
Dae Jung keluar dari mobilnya, dengan balutan baju dingin, langkahnya begitu gagah ke arah Anna yang memperhatikan dari kejauhan, tatapan dingin tak lepas dari wajah tampannya, detik demi detik kian mendekati gadis berparas manis itu.
"Selamat malam." Ucap Dae Jung dengan tanpa lipatan senyum di bibirnya.
"Ya, malam."
Ana memperhatikan Dae Jung dari ujung kepala hingga ke bawah mata kaki. Wajah pria di hadapannya sepertinya tidak asing, atau karna kebanyakan nonton dramkor hingga bayangan wajah aktor-aktor tampan menggeliat di pikirannya hingga mengaitkan dengan pria misterius ini? Batin Anna.
"Saya ingin bertemu, karna saya ingin memberitahu sesuatu tentang .." Dae Jung tak sanggup melanjutkannya. Dia belum memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan pada Anna.
"Tentang apa?" Tanya Anna yang menunggu jawaban.
"Tentang, tentang kita yang akan menikah."
Anna membelalakkan mata, pikirannya mencurigai bahwa Dae Jung kehilangan akal sehat.
"Kau mabuk atau salah makan?" Tanya Anna sembari mengamati wajah Dae Jung.
"Tidak, besok juga kamu akan tahu. Tapi sebelum itu saya ingin buat perjanjian juga."
Dengan satu tarikan nafas, pria yang sudah menamatkan gelar masternya di Sidney itu berucap.
"Bisakah kita menikah kontrak?" Lanjut Dae Jung.
Anna terperanjat dari tempatnya berpijak, pertanyaan Dae Jung bikin Anna naik pitam. Dia menggigit bibir bawahnya, pertanda sangat kesal pada Dae Jung.
"He! Kau pikir kau siapa? Seenaknya datang mengajak untuk nikah kontrak? Ini bukan drama ha? Lihat yang saya pakai, kerudung ini melambangkan harga diri sebagai perempuan, ahh ..saya tahu, kamu tidak tahu tentang Islam." Pekik Anna.
Dae Jung terdiam.
"Kau pikir, mudah mengajak siapa saja wanita yang ingin kau nikahi secara kontrak? Mana mungkin saya jual kegadisan hanya untuk sebuah kontrak dan uang, lalu sehabis kontrak, saya mendapat gelar janda? Daebak! daebak!" Anna bertepuk tangan.
Dae Jung menghela nafas,
__ADS_1
"Kakek, kenapa aku harus dijodohkan dengan wanita aneh seperti dia. Kharismaku seperti di cabik-cabik olehnya!" Kata Dae Jung dalam hati.
Bagi pria yang idealis seperti dirinya, tidak mudah memberikan hati kepada setiap wanita, termasuk Anna yang sangat jauh dari tipenya.
"Haa, kenapa melihatku seperti itu?" Protes Anna sebab Dae Jung menatapnya tanpa berkedip.
"Saya harap, besok kamu jangan bertingkah seperti ini di depan kakekku."
Peringantan Dae Jung di tangkap oleh Anna, mengingatkan surat yang telah ia baca. Terjawab sudah, bahwa pria ini adalah cucu dari kawan kakeknya yang tertulis di dalam pesan tersebut.
"Kamu? Kamu? Itu .." Anna begitu gelagapan sebab semua yang di katakan oleh kakeknya benar-benar terjadi.
Anna mulai mengingat wajah Dae Jung pernah terpampang di sebuah artikel online. Matanya terbelalak 'Kim Dae Jung pemilik Korain' Lirihnya dalam hati.
"Ya, besok persiapkan dirimu saja, karna yang akan menemui kamu bukan orang sembarangan." Sahut Dae Jung.
Dae Jung meninggalkan Anna dengan segudang kejutan yang tak ia sangkakan.
"Haa, nasib buruk menimpaku!" Gerutu Dae Jung di dalam mobil.
"We, kenapa dia cukup cantik." Sahut Ji Yeong sambil makan bakso bakar yang di belinya tadi.
Dae Jung merampas bakso bakar itu dari tangan Ji Yeong lalu melahapnya pula.
"Ini sangat jauh dari tipeku." Ucap Dae Jung sambil mengunyah.
