
🙏🙏🙏 Buat readers setiaku. Ini sudah menuju empat bab terakhir. Maaf jika kalian akan sedih.
***********
"Utamakan jaga Anna, Pak Lee."
"Baik,Tuan."
Dae Jung menutup telponnya. Pak Lee mengarahkan semua pelayan untuk menjemput Anna dan Kakek Hang. Bu Nas dan Yuna menunggu di teras. Puluhan wartawan menunggu mereka di pintu gerbang.
Pak Lee membawa Anna dan Kakek Hang. Saat itu tak ada mobil yang tersisa di Korain. Sehingga pak Lee menuntun mereka keluar dari rumah berjalan kaki.
"Pak Lee, kenapa kita harus keluar?" tanya Anna.
"Ini perintah Tuan Kim, Nona. Maaf Nona anda kami haris dekap melewati kerumunan wartawan itu." Ujar Pak Lee.
"Kalian Lindungi Nona Anna." Titah pak Lee berusaha melindung Anna karena dia tahu, isteri Dae Jung itu sasaran kejahatan musuh.
"Apa yang terjadi?" tanya kakek Hang kebingungan.
"Tuan Hang, kita harus keluar menjauh dari rumah Korain, Chung Sang ingin meledakkan rumah ini." Ujar Pak Lee.
Anna sudah di apit ketiga pengawal. Begitu pun semua anggota Korain. Mereka melewati kerumunan wartawan itu dengan berdesak-sakan, tangan Bu Nas menggenggam tangan Anna begitu erat. Meloloskan diri dari awak media yang meminta mereka mengucap pendapat tentang skandal si kembar Korain. Polisi juga Pyoenchamdong mengitari keluarga Korain.
Sementara Dae Song melindungi kakeknya yang gontai berjalan. "Ayo kakek,"
Mereka semua menjauh dari rumah Korain. Tepat di sebuah taman kubuh korain berkumpul.
"Kenala Chung Sang segila ini !!" Kecam Kakek Hang.
Dae Song mengepal, Anna diam tak berdaya. Pikirannya terbagi dua dengan keselamatan Dae Jung. Wartawan tak henti mengabadikan keluarga Korain yang terlihat panik itu.
__ADS_1
"Kamu tetap disini." Kata Dae Song pada Anna.
Anna mengangguk pelan. Dia di peluk Yuna dari belakang. Sekertaris Korain itu gemetar. "Kamu jangan panik." Bisik Anna pada Yuna.
'Aku tahu, ini permainan ayah. Tapi aku akan akhiri ini dengan caraku.' Lirih Dae Song.
Sementara di tempat yang berbeda ada Dae Jung dan Ji Yeong naik ke atas helikopter, mereka bergegas menuju ke Pyeongchamdong. Suara gemuru helikopter korain menggema di atas langit gelap. Pengawal korain kembali pula bersama bibi Ling dengan mobil.
Ji Yeong menilik semua yang terjadi belakangan ini. Dia tahu Ayahnya sangat menginginkan Korain, termasuk rumah Korain. Tidak mungkin ayahnya meledakkan begitu saja.
"Ini permainan Dae Jung ..ayahku tidak mungkin meledakkan rumah." Lirih Ji Yeong menatap Dae Jung.
"Permainan?" tanya Dae Jung bingung.
"Rumah itu tidak mungkin di ledakkan."
Dae Jung berpikir sejenak, ingatannya kembali pada tembakan Dae Song dan skandal yang di buat bibi Nami. Semua ini sudah di rencanakan oleh Chung Sang dan Nami. Membuat Dae Jung da Ji Yeong ke rumah tempat bibi Ling di sekap, lalu mengelabui bibi Ling ingin meledakkan korain malam ini. Mengundang wartawan datang ke rumah Korain, ini agar mereka semua tak di kenali dalam kerumunan puluhan wartawan tersebut.
"Kapter Yer, kita harus segera kembali ke rumah." Ucap Ji Yoeng pada kapten pilot korain.
Dae Jung mengingat tentang firasat Anna. Akan ada sesuatu buruk yang terjadi malam ini. Dia menyesali tak mendengar kata hati isterinya, "Keluargaku dalam bahaya." Lirih Dae Jung.
