
Memutar Waktu ..
1946
Meski tangannya masih sibuk menyusun arang ke tungku, nampak di wajah Yama ada kemurungan berkelabut. Seminggu telah berlalu, semenjak kepergian Baek Hyeon ke pulau seberang, kabar Suaminya pun tak kunjung ia terima.
Setiap hari, Yama selalu memasak makanan kesukaan Baek Hyeon, berharap suaminya itu tiba-tiba datang dengan perut keroncongan hingga melahap semua makanan yang ia suguhkan.
Asap api tungkunya mulai mengepul, api menyebarkan diri ke arangnya. Yama mulai menanak nasi belanga yang tergantung.
Ada suara lambau mengucap salam. Pemuda yang bertugas menjaga batas wilayah daerahnya itu datang bersama kesenduan di wajahnya.
"Nasi belum masak. Kamu istirahat saja dulu, kalau semua sudah siap, Daeng (Kakak) akan panggil." Ucap Yama tanpa menengok ke Lambau.
"Daeng ..." Lirih Lambau, ada yang ingin ia katakan pada Kakak satu-satunya itu namun hatinya sungguh tak tega.
"Kau kenapa, Ndik? Kecapean?" Tanya Yama yang belum saja melihat ke Adiknya.
"Ini berita duka, Daeng. Baek Hyeon meninggal." Ungkap Lambau yang tak kuasa menahan tangisnya.
Yama terhenyak, namun karna tak percaya. Ia marah pada Lambau.
"Jangan bicara seperti itu. Baek Hyeon orang yang kuat. Dari mana kamu dapat berita itu?" Tanya Yama Protes.
Lambau tidak menjawab, dia masih menangis mengenang Kakak iparnya itu.
"Lambau, jangan menangis. Baek Hyeon belum meninggal. Kamu jangan menangisi orang yang masih hidup, itu pamali." Tukas Yama kesal.
"Daeng, harus sabar."
"Saya tidak percaya." Tangkas Yama kesal.
Lambau meraih kedua bahu Kakaknya,
"Saya tahu, Daeng tidak bisa menerima, Tapi ini kebenarannya, ada salah satu prajurit datang menemuiku di perbatasan. Kakak Baek Hyeon meninggal dalam misi meledakkan area militer Inggris."
Yama tersungkur di lantai, nafasnya terasa sesak, pekikan tangis sudah terdengar darinya.
"Hang Baek Hyeon!" Jerit Yama memanggil Suaminya.
Indo'nya (ibunya) yang saat itu sedang memetik sayuran di belakang rumah, berlari masuk ke rumah memeluk Yama. Sebelum Lambau memberi tahu Yama, Indonya sudah terlebih dulu mengetahui tentang kematian menantunya tersebut.
__ADS_1
"Dia terlalu baik, Indo. Dia rela mengorbankan hidupnya demi Negara saya. Karna dia sangat mencintai saya, Lambau." Ucap Yama terisak tangis.
Suara tangjs Yama meraung di gubuk anyaman bambu itu. Duka cita kehilangan suami di rasakan sebagian para Istri masa itu, termasuk dirinya.
-Cinta Sejati Takkan buatmu buta dengan hati nurani, melainkan dia akan menghidupkan rasa Iba agar kau tahu makna cinta sesungguhnya, yaitu PENGORBANAN -
*****************
Menembus Waktu ..
Abad ke-21.
Usai sholat isya,dengan mukenah yang belum ia lepaskan, Anna memilih berdiri di balkon ruang tengah memandangi keindahan malam di pyeongchandong.
Sebelumnya dia sudah menyiapkan makanan untuk kepulangan Dae Jung, Anna tak berniat turun ke bawah, biarlah Suaminya itu tenang dalam berpikir, mungkin saja kehadirannya setiap waktu buat Dae Jung tertekan, Pikir Anna.
"Jadi Begini Istri yang baik saat Suami pulang malah di biarkan sendiri." Ucap Dae Jung membuyarkan lamunannya.
Anna tersenyum kecil, rasa tak enak hati sejak tadi siang sehingga guraun Dae Jung belum bisa terbalas olehnya.
"Oppa, Sudah makan?"
"Ha, Aku belum bisa makan. Ada yang ingin aku lakukan terlebih dulu." Jawab Dae Jung.
