BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
AMUKAN BORA


__ADS_3

mengusapa kepala Bora, dia berusaha agar mantan suaminya itu berhenti bersedih.


"Bora, jangan menangis. Kata orang, kecantikan perempuan itu terletak pada senyumannya." Ucap Anna.


"Pak Kim hanya tidak enak hati saja. Dia banyak pikiran."


"Di berlaku kasar padaku, karna kamu." Ucapk Bora membentak Anna.


Dia malah mendorong Anna hingga tubuh mengil Anna terpental ke lantai, melihat itu Dae Jung snaagt murka. Suami mana yang tega melihat istri yang di cintainya di kasari oleh orang lain, meskipun itu mantan kelasihnya.


"Bora, kamu psikopat! berlaku kasar pada psikolog sendiri." Ujar Dae Jung membantu Anna bangkit.


Bora makin melempar tatapan tajam pada Anna, dia tak rela dirinya di caci hanya karna perempuan muslim itu. Bora mengambil gelas berisi jus lalu melemparkannya ke arah Anna, dengan sigap Dae Jung memeluk istrinya sehingga gelas itu mengenai punggung Dae Jung.


Belum puas, Bora melempar gelas yang satu lagi pada Dae Jung. Namun pria penuh tanggung jawab itu melindungi istrinya.


Anna terkejut melihat ekspresi kemarahan Bora, sedeprsi itukah perempuan cantik itu, sehingga sangat membahayakan orang-orang di sekitarnya bila emosinya meradang.


Dae Jung langsung memutar kedua tangan Bora ke belakang punggun, lalu mengikatnya dengan tali bungkusan kotak kenangan mereka. Dia sadar, cara ini tidak bagus untuk psikis Bora, tetapi ini cara yang lebih baik melindungi Anna agar tidak jadi sasaran amukan Bora.


"Anna, kamu teriak panggil perawat Bora." Titah Dae Jung.


Anna berlari keluar mencari keberadaan kedua perawat Bora yang sedari tadi tidak menampakkan diri, ternyata mereka sedang beristirahat di sofa panjang dekat kamar Bora. Anna membangunkan mereka, kedua perawat kelelahan itu masuk ke kamar Bora membawa alat-alat untuk menenangkan pasiennya.


Anna memutuskan untuk menunggu di luar saja, ini sudah situasi yang tidak bagus bila dia menampakkan diri lagi di depan Bora. Tidak lama kemudian, Dae Jung keluar kamar itu dengan baju yang di penuhi jus jeruk, melihatnya Anna sangat kasihan pada suaminya itu.


"Ayo, kita pulang sekarang. Tidak ada gunanya kita disini. Lain kali kita datang lagi kalau dia sudah merasa bersalah padamu." Ujar Dae Jing menarik tangan Anna.


Anna hanya menurut saja, mimik wajah Dae Jing masih kesal dengan kejadian tadi. Anna hanya mencoba menenangkannya tanpa berucap apapun, di ruang tamu bawah mereka berpapasan dengan Bibi Nami.


"Kalian mau kemana?" Tanyanya.


"Kami mau pulang."


"Secepat itu?"


"Bora baru saja tidur, kami juga punya banyak urusan lain, Bi." Ujar Dae Jung pamit dari rumah mewah salahsatu pengusaha tekstil di Korea Selatan itu.


Anna masuk ke dalam mobil di susul pula Dae Jung di sampinya, dia mengambil tissue untuk membersihkan sisa jus di baju suaminya.


"Kenapa kamu mau tadi di suruh sama Bora?" Tanya Dae Jung.


"Ah, Aku hanya mengikuti alur saja. Aku tidak tahu cara menolaknya bagaimana."

__ADS_1


"Aku tidak suka ada yang menyuruhmu seperti itu, di rumah aku sediakan pelayan banyak, supaya kamu nyaman, Bora yang baru kenal malah memerintah kamu. " Ketus Dae Jung masih kesal dengan sikap Bora yang ngebossy pada Anna.


"Kita kembali ke Seoul, Pak Su." Ucapnya pada sopir pribadinya yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Anna mencolek dagu Dae Jung, itu cara jitu menggoda suaminya, pria behidung lancip itu tersenyum melipat bibir, rasa kesalnya di kalahkan oleh godaan Anna yang menggemaskan.


"Kita sekarang di Daegu, banyak destinasi wisata disini, mumpung aku free kerja, aku mau mengajakmu keliling?" Usul Dae Jung, ini salahsatu ucapan terima kasihnya karna Anna sudah berusaha sabar ketikap menghadapi Bora.


