
Siang itu Anna masih sibuk belajar, jadwal hari ini ialah belajar bahasa Inggris. Bersama Jun Hyun dia semakin fasih dalam berdialog menggunakan bahasa Inggris. Kegiatan itu mereka lakukan di ruang tamu, di dampingi beberapa pelayan yang selalu sedia untuk melayani Nona mudanya.
"Jun Hyun, Saya mau ke atas dulu. Mau ambil ponsel." Ucap Anna meninggalkan gurunya itu seorang diri.
Jun Hyun beranjak dari tempat duduknya, melihat berbagai foto yang terpajang di dinding, Semua tertata rapi. Dia mengamati satu per satu gambar keluarga Dae Jung, hingga foto pernikahan pemiliki Korain itu dengan muridnya, Anna.
Dia terhenti ketika melihat sosok pria berbadan besar, Kim Do Hang, Ayah Dae Jung. Tatapan mata Jun Hyun menajam melihat foto Kim Do Hang tersenyum menggendong Dae Jung kecil.
"Jun Hyun." Anna menyapanya dari belakang.
"Ini foto keluarga Tuan Kim. Itu foto pernikahanku, dan Ini Foto Ibu mertuaku, dan ini foto Ayah mertuaku." Jelas Anna seraya menunjuk ke semua foto yang ia kenalkan pada Jun Hyun.
"Saya, tahu." Sahut Jun Hyu.
"Ha? Kamu tahu, dari mana?"
"Hanya seperempat penduduk di negara ini tidak mengetahui keluarga Korain, Pemilik Perusahaan Property yang terbilang sukses, bahkan kehidupan keluarganya pun tidak lepas jadi sorotan publik." Tukas Jun Hyun.
"Iya, mereka sangat di kagumi karna kerendahan hatinya." Ucap Anna tersenyum melihat foto keluarga Dae Jung.
"Oh begitu, bagaiman jika sebaliknya?" Sahut Jun Hyun dengan mimik wajah serius.
Anna tak mengerti maksud Jun Hyun yang menyimpan makna di balik pertanyaan tersebut.
"Maksudnya? Saya tidak mengerti."
Karna tak ingin menjawab,
"Lebih baik kita kembali belajar." Jun Hyun mengalihkan lalu kembali duduk di sofa.
Anna juga kembali ke posisi semula, namun karna dia tipe manusia yang ingin tahu segalanya, Anna pun menanyakan sesuatu yang lebih personal kepada gurunya itu. Suatu keberanian yang ia dasari ingin menjadikan teman pria berambut coklat itu.
"Jun Hyun, Kamu Kuliah di mana sebelumnya? bisa secerdas ini."
Jun Hyum tersenyum.
"Saya pernah kuliah di Jerman."
Anna tertegun. " Wah, kenapa kamu ingin jadi guru private seperti ini? Padahal kamu bisa kerja di perusahaan besar dengan kecerdasan yang kamu punya."
"Karna saya punya alasan dan tujuan." Jawab Jun Hyun.
Anna mengangguk.
"Aku disini, belum punya teman, yang aku kenal cuma kedua sekertaris Tuan Kim yang baik, selebihnya itu pelayan - pelayan di rumah ini." Ujar Anna polos.
__ADS_1
"Jun Hyun, mulai sekarang bisakah kita berteman?" Tanya Anna mengulurkan tangan.
Jun Hyun belum menjawab, dia malah menatap Anna yang menanti jawaban.
"Baik, Kita sekarang jadi teman." Jawabnya meraih tangan Kanan Anna.
******************
Malam pun tiba, Anna masih di dandani oleh make up Artist, gaun indah juga tersedia untuknya. Kepala pelayan Nas masih mendampingi Anna dari arah belakang, pantulan cermin memperlihatkan kecantikan Anna yang bersinar dari dalam.
Di ruangan sebelah, Dae Jung juga masih di kelilingi dua desine yang merapikan dengan setelas Jas mahal yang di pakai olehnya. Jam tangan, Sepatu mahal, telah dipakainya.
"Nona Anna sudah siap." Ucap kepala pelayan Nas.
Dae Jung membalikkan badan ingin melihat istrinya, begitu terkesimanya dia dengan penampilan Anna yang bergaun ungun dengan hijab putihnya. Sangat Cantik dan belum pernah melihat wanita muslimah secantik Anna secara langsung, itu pengakuan Dae Jung dalam hati. Setelah selesai, mereka menuju Hotel di mana acara resepsi pernikahan teman Dae Jung.
"Kenapa melihatku seperti itu? Aku cantik malam ini?" Tanya Anna menggodanya.
Dae Jung hanya memalingkan wajahnya kembaki dari Anna.
Ke empat mobil iringan Dae Jung pun telah tiba di acara, mereka memasuki lift menuju lantai tujuh. Saat memasuki ball room, mata para tamu undangan terpusatkan pada Dae Jung yang menggandenga tangan seorang perempuan muslim.
Tak banyak yang tahu bahwa pewaris Korain tersebut sudah melepas status lajangnya. Terlebih lagi pada Anna, yang mereka anggap penampilannya terbilang aneh bagi mereka yang di Negara minoritas muslim.
