BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
TERUNGKAP


__ADS_3

Memutar waktu. .


Angin menyusup lewat selipan jendela, malam yang mengcekam telah terjadi di pulau seberang, lampu keseluruhan padam, di sinaran cahaya pelita, Yama terlihat menangis dalam doa, memutar tasbih secara perlahan, permohonan pada Sang Maha Kuasa tak henti bergumam di bibirnya.


Dug! dug! dug!


Suara adiknya mengedor pintu, ma beranjak membukanya.


"Ada apa Lambau?" Tanya Yama.


"Kita diperintahkan bersembunyi, semua harus ke gunung sekarang, ada yang akan menyerang ke daerah kita." Jawab Lambau yang sudah memegang celuit saat itu.



Seluruh penduduk di Desanya malam itu menuju ke arah gunung dengan membawa bekal dan baju seadanya, mereka mempercepat langkah kakinya, obor yang di pegang bertaruh dengan angin dan gelapnya malam.


Ahk.!


"Astaghfirullah!"


Anna terbangun dari mimpinya,bbutiran keringat membasahi wajah dan leher jenjangnya, dia mengerjap, melihat di sekelilingnya,akh ini kamarku, lirihnya dalam hati.


Dia mengingat mimpinya tadi, wanita yang sedang bertafakkur di atas sajadah, dia aku? atau siapa? sekilas mirip denganku? tapi kenapa di dunia yang berbeda? seperti di masa lampau, dan mengapa ada nama kakek yang di pakai anak lelaki itu? menyerang apa maksudnya? Anna mengusap wajahnya, ya Allah, mimpi apakah ini? sederet pertanyaan di benaknya.


Dia beranjak ke dapur, menuang air dari cerek ke gelas, melirik ke jam dinding, masih jam satu malam, duduk berselonjoran di sofa ruang tv.


"Kenapa aku di beri mimpi seperti itu, dan kenapa wajahku mirip dengan wanita itu? Kakek Lambau apakah anak yang tadi?" Gumamnya.


Kepalanya makin pusing, tak ada jawaban yang bisa menghapus pertanyaan itu.


"Lah, kenapa berdiam disitu?" Uwa Nuri keluar kamarnya, berlalu menuju ke kamar mandi sepertinya ingin buang air kecil.


Tidak lama kemudian, dia kembali menghampiri Anna, mengamati keponakan yang sedang memikirkan sesuatu, sangat serius hingga tak menyadari kehadiran Uwa Nuri.


"He, tengah malam begini jangan melamun." Uwa Nuri menepuk pundak Anna.


Anna terkejut, tubuhnya melemas, tatapannya ke Uwa Nuri kosong.


"Kenapa,, Nak? Ada yang terjadi?" Tanya Uwa Nuri mengusap wajah ponakannya itu.

__ADS_1


Anna yang benar-benar penasaran dengan mimpinya mencoba bertanya pada Uwanya.


"Uwa, aku sudah mimpi, kali ini mimpi yang sangat aneh, kan, Uwa pernah tanya Anna kan? Apa anna pernah mimpi, mungkin ini mimpi yang di pertanyakan oleh Uwa." Ucap Anna terburu-buru.


"Anna, bicaranya pelan-pelan, Uwa ini sudah tua, kalau cepat-cepat begitu Uwa kurang paham."


Anna mencoba mengatur nafas.


"Uwa, tadi anna mimpi, mimpi melihat kakek di masa mudanya, mimpi melihat perempuan yang sangat mirip wajah Anna." Tutur Anna pelan.


Uwa Nuri tercengang, dalam hatinya membenarkan sesuatu yang pernah di katakan oleh almarhum Bapaknya.


"Ya Allah, benar kata Bapak, tiba waktunya Anna akan di beri tanda." Kata Uwa Nuri dalam hati, ia merinding dengan kebenaran semua itu.


"Uwa, Uwa, kenapa diam? Anna takut."


Karna tak sanggup menyimpan rahasia itu lagi, dia menarik tangan Anna memasuki kamarnya. Anna hanya menurut saja.


"Duduk dulu, Uwa mau kasi liat kamu sesuatu."


Anna duduk di kursi kayu, Uwa Nuri membuka lemari mencari kaleng yang di sembunyikannya, setelah dapat, dia menuju ke Anna, mengambil kursi agar bisa duduk bersampingan.


Anna memperhatikan kaleng bentuk bundar itu, nampak dari luar tak ada yang special, hanya kaleng kue yang sudah penyok sana-sini, mulai karatan pula, kulit-kulit warnanya pun mengelupas, iya memang benar itu kaleng sudah legend, pikir Anna.


