
Pagi dirumah Korain, Anna menyiapkan kemeja untuk pria yang di kira suaminya. Dae Song yang baru saja selesai mandi, melirik ke Anna, baju terusan motif bunga dengan kerudung instant sudah menghiasi tubuh adik iparnya itu.
'Oh, andaikan kamu istriku, Anna.' Lirih Dae Song dalam hati.
Dia memakai kemeja itu, namun sebagai pria yang tak pernah mengenakan setelan jas, Dae Song tak mengetahui cara memakai dasi. Ah, ini akan jadi kecurigaan Anna lagi. Batin Dae Song.
"Aku turun ke bawah, mau siapakan sarapan." Tukas Anna.
"Hm, tunggu. Aku ingin kamu pasangkan aku dasi," pinta Dae Song.
Biasanya kamu sendiri yang pakai."
"Aku ingin di manja pagi ini." Sahut Dae Song yang beralasan.
Anna pun mengindahkan permintaanya. Dia mendekat pada Dae Song, Anna yang memiliki tinggi 158 cm berusaha mengimbangi tinggi Dae Song yang sama dengan Dae Jung. Kakinya berjinjit, melihat itu Dae Song tidak tega. Dia menyuruh Anna naik ke kasur untuk berdiri disana.
"Dasar pendek !" Ketus Dae Song yang mencandai Anna.
"Ada apa deganmu, kamu tahu kan, aku paling tidak suka fisikku di hina, karna ini ciptaan Tuhan." Ujar Anna kesal.
Dae Song tertawa kecil. Adik iparnya terlihat menggemaskan bila kesal. Anna mulai memasang dasi itu di kera baju Dae Song. Wajah mereka begitu dekat. Dae Song menatap Anna tanpa berkedip, mendapat perilaku demikian, Anna merasa risih. Tatapan itu bukan tatapan yang membuatnya jatuh hati, bukan tatapan Dae Jung yang memancarkan cinta, melainkan sorotan pria nakal yang menggoda jiwa setiap perempuan.
'Andai kamu juga punya kembaran, dan memiliki watak sepertimu, aku akan merubah tujuan hidupku.' Imbuh Dae Song dalam hati.
Karna merasa deg-degan dekat dengan Anna, degup jantung Dae Song memompa dengan cepat, dadanya nyeri lagi, nafasnya mulai sesak, Dae Song berusaha menahan agar rasa sakit itu tak terbaca oleh Anna.
"Kamu kenapa tegang seperti itu?" tanya Anna yang melihat perubahan ekspresi Dae Song.
Dae Song mengeleng. Dadanya makin sakit, penyakitnya kini kumat lagi, tubuhnya mulai mengeluarkan butiran keringat menahan sakit yang setiap detik bertambah parah.
"Sudah selesai, ini sudah rapi. Aku turun ke bawah." Ujar Anna yang segera keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Setelah Anna menghilang di balik pintu, Dae Song mencari celana bekas yang dipakainya kemarin, dia merogoh kantong, didalamnya ia menemukan obatnya yang memang sudah ia siapkan sebelum melakukan penyamaran ini.
Sembari memegang dadanya yang sakit, Dae Song meraih gelas yang berisi air diatas meja. Dua pil ia telan secara paksa, menunggu reaksi obat beberapa menit, hingga rasa sakit itu lenyap lagi untuk sementara.
Dae Song memukul tembok dengan keras, tangan memerah, dia merasa jenuh dengan penyakitnya yang tak menemukan kesembuhan, bertahun-tahun dia mencari pendonor jantung bagi tapi tak ada satu pun seseorang yang rela melepaskan jantung kelurganya yang sudah meninggal untuk Dae Song.
"Tenang Dae Song, fokus pada rencanamu. Jangan biarkan siapapun membuatmu lemah, termasuk Anna." Tegasnya pada diri sendiri.
Dai segera turun ke bawah membawa pula tas pribadi Dae Jung yang sudah ia simak semalaman untuk ia pelajari. Dari atas Dae Song melihat di meja makan audah ada Ji Yeong dan Yuna.
"Oh Tuhan, ada Ji Yeong dibawah, ini rumit sekali." Dae Song mengerutu. Dia tahu, Ji Yeong akan mencuriganya bila sekali saja dia memperlihatkan sikap yang berbanding terbalik dengan Dae Jung.
Dae Song juga turun ke bawah, pelan-pelan agar jantungnya tetap stabil berpacu, ia tak ingin sakitnya bis akimat dihadapan orang-orang kesayangan Dae Jung itu.
