BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
TERPATRI


__ADS_3

"kenapa kamu menangis, kata ibuku anak laki-laki tidak boleh menangis. Hapus air matamu." Seru anak perempuan itu.


"Kau siapa? Kamu tidak tahu kenapa aku menangis,Kamu masih punya Ibu, sedangkan aku sudah tidak punya. Ibuku meninggal." Ujarnya yang masih menangis.


"Begitu, domal sini." Panggilnya pada anjingnya " domal, sejak kecil Ibunya mati. Tapi dia tidak sedih karna dia tahu Ibunya sudah ada di surga." Lanjutnya dengan bermaksud untuk menghibur.


Anak laki-laki itu memperhatikannya.


"Begitu? apa Ibuku bisa melihatku?" Tanyanya.


"Iya, dia bisa melihatmu di atas langit. Sekarang dia pasti melihatmu. Ibumu pasti tidak ingin kau bersedih."


Dia mendongah ke atas langit biru, sketsa wajah Ibunya nampak di pelupuk matanya.


"Ibu .." Lirihnya berkaca-kaca.


"Namaku, Ahn Bora. Aku siswi baru di sekolah ini. Namamu siapa?" Anak perempuan itu memperkenalkan diri.


"Namaku, Dae Jung." Sahutnya.


"Ha, Dae Jung kata domal jangan menangis lagi."


Sejak saat itu mereka berdua menjalin keakraban, hingga sekolah menengat atas sampai ke bangku kuliah, Dae Jung yang merasa nyaman pada Bora mengatakan cinta pada gadis dari anak konglomerat di Soeul itu, mereka berpacaran dan sepakat meneruskan S2 mereka di Sidney.


#BORA



Bora wanita kedua setelah Ibunya Dae Jung kenal sebagai tempat nyaman untuk menyandarkan diri, Bora segalanya untuk Dae Jung. Cinta, semua yang ada padirinya untuk Bora semata.


Kenangan sewaktu SMP itu terbayang di ingatan Dae Jung. Itu takkan pernah ia lupa, sebab pertemuannya dengan Bora mampu menguatkannya di kala sulit kehilangan Ibunya.


Bora masih memeluk erat tubuhnya, namun kedua tangan Dae Jung begitu berat untuk membalas rangkulan mantannya itu, yang terbayang hanyalah janjinya pada Anna untuk mencintai Istrinya lebih dari apapun.


"Bora, lepaskan aku." Ucap Dae Jung.

__ADS_1


Pelukan itu malah semakin kuat untuknya.


"Tidak, tolong aku Oppa, aku takut." Lirih Bora yang masih bercucuran air mata.


"Bibi Nami, tolong lepaskan Bora dariku." Pintanya pada Ibu Bora.


Bibi Nami berusaha melepaskan pelukan Bora terhadap Dae Jung, namun perempuan itu malah mendorong Ibunya hingga terpental di kasur.


"Ada apa denganmu, Bora? kenapa sekasar itu pada Bibi Nami? " Tanya Dae Jung lantang.


Bora melepaskan pelukannya, beranjak mengambil pecahan kaca jendela yang beserakan di lantai.


"Apa kalian sudah tidak peduli denganku? kalian tidak mengerti keadaanku? lalu mengapa kalian membiarkan aku hidup?" dia lagi-lagi mengancam untuk bunuh diri dengan cara menggoreskan kaca di tangannya.


Dae Jung tersentak, Bora sudah berani mendorong Ibunya sekasar itu, bahkan ancaman bunuh diri acapkali ia lakukan, dia melihat sikap Bora sudah banyak berubah, tak ada kelembutan lagi di diri cinta pertamanya itu.


"Bora, Kamu sadar dengan apa yang ingin kau lakukan? letakkan pecahan itu." Tegas Dae Jung padanya.


"Tidak, aku tidak ingin melepasnya sebelum kamu


Dae Jung tak bergeming sama sekali, janji itu takkan di ucapnya untuk kedua kali pada orang yang berbeda, ada banyak pelajaran tentang sikap seorang laki-laki yang baik dari Presdir Hang, termasuk janji hanya di ucapkan sekali, dan itu sudah terucap pada Anna di Namsan Tower.


Tak ada jawaban dari Dae Jung, Bora melancarkan aksinya, mengiris tangannya sedalam mungkin hingga lengan kanannya menegeluarkan darah. Dae Jung sigap menghampiri Bora lalu membuang pecahan kaca itu.


