BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
TIBA DI SEOUL


__ADS_3

Anna di pulangkan ke rumah, sementara Yuna mengikuti Dae Jung dan Ji Yeong ke pabrik Korain, mereka akan mengunjungi korban yang sudah berada di rumah sakit.


Evakuasi korban dan jenazah masih berlangsung, mereka melihat tangisan keluarga korban yang sudah pergi untuk selama-lamanya, kaki Dae Jung serasa tak berpijak di bumi, dia terpukul atas kejadian ini, ribuan orang yang mengabdi padanya telah kehilangan nyawa, belum lagi pengunjung pusat perniagaannya yang memakan banyak korban telah di nyatakan meninggal dunia.


"Kami sudah menyiapkan semua bantuan medis untuk mereka, Pak." Kata managernya.


"Kerugian sangat kita sangat besar sekali Pak, mencapai .." belum sempurna kalimat managernya, Dae Jung memotongnya dengan lantang.


"Jangan pikirkan itu dulu, banyak yang meninggal, kesedihan keluarga mereka yang di tinggalkan, apa itu bukan dari tanggungjawab kita untuk menghibur mereka? Bisa saja dengan tragedi ini, ada korban yang akan cacat, kehilangan suami, ayah, ibu, atau anak. Pikirkan bila kita di posisi mereka," terang Dae Jung dengan suara bergetar.


"Iya, Pak. Saya minta maaf.." Sahut manager Ye Sung.


Yuna selaku sekertaris Dae Jung hanya bisa berdiam menyimaknya, dia benar-benar kasihan pada suami temannya itu, meski dalam kondisi kerugian yang mencapai ratusan juta won, tapi Dae Jung masih mengedepankan prikemanusiaannya.


Sekertaris Ji datang bersama penyelidik, dia meminta Dae Jung ke ruangan yang sudah di sediakan oleh mereka.


Di ruangan itu ada mereka memutar semua cctv yang berkaitan pengeboman, pertama di area sekitar mall Korain, terlihat pria muda yang berjaket hitam, memakai topi menenteng tas hitam lumayan besar, dia duduk di tepi mall dengan pandangan yang gelisah.


"Pria ini yang melakukan pengeboman bunuh diri." Ujar penyelidik itu yang memperlihatkan gambar pria tersebut lebih dekat.


Dae Jung mengeleng, dia seakan tak percaya, pria di gambar itu rela kehilangan nyawanya demi melakukan sesuatu yang bisa saja itu tak menguntungkan dirinya.


Akhir video itu hanya menunjukkan sisa asap yang berasal dari ledakan. Mereka berpindah lagi ke cctv di sekitar pabrik Korain, para penyelidik memilih satu rekaman seorang perempuan yang sudah berumur, usianya kisaran 50 tahunan, dia juga membawa ransel hitam, terlihat ada dua bagian keamanan pabrik Korain yang mendatangi perempuan itu lalu membawanya masuk ke dalam area pabrik, kedua security tersebut membawa ransel itu masuk pula bersamanya.


"Kami yakin, mereka adalah tersangka pelaku pengeboman ini." Ujar Penyelidik itu lagi.


Dae Jung menghela nafas, ternyata pelakunya sudah menggait orang-orang bawahannya untuk bersekutu. Sementara Ji Yeong memperhatikan video perempuan tua itu dengan seksama.

__ADS_1


"Kami akan menyelidikinya lebih lanjut, Pak Kim." Ujar Ji Yeong padanya, di video kedua, wanita tua itu seperti pernah di lihat olehnya, tapi dimana? mengapa mereka bisa menjadikan diri mereka pelaku ledakan ini? Batin Ji Yeong.


Ji Yeong segera ke rumah tahanan yang di tempati oleh Jun Hyun, dia akan memaksa pria itu membuka mulut kali ini. Sementara Dae Jung dan Yuna masih menemani keluarga korban yamg sedang bersedih kala itu.


Dae Jung menelpon Bu Nas,


"Bu Nas, tolong sampaikan kepada keamanan di rumah untuk lebih waspada lagi. Bu Nas, bila ada sesuatu yang mencurigakan di antara para pekerja di rumah laporkan pada saya. Ku mohon juga Bu Nas, jaga Anna baik-baik." Sederet permintaan Dae Jung pada Bu Nas, trauma melihat rekaman video itu yang menujukkan ternyata musuhnya juga orang-orang di sekitarnya.


