BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
MEMBEBASKAN JUN HYUN


__ADS_3

Suara Dae Jung sangat terdengar jelas di telinga Anna.


"Dae Jung suamiku?"


"Iya, Anna. Aku yang Dae Jung yang asli. Ingat, waktu aku berjanji di Namsan Tower, aku akan selalu mencintaimu." Dae Jung berusaha meyakinkan Anna.


Anna mengusap dada, dia begitu lega, kecurigaanya sejak tadi malam terjawab sudah.


"Aku percaya, sekarang kamu dimana?"


"Aku di Busan sekarang, tepatnya aku tidak tahu. Jangan tanya siapapun dulu dirumah. Jangan sampai Dae Song tahu aku menelponmu."


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Kamu ke kantor polisi dengan Bu Nas menemui Jun Hyun, bebaskan dia, lalu minta tolong ke dia agar ke Busan bersama polisi dan para pengawal kita. Jangan libatkan Ji Yeong untuk sementara, jika Ji Yeong tak ada di kantor, Dae Song pasti curiga. Kamu bisa kan, Anna?"


Anna yang sudah menangis, mengiyakan permintaan suaminya.


"Aku bersedia, tapi kamu jaga diri baik-baik, demi anak-anak kita .." Lirih Anna.


"Iya, Anna. Aku berusaha demi kalian, jangan menelpon ke nomor ini lebih dulu, biar aku saja." Ujar Dae Jung.


"Ya, aku mengerti."


"Aku mencintaimu, Anna."


Mendengar itu Anna terisak tangis, suaminya tengah berada dalam bahaya, tapi ia sama sekali tak menyadari itu. Mengapa ujian pernikahan mereka tak henti-henti berdatangan, luka serta ketakutan terus saja menghantuinya.


"Anna, kamu jangan menangis, saat ini aku tidak menghapus air matamu. Kita harus kuat, kan?" imbuh Dae Jung yang berusaha pula menyembunyikan kesedihannya agar tidak terdengar oleh Anna.


"Iya, kita harus kuat. Kita tidak boleh menyerah dengan keadaan." Tukas Anna sembari menghapus lelehan air matanya.


Dae Jung memutuskan panggilannya, bukan karna tak ingin lagi mendengar suara Anna, melainkan tak sanggup menahan tangisnya yang ingin tumpah kali ini. Anak Rifasya itu menangis betekuk di kamar mandi, bukan karna sudah kehilangan kekuatan sebagai pria sejati, tetapi merasa sedih karna penderitaan itu turut pula pada Anna dan kedua anaknya yang masih dalam kandungan.

__ADS_1


"Apa yang sudah Ayah perbuat, mengapa begitu banyak yang terluka karna Ayah." Lirih Dae Jung mengingat mendiang Ayahnya.


Di rumah Korain, ada Anna yang bersiap-siap ke kantor polisi. Tapi sebelum itu, dia mengunci lemari mereka, karna di dalam lemari itulah berbagai berkas penting. Anna mengambil stempel sidik jari Dae Jung. Ini sebagai penjamin untuk membebaskan Jun Hyun, setelah itu stempel Dae Jung ia sembunyikan di kain lalu di sisipkam di vas bunga yang ada di kamarnya.


Tanpa stempel itu, takkan ada yang bisa menggunakan hak Dae Jung, termasuk bagi mereka yang ingin berbuat sesuatu buruk mengatasnamakan Dae Jung.


Anna turun ke bawah, meminta Bu Nas untuk menemaninya membesuk Jun Hyun. Anna tidak akan memberitahu Bu Nas perihal Dae Jung. Hanya Jun Hyun yang akan menerima pesan Dae Jung itu.


Dengan ditemani Pak Lee dan Pak Su, Anna dan Bu Nas ke kantor polisi. Setibanya dia meminta agar laporan Dae Jung atas penculikan Anna dibatalkan, alasan karna sakit Ibu Jun Hyun makin parah. Hanya sejam proses itu, Jun Hyun sudah terbebas dari jeruji besi yang mendekapnya hampir dua bulan.


Jun Hyun yang khawatir menghampiri Anna di ruang tunggu.


"Anna, Ibuku makin parah?" tanya Jun Hyun.


"Iya," sahut Anna seraya menyodorkan kertas yang beetuliskan pesan yang tak ingin ia ucapkan dengan lisan.


