
Akad nikah akan segera berlansung di Hotel mewah milik Korain, banyak yang tak menyangka Kim Dae Jung telah menambatkan hati pada seorang perempuan, bahkan sebagian yang mengira itu hanyalah pernikahan settingan agar menutupi citranya yang di ketahui menyimpang.
Terlebih lagi di lingkungan Anna, tetangga, teman-teman Anna, mereka berasumsi dia hanya sebagai wanita bayaran dalam ikatan nikah kontrak, tak ada cinta di balik itu semua hanya sandiwara yang menutupi aib, pikir mereka.
Akad nikah itu hanya di hadiri orang-orang terdekat saja, Anna dan keluarganya hanya menghadirkan saudara-saudara sepupu dari orangtuanya saja, sesuai dengan permintaan Anna, bahkan pihak korain hanya mengundang para tamu besar yang itu pun tertutup bagi kalangan yang tidak berkepentingan. Bukan karna tak ingin di ketahui orang banyak, namun ini cara anna menjadikan pernikahan mereka lebih private.
"Anna." Uwa Nuri merangkulnya dari arah belakang.
Anna sudah sangat cantik dengan kebaya pengantin muslim berwarna baby blue, wajahnya begitu bersinar, meski kesedihan pun tak lepas sebab mengingat kedua orangtuanya yang tak dapat melihatnya menikah. Alangkah malang nasibku, di hari bahagia ini, aku tidak bisa di dampingi ayah dan ibu, rintihnya.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri. Uwa tidak pernah menikah, Nak. Tapi bagaimana pun Uwa akan memberikanmu saran agar kamu harus patuh pada suamimu, dan menjadi istri yang soleha." Nasehat Uwa Nuri dengan mata berkaca-kaca.
Ya,benar dia harus menjadi istri soleha, sesuai permintaan Dae Jung yang meminta secara pribadi pada anna agar mereka saling membatasi satu sama lain.
Sampai benih cinta itu tumbuh dengan sendirinya, itu permintaan Dae Jung saat mereka berdua bicara empat mata.
"Kata WOnya akad nikah akan segera di mulai." Beri tahu Rasti yang sudah cantik pula dengan kebayanya yang seragam dengan Uwa Nuri.
Anna menunggu di kamar Hotel itu di temani Uwa Nuri, di ballroom telah menumpuk jajaran orang-orang penting baik dari Imdonesia, maupun Korea.
Ji Yeong dan para ajudan mengawasi keamanan acara tersebut, sementara Yuna tak bisa menghadiri akad nikad pria yang ia kagumi itu, karna tak sanggup melihat Dae Jung menikah dengan gadis lain, seminggu sebelum akad nikah berlangsung, Yuna meminta cuti untuk ke Singapura dengan alasan berobat.
Presdir Hang menemani Dae Jung duduk yang sebentar lagi akan mengucapkan akad nikah, di hadapannya telah ada wali dari Anna beserta Raka selaku pengganti wali Anna dengan penghulu serta saksi-saksi yang juga pengusaha ternama di Indonesia.
Dengan waktu yang begitu singkat, penghulu pun meraih tangan Dae Jung dengan mengucapkan.
"Saya nikahkan kamu dengan seorang perempuan yang benama Anna Binar Bintang binti Hadi Musnair dengan mahar seperangkat alat sholat, emas dan uang secara tunai serta surat Al-fatihah secara tunai."
Dengan lantang Dae Jung berucap.
"Saya terima nikahnya Anna Binar Bintang binti Hadi Musnair dengan mahar tersebut di bayar tunai,"
__ADS_1
Sebelum mengucapkan sah, Dae Jung terlebih dahulu membaca surah Al-fatihah, salah satu syarat nikah Anna, Dae Jung membutuhkan waktu seminggu untuk menghafalkan surah tersebut.
Usai mengumandangkan surah al-fatihah, serentak yang menyaksikan penyatuan keluarga itu berucap sah dengan hamdalah.
Ada rasa haru pada diri Dae Jung, getaran di dada melantunkan jantung ayat suci al-qur'an menghilangkan kegundahannya seketika, meski ia belum tahu arti surah yang ia baca.