Ji Yeong menyiapkan diri untuk menembak siapa saja musuh Korain, termasuk ayahnya. Ini sudah di luar batas kemanusiaan. Jika dia harus menjadi anak durhaka demi korain, baginya tak apa, menggugurkan satu nyawa manusia yang buruk lebih baik demi menjaga puluhan nyawa manusia yang berhati mulia.
"Kita memang harus akhiri petualang Chung Sang." Kata Dae Jung.
Di Pyonchamdong, keluarga korain masih menunggu arahan lagi dari Pak Lee. Mereka di kerumuni beberpaa pengawal dan polisi. Wartawan makin banyak datang yang meliput. Yuna dan Bu Nas duduk di kursi taman. Sedang Anna berdiri di samping Dae Song.
Dae Song menjaga Anna dan Kakek Hang. Dia begitu geram dengan tingkah ayah angkatnga itu, meneroor keluarganya tak henti-henti.
"Pak Lee, fokuskan jaga ke kakek dan Anna." Kata Dae Song.
__ADS_1
"Dae Song, kita harus ke Indonesia saja." Ujar kakek Hang yang tidak betah lagi tinggal di negara kelahirannya.
Benar, kata kesimpulan Dae Jung. Di antara kerumunan awak media meliput ada tiga pasang mata yang bersembunyi. Mereka sudah membawa pistol untuk menembak sasaran mereka.
Mereka itu ialah Bora, Bibi Nami, juga Chung Sang. Mereka sudah berani menampakkan diri secara diam-diam, tujuan mereka ingin menghabisi Kakek Hang dan Anna. Pistol sudah ada di tangan Bora, sudah lama ia mengincar nyawa istri mantan kekasihnya itu.
Di belakan para wartawan Bora memakai jaket mentupi wajahnya dengan topi jaket.
"Lakukan sekarang sayang." Kata Bibi Nami.
Bora meyelinap di kerumunan wartawan, pistol itu sudah ada di sakunya. Dari jarak 10 meter Bora mengamati pergerakan Anna yang juga gelisah di meunggu moment di mana isteri Dae Jung itu bisa diam di tempat. Rasa cemburu dan putus asa untuk mendapatkan Dae Jung kembali buat dia nekat ingin membunuh Anna.
'Jika kau tidak bisa memiliki Dae Jung, kamu pun tidak bisa memilikinya.' Kecam Bora sudah diam-diam menarik pistol itu keluar dari sakunya.
Chung Sang dengan pistolnya pun siap akan membunuh Kakek Hang di tempat itu. Dia ingin menunggu aksi Bora terlebih dulu. Sementara Bibi Nami menunggu nyawa Bu Nas.
Bora menujukan pistolnya ke arah Anna. Anna yang saat itu memakai kimono putih, kerudung instant hitam, begitu gampang di sorot oleh laser pistol Bora. Anna merasa ada yang menyorotnya dari jauh, perlahan matanya turun ke bagian dada. Ada cahaya titik merah di bagian dadanya. Sejenak Anna bingung dengan cahaya merah berbintik kecil di dadanya, sampai saat dia menyimpulkan,
"Ini laser pistol .." Lirihnya dalam hati. Matanya memandangi arah laser itu, tepat ada perempuan yang menyelipkan tubuhnya di kerumunan awak media.Di detik kemudian,
Duurrrrt !!!!!
Suara tembakan mengaung di taman itu. Yang mendengar itu serentak menutup telinga. Pak Lee dan Polisi mencari asal tembalan dan siapa yang mengenai tembakan itu. Para wartawan amatir itu berlarian bersembunyi.
Ahhhkk !! Jerit Anna. Dia terjatuh.
Suara Helikopter Korain sudah terdengar. Malam begitu gelap namun Dae Jung dari atas sana bisa melihat Anna yang sudah terjatuh ke tanah bersama Dae Song.
"Anna !!!" Teriak Dae Jung dari atas.
Helikopter korain hanya bisa berputar, pilot sedang mencari tempat landasan yang aman, karena keadaan yang gelap, mereka sulit mencari landasan.
__ADS_1
"Turunkan aku sekarang !!" Kata Dae Jung setengah membentak.