaah pula setiap kalimat Jun Yun yang berkata "Musuhmu ada di sekitarmu".
Ji Yeong tak habis pikir, mengapa mereka sebegitu dendamnya pada Korain hingga Dae Jung jadi sasaran lunak bagi pembalasan mereka.
"Busan? siapa lawan Korain disana?" Ji Yeong bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1