'Jun Hyun, kami butuh bantuanmu, Dae Jung sekarang di sekap oleh kembarannya sendiri. Dia sekarang di Busan, tolong bantu lacak nomor itu. ×××××××× Sekarang di kantor ada Dae Song yang menggatikan peranan Dae Jung, tolong selamatkan Dae Jung.' Kamu bersama kepala keamanan pergi ke tempat itu.


Membaca tulisan Anna, Jun Hyun mengerti bahwa ini pasti permainan Chung Sang lagi. Jun Hyun sudah yakin, bayangan pria yang sempat ia lihat di rumah 308 C itu adalah Dae Song. Ternyata itu kembaran Dae Jung yang sengaja Paman Chung Sang sembunyikan.


"Pakailah mobil kami, Pak Lee dan Pak Su akan bersamamu."


Anna dan Bu Nas kembali ke rumah dengan menggunakan taksi.


"Apa yang sudah terjadi, Nona?"


"Tidak ada, Bu Nas. Biarkan Jun Hyun bertemu ibunya."


Jun Hyun yang masih di kantor polisi meminta agar nomor yang diberikan oleh Anna di lacak keberadaannya.


*************


Dae Song mencari sesuatu di meja kerja Dae Jung. Namun semua laci yang ia geledah tak ada satu pun ditemui benda ia cari. Benda kecil yang ia cari adalah stempel pribadi Dae Jung. Tanpa itu ataupun tanda tangan Dae Jung, dia tidak mampu memindah alihkan Korain pada Ayah angkatnya.

__ADS_1


Meski mereka kembar, namun tetap saja sidik jari mereka berbeda. Tentu tidak mungkin bila fia harus memakai jempolnya untuk melakukan pemindahan hak waris tersebut.


"Apa aku harus ke Busan untuk memaksa Dae Jung memberikan sidik jarinya .." Gumam Dae Song berpikir keras.


Ada yang mengetuk dari luar, belum sempat ia menucapkan izin, pintu itu terbuka paksa oleh gadis cantik, dia Bora yang datang ingin menemui Dae Jung, ada Yuna dari belakang berusaha mencegat langkah anak Bibi Nami itu.


"Pak Kim, saya sudah melarang Bora, tapi dia nekat." Ujar Yuna.


Bora langsung memeluk Dae Song yang disangkanya pula itu Dae Jung.


"Kamu keluar dulu, Yuna." Pinta Dae Song.


Yuna yang kesal dengan tingkah Bora menuruti perintah Dae Song. Ah, dasar perempuan depresi. Kecam Yuna dalam hati sembari menutup pintu ruangan Dae Jung.


Di dalam pelukan Bora, Dae Song mengambil kesempatan untuk bermain nakal dengan mantan kekasih adiknya itu. Dia sangat tahu, tipe seperti Bora sangat gampang dirayu, tidak seperti Anna.


"Kau kenapa menangis? perempuan cantik tidak boleh menangis," imbuh Dae Song seraya mengelus kepala Bora.


Mendapat kasih sayang demikian, Bora makin mempererat pelukannya. Dia pikir Dae Jung sudah menerimanya kembali, dia tidak akan lagi diusir mantannya itu.


"Aku merindukanmu, kenapa kau selalu peduli dengan Anna, sementara kau abaikan aku, Oppa." Ujar Bora dengan nada manja.


"Apa kau mencintaku?" tanya Dae Song yang mengetes Bora.


"Sangat mencintaimu, kamu tinggalkan Anna, lita bersama lagi seperti dulu."


Dae Song menatap Bora begitu dalam lalu berkata dalam hati,


'Mana mungkin Dae Jung meninggalkan Anna hanya demi wanita sepertimu, kau hanya menang cantik saja, sementara Anna lebih diatas kriteria sebagai istri.'


Dae Song tahu Bora dan Ibunya pribadi yang tidak baik, setiap Bibi Nami menelpon Paman Chung Sang, ada Dae Song selalu disampingnya. Jika melihat kacamata sebagai lelaki, bila disuruh memilih antara Bora dan Anna tentu Dae Song akan berbangga hati memilih Anna. Tapi sayang, Anna sudah dimiliki Dae Jung.


"Apa kau tidak takut aku tinggalkan juga? misalkan kita sama-sama, aku jatuh cinta lagi pada wanita lain, apa kamu tidak marah bila aku lepehkan seperti Anna?" tanya Dae Song yang memang tipe tengil.

__ADS_1


"Oppa, kenapa bilang begitu?"


"Aku sekarang tipe pria yang cepat bosan, Bora. Seperti kamu itu tidak ada kalah dengan Anna yang jago di ranjang." Dae Song makin tengil.


__ADS_2