BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
MALAM YANG TERTUNDA


__ADS_3

Dae Jung dan Ji Yeong tiba di rumah pukul tiga subuh, perjalanan dari Kota Daegu memang memakan waktu kurang lebih empat jam.


"Kau istirahat Ji yeong, aku mau menemui Anna." Ucapnya meninggalkan Ji yeong di ruang tamu.


"Dae Jung, Ingat janjimu itu." Seru Ji Yeong.


"Aku bukan laki-laki pecundang." Sahut Dae Jung sembari menaiki anak tangga.


"Baguslah." Tukas Ji Yeong.


Dia langsung menuju ke kamarnya, tapi Anna tak ada disana. ia ke kamar Anna, saat membuka pintu terlihat Istrinya tertidur dengan mukenah yang masih melekat di badan. Penataan kamar Anna begitu menawan, namun lilin -lilin itu sudah tak memberi cahayanya lagi.


Dae Jung masuk tanpa bersuara, di duduk di ujung ranjang, melepas sepatunya, switer rajutnya, lalu beranjak pula tidur di samping Anna, matanya seakan tak rela berkedip melewatkan keteduhan wajah istrinya.


Dae Jung mencium kening Anna lalu membisikkan, "Aku sudah menyerah dengan egoisku, tak ada alasan lagi aku tidak mencintaimu."


Bisikkan itu membangunkan Istrinya, Anna mengerjap, wajah Dae Jung sudah begitu dekat dengannya, sudah bertelanjang dada, di tempat tidur yang sama, tangan suaminya telah melingkar di tubuhnya, sungguh ini bukan mimpi, atau khayalan yang pernah ia hadirkan setiap malam. Itu benar Suaminya, Kim Dae Jung.


"Oppa .." Lirih Anna.


"Ya, Aku disini. Kenapa? Aku salah masuk kamar?"


Anna mengeleng. dia tersipu malu, ah .. Dae Jung lagi-lagi membuatnya kikuk. Mereka sudah sebulan menikah, tapi serasa ini adalah malam pertama pengantin untuk dua sejoli itu, kondisi ini yang tak sempat di lakukan dulu.


"Bisakah aku lebih memilikimu, bukan sekedar perjanjian, melainkan suami istri seutuhnya?" Tanya Dae Jung penuh hasrat.


Ya, Anna yang perasaannya lembut hanya bisa bekaca-kaca. Allah maha baik, sebegitu cepat melunakkan hati suaminya itu.


"Apa yang ingin kau lakukan disini?" Anna sedikit usil lagi.


Dae Jung menghela nafas.


"Apa kau anak bayi yang baru lahir? hingga hubungan dewasa belum kau ketahui?" Kesal Dae Jung.


"Maksudnya? aku tidak mengerti?"


"Baiklah, aku akan mencontohkan, begini." Dae Jung sudah menindih tubuh Anna.

__ADS_1


"Lalu?" Tanya Anna yang masih usil.


"Begini lagi." Jawab Dae Jung mencium bibir Anna.


"Lalu?"


"Begini lagi dan begini lagi." Meski agak malu, Dae jung mencontohkannya dengan menggoyang pinggulnya ke bagian bawah Anna sana.


"Begitu." Sahut Anna lagi.


Dae Jung memasang wajah kesal.


"Ya ampun, Anna, apa perlu aku membukakan situs porno padamu?" ketusnya.


Anna terkekeh, dia merasa puas melihat kekesalan suaminya. Dia menarik wajah Dae Jung lalu ******* bibir suaminya, berhenti sejenak lalu berkata,


"Hm, kamu pikir, aku tidak tersiksa selama ini. Tiap malam aku berada dalam kamar sendiri, mengharapkanmu bukan orang lain, aku hanya menginginkan suamiku. " Ucap Anna.


"Apa kau setiap malam mengkhyaliku?"


"Tidak salah kan? Kau suamiku."


Dae Jung membuka mukenah Anna, dia terkesima melihat kecantikan Istrinya yang selama ini di tutupi hijab, rambut panjang hitam Anna tergerai Indah, leher jenjang, kemanisan Anna, begitu sempurna di matanya. Betapa bodohnya dia, baru menyadari permata hidup yang ia abaikan sebulan ini.


"Ternyata Ini maksud perempuan muslim berhijab, menutupi keindahan mereka, semuanya hanya bisa di lihat oleh suaminya saja." Ucap Dae Jung yang sudah mulai merasakan sentuhan Islam di kalbunya.


