BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
MISI DAN VISI KORAIN


__ADS_3

Di depan para direksinya, Kim Dae Jung mengutarakan rencananya tentang tanah di mamali, sebagai pemegang amanah, dia tak bisa berbuat yang lebih sesuai keinginannya, sehingga memutuskan untuk membatalkan rencana semula.



"Saya tahu, ini diluar kendali kita, namun kita masih bisa


punya cara yang lebih efektif di banding dengan mematahkan kehidupan oranglain." Ujar Dae jung di Kursi kebesarannya.


direksi yang terlibat saat itu menyimak penuturan Dae jung.


"Jadi langkah apa yang harus kita ambil, Pak." Tanya direktur pembangunanya.


Dae jung menarik nafas, sesuatu yang ingin ia jelaskan sudah jadi pertimbangannya seminggu ini.


Dae Jung berdiri di depan cahaya blue


"Di sektor pertama, kita bangunkan mereka unit rumah untuk kalangan bawah, ini jadi sasaran agar mereka dapat tempat tinggal layak namun dengan harga yang mudah mereka jangkau, angsuran ringan tentunya bunga yang rendah.


Di sektor kedua, kita dirikan pusat perniagaan, selain peluang agar bisa menjalankan bagi mereka yang ingin membuka usaha, dan penunjang masyarakat meliputi seluruh daerah ini, tentunya itu pula menguntungkan Korain.


Di sektor ketiga, ini peluang kita membangun wahana permainan yang tidak lepas jadi sasaran para penduduk sekitar.


Untuk menyisakan masyarakat yang tidak ingin terlibat dalam program kita, tawarkan renov rumah dengan angsuran yang ringan pula.


Saya pikir, mereka tidak akan menolak penawaran kita, sebab mereka belum di hiraukan pemerintah setempat, jadi ini peluang Korain merangkul mereka dalam program kita.


ini keputusan yang sudah mutlak, lagipula saya sudah berunding dengan istri saya, pemilik sah tanah mamali."


semua yang mendengarkan itu mengangguk seraya menepuk tangan untuk pimpinan mereka, Usaha real astate Dae Jung kali ini akan menjadi proyek paling besar untuk daerah itu.


Rapat itu telah berakhir, semua bubar dengan membawa tugas mereka masing-masing.


Dae Jung menuju ke ruangan pribadinya kembali, tak lepas pula dari Ji Yeong dan Yuna mengikuti langkah pria jenius itu.


Dia kembali melihat laporan-laporan pabrik kayu lapisnya yang di berikan oleh Yuna.


"Pak permintaan dari jepang kali ini meningkat dari tahun sebelumnya." Ucap Yuna memperlihatkan tabel laporannya.


"Ya, Cukup bagus, baiklah kalian berdua bisa makan siang." Ucap Dae Jung pada Ji Yeong dan Yuna.


"Hmm, Pak Kim, mau makan siang apa? Sekalian bisa saya bawakan." Tanya Yuna menawarkan.

__ADS_1


"Tidak usah repot, Terimakasih." Sahut Dae jung.


"Tidak merepotkan kok, Pak Kim. saya bersedia membawakannya ke ruangan, Bapak." Yuna menambahkan.


Ji Yeong mengeleng, Yuna memang belum bisa berubah bahkan setelah Dae jung menikah pun dia masih mengejar cinta yang tak mungkin di raihnya.


"Oh, maksud saya tidak usah, sebab saya akan menjemput Anna dulu, soalnya saya di undang untuk makan siang di rumah keluarganya." Sahut Dae Jung.


Ji Yeong mengunci bibir menahan tawa, Yuna memang cerdas secara logis matematis, namun intrapersonal sangat nol. dia tidak mampu menghargai dirinya sendiri sebagai perempuan yang elegant dan cerdas yang banyak menyimpan kelebihan, hingga tak menyadari kelakuannya selalu menjatuhkan harga dirinya sebagai perempuan independent.


Ji Yeong dan Yuna meninggalkan ruangan itu.


Dae jung yang bersiap - siap menjemput Anna, tiba-tiba menerima telpon di handphonenya, nomor yang tak di kenal, berkode Korea selatan,


satu gesekan ke kanan, dia menjawab panggilan itu.


dengan mengucapkan kata salam korea,


"Ya, Hallo. Apa kabar? ini dengan siapa?"


Tak ada jawaban dari penelpon hanya keheningan yang bersua.


"Hallo, hallo, ini dengan siapa? ada yang bisa saya bantu? " Tanya Dae Jung sekali lagi.