"Perawat, buat Bora tenang." Titah Bibi Nami pada kedua perawat untuk menyuntik Bora dengan obat penenang.


Di bantu oleh Dae Jung, suntik penang itu sudah bereaksi di tubuh Bora, lalu tertidur membawa luka goresan di tangan yang masih mengeluarkan darah.


Sementara luka Bora di perban, Dae Jung menanyakan pada Bibi Nami mengapa Bora sampai senekat itu. Bibi Nami menceritakan bahwa Bora di perkosa oleh teman sekampusnya saat mereka Kukiah di Kota S*dney. Karna tak ingin di ketahui orang lain, Bora kembali ke Korea tanpa memberitahu Dae jung keadaanya, dia di sembunyikan di Daegu selama lima tahun oleh irangtuanya agar nama baik keluarga tetap terjaga, Bora di kabarkan pada publik sudah menikah dan tinggal Eropa agar kerahaasiaan mereka tetap terjaga, sampai detik ini.


Mendengar semua penjelasan Bibi Nami, Dae Jung tertegun. Selama ini Bora yang ia anggap berkhianat menyimpan banyak luka, wanita yang tujuh tahun pernah bersamanya tidak pernah mengkhianatinya.


"Maafkan aku Bora." Lirihnya.


Dae Jung melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia mengingat Anna yang mungkin saja terbangun menunggunya.

__ADS_1


"Bibi Nami, saya harus pulang ke Seoul sekarang."


"Tapi Dae Jung, Bora akan mencarimu, kau sudah menampakkan wajah di depan matanya. Dia tidak akan berhenti mencarimu." Ujar Bibi Nami sangat Khawatir.


Dae Jung menghela nafas.


"Tetap saja saya harus pulang Bibi Nami, ada yang yang sudah menunggu saya di rumah, Istri saya." Sahut Dae Jung.


"Bagaimana jika dia mencarimu?" Tanya Bibi Nami.


"Aku akan datang mengunjungknya lagi." Jawabnya.


Bibi Nami mencoba mengerti, walau ia tahu anaknya itu akan memberontak lebih dari ini sebab Dae Jung tak ada lagi di sampinya.


Dae Jjng turun ke bawah menuju mobilnya, di dalam mobil Ji Yeong sudah terlelap menunggunya.


"Pak Su, Kita pulang sekarang." Ucapnya pada sopirnya.


Di sepanjang perjalanan menuju Seoul, Dae Jung tak henti menata pikirannya yang sudah carut marut, mengapa semua harus terungkap saat dia telah bersama Anna, takdir seperti mempermainkan perasaannya, sediki demi sedikit nama Bora sudah tergantikan dengan kehadiran Anna, namun di saat dia mencoba mencintai Anna sepenuhnya, Bora hadir membawa sujuta luka yang harus ia sembuhkan untuk membalas semua kebaikan Bora di masa silam.


"Hm, kita sudah perjalann pulang." Ji Yeong terbangun dari tidurnya.


Dae Jung tak membalas kicauannya.


"Apa kau sudah bertemu dengannya?" Tanya Ji Yeong.


"Aku merasa, bukan Bora yang menerorku, dengan keadaan yang begitu mana mungkin dia bisa melakukannya." Ucap Dae Jung menepis kecurigaan sahabatnya itu.


"Mungkin saja, bukan dia. Dan mungkin saja ada orang lain lagi di balik ini." Imbuh Ji Yeong.


Sementara di tempat yang berbeda, Anna memasuki kamarnya yang penuh hiasan bunga dan lilin tertata rapi, menyilaukan mata Anna yang berbinar pula saat itu. Dia tahu, Ini pasti perbuatan Dae Jung yang sok cool tapi menyimpan banyak kasih sayang untuk dirinya.


Tiga jam Anna menunggu Suaminya, lilin yang menyala sudah pasrah membakar dirinya hingga lelehan terakhir, namun Dae Jung tak kunjung datang di kamarnya, membawa setumpuk cinta untuk melewati malam panjang yang ia rencanakan.


"Oppa, keluar kota untuk apa?" Gumam Anna melihat jam dinding menunjukkan pukul dua pagi.

__ADS_1


Anna mencoba berbaring di atas kasur yang penuh taburan mawar putih, sembari menunggu Dae Jung, Anna ingin melelpakan mata sejenak.


__ADS_2