
Selepas makan di resto yang terjamin kehalalannya, malam hampir datang, Anna memutuskan untuk sholat mahgrib sebelum mereka melanjutkan perjalanannya ke Seoul.
Di resto yang di padati pengunjung itu tidak menyediakan musholla atau tempat untuk bisa di gunakan sholat, akhirnya Anna bersedia untuk sholat di bagian taman resto, gadis yang bermukenah itu mulai melakukan ibadah tiga rakaatnya, seperti biasa yang terjadi, para kaum minoritas itu tiada henti menajfikan Anna pusat perhatian yang mereka tinton sebagai keanehan, ada yang memoto ada juga yang memvideokan, melihat istrinya diperlakukan demikian, lagi-lagi Dae Jung pasang badan.
"Kalian pikir ini lelucon? ini ibadah kaum muslim, kalian sama saja menghina Tuhan. Bubar kalian!" Hardik Dae Jung.
Anna masih khusyuk dalam sholatnya, Dae Jung masih menatap Anna yang begitu banyak mengingatkan pada Ibunya, Rifasya salim. Memang benar, seorang pria akan jatuh cinta pada wanita yang mempunyai kemiripan pada Ibunya, salahsatunpria itu dirinya. Di benak Dae Jung, dia ingin mempelajari banyak lagi yentang Islam, melihat keteguhan hati Ibunya dan Anna, buat dia yakin bahwa mereka berdua di dasari iman dalam islam sehingga bisa melewati berbagai ujian hidup dengan pedoman agama yang kuat.
"Oppa." Anna meminta tangan Dae Jung untuk di salami.
Lamunannya begitu indah sehingga tak menyadari bahwa Anna telah selesai, dia memberikan tangan kanannya ke Anna.
"Ayo, kita pulang sekarang." Ucap Dae Jung membereskan sajadah dan mukenah istrinya.
Mobil mereka melaju mulus membela jalan Daegu, sepotong dari perjalanan di tempuh, mereka di suguhi pemandangan yang sangat ramai hingga menutup akses jalan, para wartawan banyak yang meliput. Pak Su sampai kebingungan mengemudi, dia meminta izin untuk turun melihat apa yang sebenarnya terjadi di depan mereka itu, Dae Jung mengizinkannya.
Lima belas menit mereka menunggu Pak Su di dalam mobil, namun belum jua menunjukkan pria paruh baya itu kembali memberikan informasi.
"Kamu disini ya, aku mau turun." Ucap Dae Jung.
"Aku mau ikut." Anna menggenggam tangan Dae Jung.
Dae Jung menuruti permintaan Anna, mereka turun dari mobil lalu menyatu dengan kerumunan masyarakat sekitar dan papparazi.
Dari kasak kusuk yang terdengar oleh mereka, sepertinya ada mayat yang ditemukan, mayat wanita yang berusia dua puluh tahunan, mayat itu di identifikasi bunuh diri lompat ke jurang. Terlihat mayat sudah di bungkus plastik jenazah oleh polisi.
__ADS_1
Seorang pria yang tidak asing bagi Anna menangis tersungkur di tanah, dia memeluk plastik jenazah itu seraya menyebut nama Chu Ha.
Para media berusaha meminta informasi pada pria itu, dengan kemarahan yang membuncah pria itu berkata di depan kamera,
"Anakku Chu Ha tidak bunuh diri, dia pasti di bunuh seseorang. Selama ini, dia anak yang baik dan rajin ke gereja. Dia tidak punya masalah, tidak ada alasan dia untuk bunuh diri. Anakku Chu Ha pasti di bunuh." Tegasnya meraung terisak tangis.
Tangis seorang ayah itu mengingatkan Anna pada pria yang ia temukan di depan pintu pagar rumah Dae Jung. Benar, Anna sangat yakin pria itu adalah ayah Chu Ha yang menghilang, guru private yang salah menuliskan alamat.
Anna ingin melangkah menuju pria itu, namun di cegat oleh Dae jung.
"Kamu mau kemana? ada garis polisi." Dae Jung menegurnya.