Seketika para tamu yang berasal dari kalangan menegah atas itu mengeluarkan suara kasak-kasuk sembari berbisik ke satu sama lain.
Sementara Anna yang berjalan di gandeng oleh Dae Jung merasa tidak percaya diri menjadi pusat perhatian seluruh pasang mata.
'Ya Allah, Aku seperti Ingin mengalami eksekusi mati.' Batinnya.
Karna mengetahui kepanikan Anna, Dae Jung membiarkan Anna Seorang diri di meja tamu, dia ingin menyapa satu per satu teman bisnisnya yang sudah lama tak bertemu.
"Semua yang hadir malam ini pasti orang-orang kaya Korea, Aku harus bagaimana menyapa mereka." Gumam Anna kebingungan.
""Inikah yang di rasakan oleh Cinderella mengawali kehidupannya sebagai Putri dari Pangeran. Ha, Tidak enak sekali." Lanjutnya yang makin membatin.
Anna melirik berbagai makanan yang tersaji di meja, botol minuman alkohol merk termahal sudah siap mendampingi sajian tersebut. Tak ada yang bisa ia makan, terlalu rumit dan juga tak tahu bagaimana cara memakan semuany. Belum lagi, ketakutan bila makanan itu mengandung jenis hewan yang di haramkan.
"Oh, Tuhan. Aku mati kutu malam ini." Keluhnya.
"Nona, Anna." Seru suara perempuan.
"Ha, Sekertaris Yuna." Sapanya.
Yuna sangat cantil pula malam itu, gaun hitam menjuntai hingga ke lantai dengan belahan dada yang menonjolkan sisi kewanitaanya. Sangat Anggun dan Seksi.
__ADS_1
Sekertaris Yuna duduk di sampingnya, dia perintah oleh Dae Jung untuk menemani Anna.
"Nona, Anna. Ini adalah Wedding Party Anak dari orang terkaya urutan ke empat di Korea Selatan." Ujar Yuna.
"Wah, pantas saja semewah ini." Sahutnya seraya mengeleng.
"Ya, begitulah. Tapi Nona Anna harus tahu, di pernikahan mereka ini banyak menyimpan rahasian." Ucap Yuna merendahkan suaranya.
""Rahasia apa? Sekertari Yuna."
Yuna lebih mendekatkan kursinya ke samping Anna. Dia ingin menjelaskan pada Anna tentang kehidupan kalangan berduit di sekitarnya.
"Sini, Nona lihat yang bergaun merah disana, itu adalah istri ke dua dari perusahaan tekstil. Dia hanya memanfaatkan popularitas Suaminya, diam-diam dia juga mempunyai simpanan pria.
Nona Anna liat pria tua yang botak di sana di kelilingi emoat wanita, dia mempunyai empat Istri fan itu Istrinya semua.
di simpulkan, Pria-pria kaya tidak akan setia pada satu wanita, dan begitupun juga wanita itu sendiri." Jelas Yuna berbisik pada Anna.
Keberatan dengan pernyataan Yuna yang demikian, Anna langsung membalasnya,
"Sekeryaris Yuna, itu salah. Mereka itu hanyalah orang-orang yang tak mengenal Cinta dalam hidupnya, Nafsu adalah keutamaannya saja. Ha, lagipula Sekertaris Yuna sudah gibah."
"Gibah? apa itu?" Tanya Yuna bingung.
"Gibah itu membicarakan keburukan orang lain, sama saja memakan bangkai sesama munusia, ya, artinya orang suka gibah itu kanibal. yang tadi Sekertaris Yuna lakukan Itu namanya Gibah." Jawab Anna polos.
Yuna menyerngit, giginya menggigit bibir bawahnya, menahan emosi atas ucapan Anna.
"Ha, perempuan ini, sangat mengejengkelkan,Aku dibilang Kanibal. Andai saja kamu Istri Pak Kim, kamu sudah tergeletak di lantai." Batin Yuna yang mengcengkram kuat gelas minumannya.
"Sekertaris Yuna, Yang tadi kamu ucapkan itu bukan karna tak ada cinta sejati, melainkan mereka di dominasi nafsu ketimbang memahami arti cinta. Sekertaris Yuna, Cinta sejati hanya di dapatkan oleh orang-orang yang berhati murni. dan itu sudah langkah terjadi. Contohnya, ketika ada menyukai kita apa adanya tanpa make up ataupun ketenaran, rela berkorban iti namanya cinta sejati." Jelas Anna.
Yuna berusaha menahan coleteh istri bosnya itu. Belum puas Anna kembali melanjutkannya,
"Dan Yuna Cinta sejati tidak butuh tubuh yang seksi. melainkan...
Yuna Tak tahan lagi,
"Aku bilang berhenti !" Teriak Yuna dengan keras.
Emosi Yuna memecahkan Anna hiruk pikuk pesta Alhasil semua yang ada di ball room memusatkan perhatian pada kedua perempuan Korain itu. Sesaat Suasana itu hening tak ada kata yang mereka ucapkan.
"Ya ampun, Aku tadi kenapa bisa sefrintal itu. Bagaimana ini." Lirih Yuna dalam hati.
"Sekertaris Yuna, kamu baik-baik saja?" Tanya Anna.
__ADS_1
"Ya, Aku baik-baik saja. aku pamit ke toilet dulu."