BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
PESTA KAUM HIGH CLASS


__ADS_3

Dae Jung masih larut dalam kebanggannya terhadap Anna, pramusaji telah datang mendorong troli berisi makanan halal pesanan CEO Korain. Ji Yeong sudah memastikan bahwa semua yang telah di sajikan sangat aman di komsumsi untuk kedua orang terdekatnya.



Anna mengatkan kedua jempol kepada Ji Yeong, Sebagai Ucapan Terima kasihnya pada pria bermata sipit itu, Ji Yeong membalas dengan senyuman manis.


Anna mengambil steak daging lalu di letakkan di piring Dae Jung, saat itu ke empat wanita yang ada bersamanya tak mengajak Anna lagi berbicara, mereka mengacuhkan Anna dengan asyik mengobrol dengan menggunakan bahasa korea, bagi Anna tak mengapa, karna itu lebih baik ketimbang beragument dengan orang yang memiliki sudut pandang berbeda.


Dae Jung mencoba meleburkan suasana tegang Istrinya, mengajak Anna sesekali terjun dalam obrolannya.


"Jangan tegang, ada saya Pemilik Korain, mereka semua itu tidak sebanding dengan kekayaan yang aku punya." Ucap Dae Jung berbahasa Indonesia, Dengan begitu teman-temannya tak mengetahui apa yang ia ucapkan pada Anna.


Anna mengangguk, begitu lega dia bisa di lindungi oleh Dae Jung, sikap dingin suaminya itu hanya kumat sesekali saja, namun bila keadaan genting semua lenyap menjadikan Dae Jung sebagai pria terlembut, menurut Anna.


"Terima kasih, Tuan Kim." Ucap Anna tersenyum ikhlas.


Para wanita High class di hadapannya memasang wajah pahit, melihat perlakuan Dae Jung pada Anna, timbul rasa Iri sebab mereka tak di perlakukan demikian oleh suami mereka.


Tangan Anna sudah telatent memegang garpu dan pisau, ini berkat ajaran Kepala Pelayan Nas. Dae Jung kembali menyungging senyum menatap perubahan Istrinya itu.


Alunan musik telah menggema di ball room itu, Anna mmasih melahap makanannya, MC pernikahan yang mengumumkan waktunya pasangan yang ada di Wedding party itu berdansa. Teman-teman Dae Jung di sekitarnya telah berdansa dengan pasangan masing-masing, hanya dia seorang yang masih duduk bersama Anna yang belum lelah mengunyah.


Dae Jung menghela nafas, rasa gengsinya terlalu tinggi bila dia yang lebih dulu mengajak Anna berdansa. pria cool yang di sematkannya bisa runtuh bila hal itu ia lakukan, pikirnya.


Dia menggunakan otak jeniusnya untuk menyusun rencana, satu-satunya cara ialah menggunakan Ji Yeong sebagai umpang. Dia beranjak ke arah Ji Yeong yang berdiri di sudut ruangan.


"Sekertaris Ji, aku mempuntai tugas untukmu." Ucapnya dengan tatapan serius.


"Apa itu, Pak Kim." Tanya Ji Yeong yang Profesional pula.


"Jemput Yuna di sana, lalu ajak dia berdansa." Titah Dae Jung.


Ji Yeong berdecak, "Ha, kau tidak salah, itu tidak mungkin aku lakukan. Minta yang lain saja." Ji Yeong menolak mentah.

__ADS_1


"Ji Yeong, caraku agar Anna dapat berdansa denganku, kamu ajak Yuna lebih dulu, Lalu kalian pancing Anna untuk berdansa dengan saya." Usul Dae Jung.


Ji Yeong mengeleng." Aigo, bibi Rifasya makan apa saat mengidamkan kamu, sebegitu gengsinya kamu dengan Istri sendiri. Tinggal bilang saja sama Anna, apa perlu saya yang bilang ke Anna." Ucap Ji Yeong kesal.


"Namdasong, Bantu saya, Ini harga diriku sebagai pria kharismatik, lagipula para tamu disini akan curiga bila saya tidak berdansa dengan Anna, gampang cuma ajak Yuna saja berdansa lalu ajak Anna untuk berdansa denganku." Rengek Dae Jung.


Ji Yeong hampir gila mendengar rengekan Dae Jung.


"Hyung, kamu mempertaruhkan harga diri, Kamu tahu kan Yuna itu seperti apa sifatnya, mulutnya tajam, bisa-bisa dia menolakku di depan mereka-mereka ini."