Air mata ikut jatuh melibat kesedihan Ayah Chu Ha, berhari-hari dia mencari anak gadisnya, tetapi saat dia menemukan hanya jenazah yang sudah kaku, bahkan meninggal sangat tidak wajar, itu yang juga di yakini oleh Ayah Chu Ha.
Dae Jung ikut memperhatikan Ayah Chu Ha yang sesekali memukul dirinya sendiri, merasa gagal menjaga anaknya, sehingga kematian tidak wajar telah merenggut anak kebanggannya itu.
Dia tak ingin anaknya di anggap bunuh diri, semua bukti itu belum mendasar, Ayah Chu Ha tetap akan mencati kebenaran yang ada.
Para awak media masih meliput seirang Ayah dalam kesedihannya itu, tak ada yang peduli padanya, tak ada yang mengerti perasaannya, bahwa dia sedang bersedih, semua malah mengambil gambar.
"Dia korban bunuh diri, Tuan." Ucap Pak Su.
"Sudah di pastikan dia bunuh diri? memang ada buktinya?" Dae Jung bertanya.
"Iya, kata polisi begitu, Tuan. Sepertinya wanita itu lompat turun ke jurang. Dia berprofesi sebagai guru, Tuan."
__ADS_1
Dae Jung dan Anna mengeleng, tingkat mengakhiri hidup sendiri di Korea sangat tak terbatas, masalah yang di hadapi membuat para pelakonnya memilih jalan pintas untuk mencari keindahan dunia yang lain, pikir mereka. Padahal, di dalam agama apapun, bunuh tentu perbuatan itu sangat tercela.
Keputus asaan, tak mengenal kekuatan Tuhan yang akan menolong, ujian dan cobaan itu hanya jadi musibah hidup, tak ada tahu betapa besar petunjuk ayat dalam kitab, bunuh diri di jadikan media untuk kembali hidup di dunia baru, mereka yakini akan di ciptakan kembali dengan cara yang berbeda dengan kehidupan yang lebih indah di banding dunia kejam ini, seperti kupu-kupu yang cantik dan berbagai keindahan lagi, pikir sebagian pelakonnya.
"Anna, ayo kita kembali ke mobil. Pak Su, bisakan kita melewati ini, aku kadang merasa tidak enak kalau melihat ini." Ujar Dae Jung yang merasa mual, ada rasa tidak enak bila mengetahui ada mayat di depannya.
Mereka bertiga kembali ke dalam mobil, Anna tak henti membayangakan wajah Ayah Chu Ha, semenjak mereka bertemu di depan rumahnya, Ayah Chu Ha meminta bantuan agar dia bisa mengetahui jejak keberadaan anaknya, namun karna Anna takut mencampuri urusan orang yang tak di kenal, dia malah mengabaikannya. Sungguh menyesal, tak punya keprimanusiaan, itu kata batin Anna mengintimidasinya.
"Anna, kamu kenapa dari tadi diam saja." Dae Jung membuyarkan lamunannya.
"Aku baik-baik saja. Aku cuma kasihan sama Ayah korban tadi."
"Kamu punya phobia juga dengan mayat?
"Bisa di bimang begitu." Sahut Anna memelas.
Karna tak ingin melarutkan Dae Jung dengan apa yang di pikirkannya, Anna membiarkan teka teki itu meringkuk di benaknya seorang, ada banyak kejanggal dengan kematian Chu Ha.
Anna masih membayangkan tangisan Ayah Chu Ha, air matanya serasa ingin tumpah, namun bika itu terjadi Dae Jung akan mencurigainya. Dia tak ingin suaminya mengetahui hal itu sebelum dia sendiri yang mendapatkan informasinya. Setidaknya bila memang Chu Ha bunuh diri, dia masih bisa menjelaskan pada Ayahnya bahwa Chu Ha mungkin punya masalah berat yang tak bisa di bendung lagi.
Yang jadi pertanyaan di garis besar ialah,
Mengapa Chu ha mengarah ke Kota Daegu untuk bunuh diri?
Lalu menagapa alamat rumah mereka yang terakhir kali di tulis Chu Ha tujuan utamanya pada Ayahnya?
__ADS_1
Benarkah Chu Ha bunuh diri atau ada memang yang sengaja membunuh gadis malang itu?