BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
MAKAN MALAM HEBOH


__ADS_3

Dae Jung kembali ke kamar membawa kekesalan. Dia mendapati Anna yang baru saja mandi. Tubuh isterinya terlilit handuk putih. Mengingat pernyataan Dae Song bahwa kakaknya itu mencintai Anna, jiwa posesif Dae Jung tercipta begitu saja.


"Anna, apa aku tampan?" tanyanya.


Anna yang sibuk mengeringkan rambutnya menjawab tanpa menoleh. "Ya, sangat tampan."


"Benarkah? tampanku tidak ada samanya di dunia ini?"


"Hahahahhhah ..."


Mendengar itu Anna malah tertawa terbahak-bahak.


"Apa itu lelucon, Anna?" Dae Jung protes.


"Tentu, oppa kamu itu terlahir kembar. Wajah kamu dan Kak Dae Song itu seperti pinang di belah dua. Cetakan yang sama. Berarti tampannya mirip." Anna masih menjawab santai, dia belum mengetahui bahwa suaminya mulai di terpa rasa cemburu.


Dae Jung menatap nanar pantulan isterinya di cermin. Dia membuka satu per satu kancing kemejanya.


"Apa aku seksi?" tanya Dae Jung yang memperlihat bentuk tubunya yang proposional.


"Hem, sangat seksi." Anna belum menoleh ke suaminya.


"Lihat dulu, pegang dulu." Dae Jung memaksa Anna untuk memegang perutnya yang bak roti sobek itu.


"Kan, aku setiap malam pegang." Imbuh Anna.


"Pegang lagi." Dae Jung ingin menunjukkan kelebihan fisiknya.


Anna memegang dada bidang suaminya meraba hingga ke perut berbentuk susunan 6 kotak itu.


"Keras, kan?" tanya Dae Jung.


"Iya, sangat keras. Ini beton." Anna mencandai balik suaminya.


Anna menghela nafas, suaminya tiba-tiba berubah seperti anak kecil. Entah, goblin macam apa yang sudah merasuki suamiku? batin Anna.


"Anna, apa aku kuat?" tanya Dae Jung mulai binal lagi.


"Hem? kenapa bertanya seperti itu? ini bukti kekuatanmu." Sahut Anna menunjuk ke perutnya sendiri. Anak kembarnya sebagai bukti Dae Jung pria sejati.


"Setiap kita making love, kamu berapa kali pelepasan?" tanya Dae Jung yang sungguh menggelikan Anna.


"Kenapa bertanya seperti itu? Aku geli." Sahut Anna. Ini kalimat yang tak biasa di ucapkan oleh suaminya bila keadaan normal seperti ini.


"Berapa kali, sayang?"


Anna malu-malu menjawab hanya mengangkat tiga jarinya. Pertanda tiga kali.


Dae Jung memeluk isterinya. Sangat erat hingga Anna sulit bernafas. Anna meronta memukul-mukul punggung suaminya.

__ADS_1


"Kenapa meluknya seperti ini? aku tidak bisa bernafas."


"Kau tidak boleh di miliki siapapun kecuali Kim Dae Jung, jangan ada Kim Kim lainnya. Mengerti?" Ultimatum terucap dari bibir Dae Jung. Kecemburuannya sebagai pria mulai berubah menjadi posesif.


Anna hanya mengeleng. Dia melanjutkan lagi merias diri. Memakai lipstik. Karena tidak suka Anna merias diri jika ingin berkeliaran di rumah Korain, Dae Jung merampas lipstik itu dari Anna.


"Jangan memakai ini lagi. Kamu boleh pakai begini kalau mau tidur." Titah Dae Jung menyimpan lipstik itu kembali di laci.


"Aku seperti zombie kalau gak pake lipstik, Oppa." Ujar Anna.


Dae Jung melotot tajam. Buat nyali Anna menciut. Sebagia isteri yang patuh pada suami, Anna mengalah. Anna memasang wajah sedih, ini karena hormon kehamilan yang benar-benar mempengaruhi moodnya.


"Jangan sedih, sayang .." Dae Jung coba merayu isterinya. Dia pun juga tak ingin jujur pada Anna bahwa dia cemburu pada Kakaknya. Harga diri masih ia junjung tinggi.


Tok ! Tok ! Tok !


Ada yang mengetuk pintu kamar.


"Makam malam sudah siap, Tuan." Suara Bu Nas menyeru di balik pintu.


"Ya, Bu Nas. Sebentar kami akan turun." Sahut Anna.


"Presdir Hang menunggu di bawah, Nona. Katanya ini makan malam bersama." Ujar Bu Nas lagi.


"Iya, Bu Nas. Kami akan turun segera."


"Oppa, tidak mau turun?" tanya Anna.


"Kita makan di kamar saja."


"Kakek sudah menunggu kita di bawah, berdosa tidak memenuhi panggilannya. Ayo bangun, sayang."


Dae Jung turut. Tak ingjn buat Kakeknya kecewa. Dia memakai kaos putihnya kembali. Dia dan Anna bergegas turun ke bawah untuk memenuhi panggilan makan malam bersama oleh Kakek Hang.