"Kalau begitu kesana, bilang sama Yuna ini perintah Presdir padanya."


Karna tak sanggup lagi menolak, Ji Yeong akhirnya menemui Yuna yang sedang meneguk wine.


"Ha, Sekertaris Yuna, Ini perintah dari Presdir Kim, kita di suruh untuk berdansa. Ini salahsatu siasat untuk mengajak Anna berdansa." Ucapnya dengan membekukan wajah pula.


Yuna memalingkan wajah ke arah Dae Jung, Presdirnya itu memberi tanda perintah padanya. Yuna membuang nafas sesaknya, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mungilnya, Yuna sigap menarik tangan Ji Yeong lalu memulai berdansa. Langkah mereka sengaja mendekati Anna.


Dae Jung menghampiri Anna dengan mengulurkan tangan.


"Kita harus berpura-pura lagi saat ini." Ujar Dae Jung.


"Tapi aku tidak bisa dansa, Oppa."


"Lakukan saja sesuai yang kamu mau, pelan dan ikuti Irama saja." Lanjut Dae Jung.


Anna meraih tangan Dae Jung, tangan kanan Anna ia sisipkan di pundaknya lalu mengenggam tangan kiri Anna dengan erat. Di genggam oleh Dae Jung, Anna berdecak kagum, tangan suaminya itu sehalus sutra.


"Anna, ini pertama kali kamu berdansa dengan pria?" Tanya Dae Jung.


Anna hanya bisa mengangguk. Dari jarak yang sedekat itu, Dae Jung melihat sisi kecantikan Anna yang alami, juga teduh. Bibir Anna, matanya, alis yang dimiliki, semua menjadi daya tarik tersendiri Untuknya.


"Aku baru menyadari, kamu begitu cantik, Anna." Lirih Dae Jung dalam hati.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, pasangan dansa duo Sekertaris Dae Jung larut dalam alunan musik.


"Pak Ji. Saya mau tanya." Yuna memecah kebisuan di antara mereka.


Aroma anggur merah menebar setiap hembusan nafasnya.


"Pak Ji. apa saya cantik di matamu?"


"Yuna, Kamu di mataku itu biasa-biasa saja." Jawab Ji Yeong membohongi dirinya sendiri.


Yuna tertawa, seraya berbisik di telinga Ji Yeong. "Sekertaris Ji, apakah kamu menyukaiku?"


Ji Yeong membelalakkan mata, dia mengamati ekspresi Yuna, wanita itu sedang mabuk.


"Rupanya, mabuk lebih baik padamu di bandingkan kamu saat sadar, seperti Ibu macan yang baru saja melahirkan." Ketus Ji Yeong.


Yuna makin tak terkendali lagi,


"Aku seorang anak yang broken home, dari dulu aku bermimpi menikah dengan pria kaya raya." Ucap Yuna dengan suara nyaring.


Ji Yeeong membekap mulut Yuna, ucapan gadis bertubuh seksi itu di dengar oleh orang-orang di sampinya. Namun tangan Ji Yeong di gigitnya, hingga pria itu melepas bekapannya pada Yuna.


"Aku ini cantik, aku bisa menjadi Ratu presdir. Kecantikanku tidak ada apa-apanya dibanding wanita tua itu." Ucapan Yuna semakin lantang membuat gaduh sebab menunjuk ke arah Istri dari pemilik resort di Korea.


"Kamu bilang apa? saya wanita tua?" Wanita itu prites dengan mimik wajah marah.


Ji Yeong makin panik dengan tingkah Yuna, dia menarik tangan partnertnya itu keluar dari ball room, langkah kaki Yuna gontai, begitu sulitnya memahami perempuan yang bertipe seperti Yuna ini. Memilik ambisi tinggi, namun punya pemikiran yang rendah.


"Yuna, kamu hampir membuatku gila, kita bisa di lempari sampah jika kamu bertindak seperti ini di depan Istri-istri bos itu." Celetuk Ji Yeong.


Karna tak mampu mengimbangi mabuk beratnya, Yuna terjatuh dalam pelukan Ji Yeong hingga tak sadarkan diri lagi.


"Jika saya boleh meminta, buatlah waktu ini berhenti sejenak agar aku bisa memelukmu lebih lama lagi." Ucap Ji Yeong menatap wajah Yuna.

__ADS_1


__ADS_2