"Tidak juga, hanya saja ada yang lebih utama ingin ku lakukan"
Sejak di kantor, Dae Jung sudah memantapkan hatinya untuk melakukan hal itu. Ini sudah hasrat yang berkata menggebu dalam jiwanya agar mengakui semua itu pada Tuannya.
Dia mendekat pada Anna. Melihat itu Anna takut bila Suaminya itu marah padanya.
"Oppa, Jangan mengingat pertanyaanku siang tadi. Lupakan saja. Aku hanya bergu..."
Belum lengkap kalimat Anna, Dae Jung telah meraih wajahnya lalu mencium bibir Istrinya itu untuk pertama kalinya.
Mata bolak Anna membelalak merasakan hangatnya bibir Dae Jung. Ciuman Dae Jung belum bereaksi sama sekali, sepasang bibir itu hanya berdiam oada tempatnya melekat.
Dae Jung melepas ciumannya,
"Kamu bertanyakan, Ini jawaban awal di mulai kisah cinta kita. Meski belum seutuhnya, Izinkan aku membangun secara perlahan untuk memberikanmu rasa tulus yang sempurna." Ucap Dae Jung membawa Anna tenggelam di kedua bola matanya.
Anna masih mematung, malam ini dia tak menyangka akan mendapatkan hal itu dari Dae Jung.
__ADS_1
"Anna, ini bukan nafsu semata, melainkan sebagian cinta sudah ada bersamanya." Ujar Dae Jung memegang kedua pipi Anna.
"Bolehkah aku melanjutkannya lagi?" Pinta Dae Jung.
Anna hanya mengangguk kecil. Seketika Dae Jung ******* bibir Istrinya itu dengan sepotong cinta yang ia rasakan. Kedua tangannya melingkar di pinggang Anna. Sesekali ia merabah tubuh Istrinya itu dengan lembut, memainkan lidah mencumbui bibir mungil istrinya, sementara Anna yang baru pertama kali ciuman hanya memasrahkan diri pada pria yang ia cinta.
Penuh kehangatan menjalar ke seluruh tubuh mereka, ciuman pertama sudah di mainkan penuh keromantisan di balkon rumahnya, Pyeongchandong malam itu jadi saksi bisu awal berseminya Cinta Reinkarnasi Hang Baek Hyeon dan Yama di Abad ke -21.
Ji Yeong yang sedari tadi mencari Dae Jung tak sengaja melihat Sahabatnya itu mamadu kasih dengan Istrinya.
Dia memilih bersembunyi di balik tembok,
"Rupanya Dae Jung sudah mulai mencintai Anna." Lirihnya yang begitu terharu.
"Sekertari Ji." Ada yang menepuk pundaknya.
Itu Yuna, dia mengagetkan partnernya.
"Kenapa bersembunyi?" Tanya Yuna namun ketika melihat Selasang Suami istri itu larut dalam ciuman mesra mereka, Yuna membuka mulut lebar.
"Sekertaris Ji, kamu mengungtip mereka? Ya ampun, Ini akibatnya kalau terlalu lama sendiri." Celetuk Yuna.
Ji Yeong membekap mulut wanita yang ia kagumi itu, lalu membawanya pergi dari sana agar Dae Jung dan Anna tidak terganggu.
"Jangan ganggu presdir lagi, mereka sudah saling mencintai." Ujar Ji Yeong.
Yuna memutar mata malas, lagi-lagi peringatan itu di lontarkan padanya.
"Saya sudah menghapus nama Presdir Kim di daftar calin berjodoh denganku."
"Lalu untuk apa kamu kemari?"
Yuna memperlihatkan kotak makanan tadi siang, dan juga sepaket kue yang di bawanya.
"aku kemari datang untuk mengembalikan ini pada Nona Anna, dan juga untuk memberikan ini padanya."
"Yakin itu bersih dari racun? " Tanya Ji Yeong ragu.
Yuna mebertawai pria yang ia beri julukan robot itu.
"Aku dan Nona Anna sudah berteman. Jadi mana mungkin aku meracuni temanku sendiri. Sudahlah aku akan titipkan ke pelayan Nas saja. Ah, lagipula mereka romantis sekali tadi. " Ujar Yuna berlalu meninggalkan Ji Yeong.
__ADS_1
Pria kekar itu berharap suatu saat itu bisa ia lakukan pada Yuna pula. Tinggal menunggu waktu saja. Dia akan mengatakan cinta pada gadis primadona Korain itu.