"Ini untuk kamu Anna, dari kakek." Bisik Uwa Nuri.


"Untuk saya? Kenapa?"


"Uwa juga tidak tahu, katanya kalau kamu sudah mendapat pertanda, baik itu mimpi atau apalah, kata kakek harus di perlihatkan sama kamu. Uwa pikir ini waktunya karna kamu juga sudah bingung, Uwa juga bingung karna Uwa tidak tahu apa-apa."


"Baik Uwa, Anna buka kalengnya boleh?" Tanya Anna meminta kaleng itu.


"Boleh, ini jangan lupa bismillah, Nak."


Anna mengambil kaleng dari Uwanya, sedikit terbata-bata, namun memantapkan dirinya untuk siap melihat isi kaleng legend itu.


Setelah membukanya, di dalamnya terisi foto-foto lama yang berwarna hitam putih, sedikit usang, ada sebuah amplod yang pasti isinya berisi surat, ada sejumlah mata uang yang Anna yakini itu mata uang Korea, sebab tulisan yang ada di mata uang mirip dengan tulisan Korea.


Anna memilah-milah foto itu, bersama Uwa Nuri dia memperhatikan dengan seksama, f'oto yang pertama menunjukkan kakeknya di masa tua, di foto kedua mereka melihat foto anak lelaki.

__ADS_1


"Uwa ini anak lelaki yang ada di mimpi Anna, dia di panggil Lambau, nama kakek." Pekik Anna.


"Ini memang kakek sewaktu muda, ini dibelakangnya pasti ada nama kakek."


Benar, itu mendiang kakeknya sewaktu muda, nama tertera di belakang foto itu " Lambau 1942". Anna mengeleng, tak habis pikir dengan berbagai kejanggalan yang ia temukan.


Mereka kembali memilah-milah sekumpulan foto tersebut, Anna menemukan yang semakin buat mereka mengcengangkan.


"Uwa, ini perempuam yang aku lihat di mimpi, wajahnya mirip sama aku." Ujar Anna.


Wajah itu memang mirip dengannya, yang membedakan hanya tahi lalat, gambar dalam foto itu memiliki tahi lalat besar di pipi kanannya, sedang Anna tak memilik tak memilik sama sekali.


Di balik foto itu tertulis nama "YAMA 1941", Uwa Nuri memaksa memorinya bekerja. Dia ingat, bahwa kakeknya memilik kakak perempuan yang telah meninggal jauh sebelum ia dilahirkan.


"Uwa yakin, ini Uwa Yama, kakak dari kakek Lambau." Tuturnya mengusap foto itu.


"Ini baru pertama kali Uwa melihat wajahnya, ternyata sangat mirip sama kamu Anna." Lanjutnya.


Sudah tak sanggup lagi melihat keanehan yang ia dapatkan, Anna terbangun dari duduknya.


"Uwa, Anna mau istirahat, Uwa simpan semua ini. Lain kali kita lanjutkan. Aku tidak sanggup Uwa, semua itu sangat aneh." Anna pamit dari kamar Uwanya.


Uwa Nuri kembali menyimpan kaleng kenangan itu yang ternyata benar-benar menyimpan banyak rahasia.


*******************


Proses persalinan akan berlangsung, Ayah Anna masih kebingungan melihat istrinya merintih kesakitan, keputusan terakhir dokter ialah melakukan operasi karna tak memiliki surat jaminan kesehatan, pria yang berprofesi sebagai tukang ojek itu hanya bisa pasrah.


Pihak administrasi memberikan penerawangan tentang fasilitas yang berbayar pada Ayah tiga anak itu, seluruh tubuhnya lunglai, tak ada seseorang yang bisa dimintai pertolongan kali ini sedang istrinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


"Oh ya Allah, aku harus bagaimana?" Keluhnya seraya mengusap wajah.


Ingatannya kembali mengingat ketiga anaknya yang tak pernah lagi ia nafkahi, tak memberi kasih sayang sedangkan mereka acapkali datang seledar melepas rindu namun semua itu tak pernah ia hargai.


Ayah Anna telah meneteskan air mata, perasaan bersalah telah menghantam jantungnya, penyesalan yang tak berguna datang terlambat sebab anak-anaknya mungkin sudah membencinya.


Di tengah operasi berlangsung, dia meninggalkan rumahsakit untuk pergi ke suatu tempat, tak perduli malam yang sudah larut, hujan rintik yang masih memasrahkan jatuh ke bumi, dia semakin mempercepat laju motornya, niatan ingin menju ke rumah mantan adik iparnya, Nuri, untuk bertemu ketiga anaknya yang selama ini ia abaikan.


*********************

__ADS_1


__ADS_2