Dae Jung mengakhiri panggilannya lalu menghampiri Yuna.


"Yuna, hubungi pihak asuransi para pekerja."


"Baik, Pak Kim." Sahut Yuna yang siap mengerjakan tugasnya kembali.


Dae Jung duduk di kursi antrian, menyandarkan kepala di tembok, lalu lalang hasil evakuasi jenazah tiada henti melewatinya. Tatapannya membayangkan siluet wajah Ayahnya, apakah ini karna ulah masa lalu ayah lagi? Lirih Dae Jung dalam hati.


*****************


Ji Yeong sudah menunggu di ruang kunjungan, Jun Hyun yang sudah mengetahui tragedi itu sedikit iba pada Dae Jung. Dia tahu maksud kedatangan Ji Yeong kepadanya.


"Aku rasa kamu sudah tahu yang terjadi hari ini." Ji Yeong mulai menyindir halus dirinya.


"Aku sudah tidak ingin berurusan dengan mereka." Sahut Jun Hyun.


Ji Yeong seperti tergelitik mendengarnya, ada tawa masam di wajahnya.


"Begitu? Jadi aku akan lari dari tanggungjawab ini? Haruskah kau berterima kasih pada Dae Jung yang berusaha memperbaikin keadaanmu dan juga ibumu, maka lakukanlah sesuatu membantunya secara tulus pula."

__ADS_1


Jun Hyum tergugu, benar kata Ji Yeong, Ibunya dalam keadaan aman karna berkat bantuan Dae Jung. Sangat egois bila disaat seperti ini, dia tak mengulurkan bantuan pada saudara sambungnya itu.


"Apakah perlu berpikir panjang disituasi seperti ini?" Ji Yoeng mulai mendesaknya.


Jun Hyun masih memikirkan sesuatu sembari menatap wajah Ji Yeong.


"Apa perlu kami juga mengikuti permainan kalian?" Ji Yeong menambahkan lagi.


"Kau tidak perlu jauh-jauh mencarinya, orang-orang itu ada di sekitarmu." Timpal Jun Hyun.


Ji Yeong menarik nafas, jawaban Jun Hyun sungguh menakutinya, ada banyak pengikut-pengikut di belakang Dae Jung, hidup bersama mereka, bagaiman mereka bisa menebak musuh dalam selimut itu?


"Bahkan, kau sendiri Ji Yeong akan tercengang bila mengetahui salahsatunya." Tukas Jun Hyun penuh keseriusan.


Lagi dan lagi Ji Yeong gusar di buat pria yang seumuran dengannya itu, kalimat Jun Hyum banyak menyimpan misteri yang meminta untuk di ketahui segera. Mereka terlalu percaya dengan kebaikan sesama hingha tak bisa membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang hanya sekedar ingin jadi penguntit saja.


"Ji Yeong, kau lebih baik terlusuri sendiri saja dulu. Da n aku meminta tissue."


Ji Yeong memberikan dia sehelai tissue dengan pulpen kecil, di atas tissue Jun Hyun menuliskan alamat pada Ji Yeong. Entah itu alamat siapa, dan ia rasa cukup jadi kisi-kisi untuk sekertaris Dae Jung itu.


"Carilah ke tempat ini, maka kau akan mendapatkan jawaban demi jawaban yang kau cari." Tutur Jun Hyun mengembalikan tissue itu pada Ji Yeong.


Alamat tertulis di tissue adalah wilayah Kota Busan yang tak lain adalah Kota kelahirannya, apa yang sebenarnya terjadi pada Korain hingga melibatkan orang-orang di luar kota?


"Aku akan kembali lagi meminta lebih dari ini." Ucap Ji Yeong lalu keluar dari ruangan pengap itu.


Jun Hyun di terpa rasa khawatir pada ibunya juga pada Anna, kedua wanita itu masih jadi beban pikirannya saat ini, namun dayanya di kekang oleh jeruji besi yang setiap hari meringkusnya.

__ADS_1


__ADS_2