Dari atas dia melihat sudah ada Dae Song, Jun Hyun, Yuna, Ji Yeong yang baru saja pulang dari kantor. Kakek Hang sudah mengisi kursi paling utama di meja makan luxury itu.


"Ada dua fans isteriku di bawah." Kata Dae Jung dalam hati. Yang di maksud ialah Dae Song dan Jun Hyun. Dae Jung meraih tangan Anna di genggam erat. Melangkah menuruni anak tangga dengan pelan.


Dari jauh mata Dae Song melihat itu. Hatinya masih kesal pula, Dae Jung sudah memukulinya, harga diri sebagai kakak hilang karena perbuatan Dae Jung.


Dae Jung menarik kursi untuk Anna, mereka duduk berhadapan dengan Dae Song.


"Seharusnya setiap malam kita makan seperti ini." Ujar Kakek Hang yang begitu bahagia.


Makan malam itu di mulai. Jun Hyun berbincang-bincang dengan Ji Yeong. Sementara Dae Jung mulai memamerkan kemanjaannya pada Dae Song.


"Sayang, aku ingin black paper beef." Ujarnya pada Anna untuk di ambilkan oleh isterinya.


Namun Dae Song lebih dulu mengambil itu, hingga menuangkan semua di piringnya. Tak tersisa lagi untuk Dae Jung

__ADS_1


"Kenapa kakak mengambil semua?" tanya Dae Jung protes.


"Ini favoritku juga." Jawab Dae Song melahap satu per satu cincangan daging masakan Koki Choi.


Jun Hyun melihat itu menyodorkan porsi yang ada di dekatnya. " Ini masih ada."


Anna mengambilkannya untuk Dae Jung. Hentakkan garpu terdengar nyaring dari piring Dae Jung, dia memberikan peringatan pada Kakaknya.


Ji Yeong dan Yuna mulai resah, lakon pertengkaran anak kembar yang tak sempat mereka lalui di masa kecil telah di mainkan di malam ini. Sulit menyatu bila sesuatu yang sama mereka inginkan. Bu Nas menarik nafas. Menyebut nama Rifasaya berulang kali. "Oh, Nona Rifasya anakmu begitu gemas malam ini."


"Dae Song, kau akan tinggal bersama Kakek di rumah sebelah." Ujar Kakek Hang yang ingin melerai pertengkaran itu setiap hari.


"Baguslah." Ketus Dae Jung.


"Tapi, kakek setiap malam aku disini makan, kan? karena aku suka masakan Koki Choi dan Bu Nas." Pinta Dae Song yang itu hanya alibi agar bertemu dengan Anna.


" Tentu, setiap malam kita akan malam disini." Sahut Kakek Hang.


Dae Song tersenyum miring pada Dae Jung. Memberikan kode bahwa dia akan menang kali ini. Dari hati kecilnya, tak ada niat Dae Song ingin merebut Anna dari adiknya. Dia hanya kesal bila perasaanya tak di hargai, sementara itu bukan pula kemauannya. Dia merasa kisah Yama dan Baek Hyoen menjebaknya. Terlalu bodoh bila mengharapkan Anna untuk dimilikinya.


Kerena ingin membalas, Dae Jung berkata pada Anna dengan suara nyaring.


"Sayang, jangan makan banyak. Kita akan bercinta nanti."


Puuussshhh!!!


Makanan di mulut Ji Yeong menyembur begitu saja mendengarnya. Dae Jung sangat bar-bar di depan mereka. Dae Song menahan nafas bersamaan dengan amarahya. Jun Hyun mengerutkan dahi. Itu kalimat ringan bagi mereka yang dewasa, tapi bila di depan Kakek Hang dan Bu Nas, itu jadi rasa malu buat mereka.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Yuna pada Ji Yeong, dia menyodorkan air ke pacarnya yang tersedak.


"Kau bicara apa lagi di depan Kakek?" Dae Song protes.


"Aku hanya bilang pada isteriku, kak." Sahut Dae Jung. Pria yang penuh dengan kelembutan berubah drastis menjadi over posesif karena takut kehilangan Anna.


"Tapi, kami semua mendengarnya." Timpal Ji Yeong protes karena malu pada Kakek Hang dan Bu Nas.


"Maaf, kalau begitu." Ucap Dae Jung.


Dak ! Dak !


Karena tak tahan, Kakek Hang menepuk meja dengan keras. Pria berusia lanjut itu paling tidak suka ada perdebatan di meja makan.


"Nas, kita makan di rumah atau di play group." Kakek Hang kesal pada cucu-cucunya itu. Selera makannya lenyap. Dia meninggalkan mereka untuk kembali ke rumah kedua korain.


Mereka semua membisu. Makan malam itu senyap seketika. Rasa bersalah karena telah membuat petinggi Korain marah. Dae Song berdiri, dia ingin kembali ke kamar.


"Kak Dae Song mau kemana?" tanya Jun Hyun.


"Bercinya dengan bantal." Ketus Dae Song. " Jun Hyun, jangan langsung pulang nanti. Kita minum dulu." Lanjut Dae Song yang beranjak ke atas lagi.

__ADS_1


__ADS_2