Mereka menuju wisata alam songhae gongwon, menikmati semilir angin lembut, matahari yang tak terlalu panas mendukung perjalanan mereka mengitari salahsatu tempat wisata terkenal di Kota Daegu.


Anna bagai menghirup udara segar di pagi hari, bunga-bunga di taman Duryu Park bermekaran, tertata rapi di batasi pagar kecil setinggi lutut orang dewasa, sungai yang sangat luas menghamparkan kejernihan yang di himpit pepohonan yang berdaun jingga, Anna dan Dae jung menyusuri lorong yang membentangkan pemandangan sejuk di kiri kanan mereka.


Di siang itu banyak orang yang juga lalu lalang, padangan muda mudi, keluarga yang juga berpiknik, paangan lansia, memang Duryu Park salahsatu tempat romanti berkencan di Kota Daegu.



"Oppa, Ini indah sekali, Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?" Ujar Anna penuh syukur.


Dae Jung tak henti menatap Anna yang membenyangkan tangan sambil memejamkan mata.


"Kamu bahagia?"


"Aku sangat bahagia, sejak berumahtangga denganmu, aku selalu mendapatkan kejutan hidup yang harus aku syukuri." Sahut Anna.


"Oppa, siapa nama Nabi dan Rasul kita ?" Tanya Anna mengetes sejauh pengetahuan agama Islam Dae Jung.


"Itu pertanyaan anak SD, Anna." Ketus Dae Jung.


"Kalau begitu, Oppa pasti bisa jawab dong."


"Nabi dan Rasul itu Muhammad." Sahut Dae Jung.


Anna masih berjalan mundur, dia ingin menanyakan lebih banyak lagi pada suaminya.


"Tau Syahadat? Rukun iman?"


Dae Jung mengucapkan syahadat, lalu mengucapkan keenam rukun iman.


"Masya Allah, kamu tidak sepenuhnya kafir. Kenapa Oppa membiarkan orang-orang mengatakan kamu Atheis?"


"Kenapa harus di luruskan? itu urusanku dengan Tuhan."


Anna membenarkan, dia lupa bahwa suaminya itu menyimpan kecerdasan di atas rata-rata manusia pada umumnya, tentu dia punya sudut pandang sendiri tentang kebijakan hidup, baik dari segi personal hingga keyakinan.

__ADS_1



Ahhkk!!!


Karna berjalan mundur di depan Dae Jung, Anna hampir terjatuh, dengan sigap Dae Jung menarik tangannya lalu merangkul istrinya.


"Selagi aku masih hidup, aku tidak akan membiarkanmu sakit bahkan sekalipun alam ini yang mengujimu." Ujar Dae Jung membawa Anna laurt dalam kedua bola matanya.


"Bagaimana jika ada yang menyakitiku?" Tanya Anna.


"Aku memporak-porandakan mereka. Karna bagiku, kamu adalah semestaku."


Anna tersipu malu, ternyata di balik sikap dingin Dae Jung menyembunyikan pria romantis yang hanya ada di drama korea.


Mereka kembali berjalan, menyusuri jalan setapak, bunga-bunga menyapa mereka dengan aroma wanginya.


"Apa kamu pernah ke tempat ini?" Tanya Anna.


Anna tidak ingin bila moment kebersamaannya adalah reinkarnasi Bora dulu. Dia ingin mengukir sejarah cinta sendiri di tempat yang berbeda dengan suaminya, tanpa ada nama Bora yang ikut terkenang di tempat itu.


"Pernah. Bersama Ibuku."


"Ibumu, pasti orang yang sangat baik."


"Iya, pribadinya tidak beda jauh darimu. Selalu ingin tahu banyak hal, kepulanganku sekolah, bagaimana aku dengan teman-temanku, kerudungmu, semuanya. Kamu selalu mengingatkan aku dengan Ibuku."


Anna menghentikan langkahnya,


"Semoga aku bisa seperti Ibu, menjadi wanita yang baik."


Dae Jung menghela nafas, dia berusaha menahan air yang ingin memenuhi kelopa matanya.


"Sayangnya, Ibuku meninggal membawa banyak luka. Dia hidup tidak seindah impian, meninggalkan aku sejak SMP."


"Membawa banyak luka? maksudnya?" Tanya Anna bingung.


"Suatu saat aku akan ceritakan padamu, tapi bisakah kau melahirkan anak yang baik seperti ibuku melahirkan aku?" Ujar Dae Jung menggoda Anna.


"Tentu saja."


Dae Jung merangkul Anna lalu berkata,


"Bakklah, nanti malam akan buatkan untukmu."

__ADS_1


Anna tersenyum geli mendengarnya.


__ADS_2