"Dan ternyata aku menjaganya untukmu." Balas Anna.


Tanpa ada kata lagi, Dae Jung mulai mencumbui Istrinya penuh rasa cinta, bibirnya, mencumbui leher Anna, memberikan tanda cinta merah di bagian sensitif Istrinya, Anna hanya memasrahkan diri. Ini bukan pertama kali Dae Jung lakukan, semua pernah di lakoni bersama Bora dulu, namun bersama Anna, dia merasa lebih leluasa, lebih merasa bahagia, entah karna halal atau cinta itu cukup sempurna hingga kenikmatannya berbeda.


Dae Jung telah turun secara lembut di area Anna yang menggempal, menurun hingga semuanya di jamah. Anna tak henti mengerah, semua sentuhan Dae Jung membuatnya melayang, pria yang tampan dan sukses itu sudah memberikan birahi yang tak pernah ia rasa sebelumnya. Dae Jung .. suamiku, Batinnya.


Di atas kasur bersama bunga yang hampir layu, mereka memainkan lakon terindah suami sitri itu, malam yang tertunda telah terjadi di subuh ini, kehangatan selimut tergantikan oleh sentuhan kulit satu sama lain.


Desahan Anna buat Dae Jung makin di atas puncak hingga waktu telah terlewati, benih cinta Dae Jung akhirmya tumpah di rahim Anna.


"Aku Ingin kamu menjadi Ibu dari anak-anakku." Bisikan mesra itu di layangkan di telinga Anna.

__ADS_1


**************


(PERCAKAPAN BAHASA KOREA)


"Dae Jung !" Teriak Bora saat bangun tidur.


dia melihat di sekelilingnya, pria yang dia cintai sudah tak ada lagi di kamarnya, Bora menjerit lagi, mengaung hingga Bibi Nami terbangun.


"Kau kenapa sayang?"


"Ibu, Dae Jung mana? dia kemana?" Tanyanya.


Yang di khawatirkan Bibi Nami ternyata benar, Bora akan terus mencari Dae Jung.


"Dia kembali ke Seoul. Jangan harapkan dia lagi. " Sahut Ibunya.


Bora menepis tangan Ibunya. Wajahnya begitu marah, sangat tak suka dengan kalimat yang di ucapkan Bibi Nami.


"Tidak, sampai kapan pun Dae Jung tetap aku cintai, dia cinta pertamaku, bagian hidupku. Ibu jangan pernah mengatakan itu lagi. Aku ingin Dae Jung."


Bibi Nami kebingungan, apa yang harus ia lakukan, apakah dia harus mengatakan pada anaknya bahwa Dae Jung telah menikah? dan Bora harus menghapus nama Dae Jung di hatinya? Oh ..Ini salah, Bibi Nami mnegeleng, dia pikir tidak. Itu cara yang malah membuat Bora tambah hancur.


"Ibu, aku ingin Dae Jung." Pinta Bora.


"Sayang, Kamu tenang dulu."


"Ibu, mau melihat aku sembuh? Ibu mau melihat aku bangkit lagi? Ibu mau melihat aku tersenyum lagi? hidup seperti dulu lagi, hanya satu caranya, Dae Jung. Dia satu-satunya alasan itu semua." Tegas Bora.


Bibi Nami merasa sesak, sungguh permintaan Bora sangat sulit baginya, dia mampu membiayai pengobatan termahal daam bentuk apapun untuk Bora, namun meminta suami orang agar Bora tetap hidup itu di luar kemampuannya.


Bora menatap sendu Bibi Nami, perasaan seorang Ibu telah kalah. Dia pun mengiyakan semua permintaan Bora, semua akan ia lakukan demi kesembuhan anaknya.


"Iya sayang, Dae Jung akan bersamamu." Ujar Bibi Nami meyakinkan Bora.


"Ibu harus janji, Dae Jung akan kembali padaku." Pinta Bora kesekian kalinya.


"Ibu janji, sayang."

__ADS_1


Bibi Nami merencanakan untuk menemui Dae Jung esok hari, tak ada cara lain, dia harus lebih mengibah lagi pada CEO Korain tersebut.


Anak tunggalnya itu tumpuan harapan satu-satunya, percuma harta yang ia miliki bila dia tak mampu membahagiakan Bora sepenuhnya.


__ADS_2