'Ini orang iseng atau apa.' Dae Jung mengerutu.


Dae Jung mendial nomor kepala pelayan Nas, memberitahukan agar menyuruh Anna untuk bersiap-siap.


**************


Ji Yeong memutuskan untuk makan di rumah makan seafood yang berada di dekat kantor Korain, bersama ke lima bawahannya, dia memesan beberapa makanan khas indonesia, sambal tiram, ikan bakar kecap, cumi ireng, udang asam manis, serta beberapa menu sayuran lainnya.


Ini adalah upaya Ji Yeong untuk mengenang hari kelahirannya yang sempat turtunda di Korea bulan lalu.


Manager dan para staf yang bersamanya memulai menyantap makanan yang masih mengepulkan asap beraroma sedap, sembari bercengkrama ringan, sesekali candaan menuai gelagat tawa mereka.


Ji Yeong yang pamit sejenak ke toilet, saat memasuki bilik toilet, dia tak sengaja mendengar percakapan tentang dua pria yang sedang meroko di dalam toilet tersebut, di awal perbincangan dua pria itu Ji Yeong belum menggubris, namun ada yang mulai menarik perhatiannya ketika dua karyawan di kantor korain itu membahas wanita yang juga karyawan Korain.


"Jika aku bisa meniduri perempuan itu takkan ku lepas dia sampai benar-benar terkulai." Ujar pria bertubuh gemuk itu.


"Mana bisa kamu dapetin dia sementara pastilah seleranya tinggi, sepertinya dia naksir ke bos besar." Sahut temannya.

__ADS_1


"Iya, itu karna dia melihat materinya, banyak uang naksirlah, makanya ini aku kumpulin duit buat ngajak di ngamar semalaman, siapa coba tidak bangga meniduri primadona korain itu.?" Imbuh pria itu lagi.


"Wah, parah lu, emang lu gak takut ama bos ?" Tanya temanya dengan mulut yang menjepit rokok.


Pria gemuk itu mengehembuskan pula asap rokok. yang telah memenuhi rongga mulutnya, kemudian tertawa, tak menyadari bahwa ada sepasang telinga yang mendengar setiap kalimat yang di ucapkannya.


."Alah, pasti bos juga sing make dialah, mana ada sekertaris suci sekarang? Saya akan memiliki Yuna, Cintanya juga tubuhnya, perempuan seperti itu hanya di sodorkan uang matanya pasti melek, Haahahhahah ...... " Lanjutnya dengan terbahak-bahak.


Ji Yeong geram mendengar hal itu, dia menampakkan diri dai balik bilik toilet.


"Kalian rencananya luarbiasa, kenapa tidak jadi mafia saja?" Ucap Ji Yeong seraya menepuk tangan.


kedua pria itu memasang wajah shock, rokok ditangan mereka jatuhkan ke lantai lalu menginjak untuk memadamkan bara apinya.


"Pak Ji." Ucap mereka dengan menunduk.


Ji Yeong melangkah lebih dekat lagi ke mereka.


"Tahu apa kalian dengan presdir Kim dan Yuna?" Tanyanya dengan menahan amarah.


"Maaf, Pak. Kami hanya bercanda." Jawab pria gemuk itu.


Ji Yeong mengangguk-angguk.


"Kamu mau mau jadikan Sekertaris Yuna apa tadi?"


Mereka gamang, tak ada yang berani mempertanggung jawabkan kata-katanya.


Kedua Ji Yeong memegang kera baju pria gemuk itu,


"Apa yang ingin kamu rencanakan pada Yuna?" Tanya Ji Yeong sekali lagi.


"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud begitu, hanya hasrat saya saja sebagai lelaki."


Plakk !!


Ji Yeong melayangkan pukulan di pipi kiri pria itu,


"Ini, Pelajaran buat kalian, jangan pernah menjelekkan bos kalian, karna kalian dapat gaji dan bisa makan dari mengabdi ke dia.


Dan satu lagi, Jangan pernah usik Yuna! dia tidak seperti yang kalian pkirkan! ingat itu! Kali ini aku lepaskan kalian, jika sampai saya mendengar ulah kalian, selain keluar dari kantor Korain, kalian bisa berurusan dengan Hukum."

__ADS_1


Ji Yeong meninggalkan kedua pria yang penuh penyesalam itu, namun pria gemuk itu memendam dendam yang amat sangat pada atasannya sehingga niat balas dendam terbersit di pikirannya.


__ADS_2