Dae Jung di tuntun untuk menjemput Anna di kamar pengantin, sesuai dengan tradisi dari suku luwu tempat asal Anna. Mereka melakukan berbagai ritual adat hingga resepsi.
*************
Malam pun tiba, di kamar hotel yang terhias sebagai kamar pengantin telah bertaburan bunga-bjnga mawar, aroma wangi yang menenangkan jiwa sudah tercium oleh Anna, dia baru saja sudah mandi, ini pengalaman pertama kalinya mandi di hotel, apalagi hotel yang semewah milik dae jung, oh suaminya.
diatas westafel anna melihat ponselnya panggilan tak terjawab dari rasti, mungkin karna kelamaan berendam di bathtub hingga tak mendengar ponselnya berdering, dia pun mendial nomor adiknya itu dengan panggilan video.
Terlihat di layar adiknya begitu kegirangan, Uwa Nuri melambai dan Raka yang sedang mengusap sebuah mobil.
"Kak, Anna." Seru Rasti.
"Kak Anna, mulai minggu depan, Raka dan Rasti tidak naik ojek lagi karna sudah ada mobil dari Kakak ipar."
"Haaaa??" Anna terkejut." Mobil? mobil apa ,Dek?" Tanyanya.
Rasti menunjukkan mobil baru mereka dari Dae Jung,mobil berwarna putih merk honda mobilio yang sedang di usap-usap oleh Raka.
"Ini, Kak. Mobil dari Kak Dae Jung dan Uwa Nuri juga di hadiahkan ini." Rasti memperilihatkan satu stell perhiasan.
Melihat kebahagiaan keluarganya, Anna meneteskan air mata, ternyata ini yang di maksud demi kebahagiaan keluarga oleh mendiang Kakeknya.
"Ya, sudah. Kalian baik-baik, ya. Besok saya ke rumah menemui kalian." Ucap Anna pamit.
"Iya, Kak. Bahagia-bahagia malam pertamanya, Kak." Ucap Rasti.
Mendengar candaan Rasti buat Anna mengerutu."Malam pertama apaan, kalian tidak tahu perjanjianku sama Kakak iparmu itu."
__ADS_1
Anna segera berpakaian gamis santai, memakai kerudung bergonya, takut bila di kamar hotel telah ada pelayan Dae Jung menunggu.
Saat keluar kamar mandi, dia di kejutkan oleh Dae Jung yang sedang duduk di sofa.
"Kenapa dia ada disini?" Gumam Anna.
Dae Jung beranjak dari tempat duduknya, melihat Anna dengan tatapan tajam namun gelisah, menahan nafsu.
"Dae Jung, tahan, tahan. Jangan terburu-buru,memang Anna sudah jadi istrimu tetapi kau belum mencintainya, jangan lakukan itu tanpa cinta." Suara hati Dae Jung.
"Hm, Anna. Saya kesini untuk mengingatkan perjanjian kita, kamu juga pasti merasa tidak nyaman jika, jika, ah salah maksudku tiba-tiba menjadi seorang istri." Lagi-lagi Dae Jung gelagapan.
Anna mencerna kalimat-kalimat Dae Jung.
"Ok, saya ke kamar dulu, kalau ada apa tentang keamanan telpon Sekertaris Ji."
Tapi Anna mencegatnya.
"Ow, Pak Kim."
"Panggil, Oppa." Sahut Dae Jung.
"Haa iya, Oppa. Terimakasih atas pemberian untuk keluarga saya, dan saya rasa itu terlalu mewah."
Dae Jung mengangguk lalu menjawab,
"Itu tidak seberapa, mereka berhak mendapatkan haknya, lagipula kamu sudah tidak bisa bekerja lagi, jadi mereka sudah jadi tanggunganku." Jawab Dae Jung tenang dan bijaksana.
Pria bertubuh tinggi itu keluar dari kamar pengantinnya, meninggalkan Anna yang terpaku dengan jawaban Dae Jung yang penuh tanggung jawab sebagai suami.
"Pantas saja kamu sukses, ternyata kamu memang pria yang penuh tanggung jawab. Sayangnya kamu gay, andai tidak kita bisa menikmati malam kita bersama-sama." Lirih Anna, tersadar dengan apa yang di katakan ia memukul-mukul kepalanya.
"Apaan sih, pikiran mesummu, An." Gerutunya.
__ADS_1