"Mungkin belum saling mengenal saja." Ji Yeong bijak menanggapi.
"Aku tak habis pikir, mengapa para kakek-kakek itu seenaknya membuat perjanjian seperti ini."
Ji Yeong mengerutkan alis, dia melempari bekas tissuenya ke arah Dae Jung.
"Kau bilang apa? He, Dae Junga, bisa saja ini jalan terbaik untukmu." Timpal Ji Yeong.
__ADS_1
************
Anna melancongkan sepeda motornya ke arah pantai, ketika dia sedih, sunset adalah teman bercerita yang bisu baginya. Melihat sinar jingga adalah bukti kebesaran Allah dalam pengaturannya untuk siang dan malam.
Dia duduk menekuk di batu besar, angin laut mengibas kasar wajahnya, membuang jauh pandangannya di ujung bumi, deru ombak yang silih berganti seakan menanyakan kabar anna yang tengah merenung.
Seklumit masalah ringan namun juga berat bila di jalani, bagian demi bagian perjalanan hidupnya bagai kejutan yang menguras emosi hingga kadang menciutkan nyalinya.
Kini dia harus menikah dengan pria yang sangat jauh dari perkiraannya, sangat berbeda dengan suku, ras, budaya, dan bisa saja agama. Bukan seperti ini yang ia impikan, bukan dengan cara jalan perjodohan ataupun semacamnya. Menikah adalah dua insan yang sudah sepakat berjanji sehidup semati, itu jauh sebelum ikrar pernikahan terjadi.
Sementara dia dan Dae Jung adalah dua sosok yang sangat berbeda, latar belakang berbeda, cara hidup yang berbeda pula, tentu saja pola pikir yang berbeda, bagaimana bisa ia akan mengabdi pada pria seperti Dae Jung, di tambah lagi sifat Dae Jung yang banyak menyimpang seperti yang di tulis berbagai artikel tentang pemilik Korain tersebut.
"Ah, aku lelah .." Keluhnya.
Dia tak pernah membayangkan bila pernikahan itu benar terjadi, akankah cerita Cinderella berakhir suram atau malah menemukan titik kebahagiaan? Anna pikir tidak akan, melihat sikap Dae Jung saja buat tengsinya naik turun, namun bila dia menolak perjodohan itu, maka sebagai cucu tumpuan harapan dari seorang kakek yang berjasa juga tak tega bila ia menolaknya.
Anna membuang nafas panjang, beban itu ingin di hanyutkan bersama ombak nakal yang sesekali menyipratkan air laut ke wajah sendunya.
Dilema yang tak berujung kini menerpa, raga yang letih telah banyak mengalahkan egonya, biarah kali ini takdir bercerita dengan sendirinya, tanpa campur tangan rengekan doa yang belum sempat di ijabah sang pencipta.
"Aku harus menjalani semua ini, jika rencanaku kadang tak sesuai kenyataan yang terjadi, mungkin dengan rencana engkau, ya Allah, aku berusaha berdamai dengan keadaan ini." Ucap Anna pasrah.
Kedua bola mata indahnya memandangi senja yang merekah, carut marut hati sudah pasrah mengikuti jalur ketentuan, cinta sejati Yama dan Baek Hyeon bisa saja berulang, juga bisa seketika punah oleh dua insan yang saling bertolak belakang itu.
Anna dan Dae Jung, dua anak manusia yang sengaja di jebak oleh takdir agar alur kisah hidup mereka saling menyinari satu sama lain. Allah lebih tahu jalan yang indah untuk setiap hambanya, tak ada sekalipun yang lalai dari pengawasannya, membuatmu tersadar untuk tetap bersyukur menjalani hari-hari yang ia anugerahkan kepadamu
Ah, takdir memang seperti bermain diatas roller coster, penuh resiko, namun tetap bertujuan hingga finish.
" Cinta, biarlah dia bercerita dengan keajaibannya, bertitah dengan keindahan alunannya, jika dia tak memberimu senyum, maka ciptakan senyum itu terlebih dulu. Maka kedamaian bercinta akan kau dapat sesuai takaran kebahagiaan di berikan padamu."
-YAMA-
__ADS_1