"Tuan Kim," sapa Bu Nas.
Dae Song tersenyum ramah, menguasai diri menjadi pribadi Dae Jung. Bu Nas menuangkan kopi di cangkir Dae Song, pria itu seketika menyerngit, 'Oh, tidak , jantungku akan mengamuk lagi bila meminum kopi hitam itu.' Batin Dae Song merintih.
"Kamu yakin tidak akan mengantuk? biasanya kopi tiga kali sehari buatmu." Ketus Ji Yeong.
"Nanti di kantor saja." Sahut Dae Song mengalihkan wajah ke Anna. Tatapan Anna menyelidik. Dae Song tahu, batin Anna tidak akan menerima dirinya. Tentu adik iparnya itu tahu bahwa dia bukanlah Dae Jung, tetapi karna tak ada bukti, Anna memilih diam saja.
Adegan sarapan itu berlangsung 20 menit, tak ada kata terucap.
"Apa ada pertemuan hari ini?" tanya Dae Song pada Yuna.
"Tidak ada, Pak Kim. Agenda seminggu ini smeua kosong." Sahut Yuna.
Dae Song mengangguk, 'Syukurlah, apa yang harus aku ucapkan bila harus memimpin rapat.' Keluhnya dalam hati.
Semua sudah selesai, mereka bergegas ke mobil, Anna yang mengantar langkah mereka hingga ke teras. Dae Song berdiam diri didekat Anna, dia berpikir tentang lakon ucapan sampai jumpa apa yang Dae Jung dan Anna setiap paginya. Apakah mencium kening? mengusap pipi saja? atau memeluknya? sementara didalam mobil mata Ji Yeong dan Yuna masih melihat mereka berdua.
__ADS_1
Anna meraih tangan Dae Song, dia menyalami seperti lakon itu yang dilakukan pada Dae Jung. Setelah itu, Dae Song mencium kening Anna. Memberikan kedipan mata pada wanita muslimah itu, 'Oh, indahnya penyamaran ini.' Kata hati Dae Song begitu bahagia, dia berlalu masuk ke mobil mewah Dae Jung.
Anna pun tak tahu apa yang sudah terjadi, dia masih bingung tentang apa yang dirasakan olehnya. Mungkinkah pria itu memang bukan suaminya? atau ini hanya bawaan hamil saja? dua pertanyaan yang membingungkan dirinya.
**************************
Sementara di Kota Busan, Dae Jung masoh berusaha mecari cara agar keluar dari rumah itu. Matanya masih mengamati tiga pentilasi udara yang menjulang tinggi.
Bibi Ling datang menemuinya. Dia membawakan baju ganti untuk Dae Jung, didalam baju itu terdapat ponsel yang diam-diam diselipkan Bibi Ling. Ponsel iti sudah lama ditangan Bibi Ling, tapi baru kali ini dia berani menggunakannya demi membantu Dae Jung.
"Ini ada handphone, kamu hubungi siapa yang bisa membantumu." Ujara Bibi Ling berbisik.
"Terima kasih, Bi. Aku janji, kita akan sama-sama keluar dari sini, aku akan membawa Bibi bertemu Ji Yeong." Ucap Dae Jung.
Bibi Ling mengangguk, mungkin Dae Jung dikirim Tuhan untuk membebaskan dia dari penderitaan sebagai istri simpanan Chung Sang.
"Kalau kamu mau menelpon, masuklah ke kamar mandi. Tapi, sebelum itu, jangan memberitahu orang-orang tidak bisa dipercaya." Bibi Ling mengingatkan.
"Kenapa, Bi ? saya akan menelpon Anna."
"Dae Jung, jika pabrik Korain bisa di ledakkan oleh mereka, maka rumah ini ataupun rumahmu juga sangat gampang bagi mereka."
Dae Jung mengerti maksud Bibi Ling. Dia masuk ke kamar mandi untuk menelpon Anna. Berkali-kali dia mendial nomor Anna, istrinya itu tak menjawabnya.
"Anna, angkat Anna." Gumam Dae Jung.
Tidak lama suara Anna terdengar olehnya mengucap salam.
"Assalamualaikum, ini siapa?" tanya Anna yang melihat nomor kontak baru memangilnya.
"Anna, aku Dae Jung. Aku sekarang di kurung di sebuah rumah." Sahut Dae Jung tergesa-gesa.
__ADS_1