
Belum lama Uwa Nuri memejamkan mata, ada yang menggedor pintu dari luar, sembari menahan kantuk, dia menuju ke arah pintu, mengintai dibalik gorden, ada pria yang berjaket hitam berkaos polisi, Uwa Nuri heran, mengapa polisi subuh-subuh bertamu ke rumahnya?
"Assalamualaikum, Bu." Ucap polisi itu saat Uwa Nuri nampak di balik pintu.
Uwa Nuri balas salam mereka.
"Benar ini rumahnya anak-ana Pak Hadi?"
"Iya, Pak. Benar, itu ponakan saya, dan mereka sedang tidur."
Sebelum berucap kembali, ketiga polisi itu saling memandangi satu sama lain. Ada yang ingin mereka katakan tetapi masih tertahan.
"Bu, bisa bangunkan anak-anak mereka? Soalnya ini menyangkut Ayah mereka, Pak Hadi." Pinta polisi itu.
Uwa Nuri mengiyakan, dia membangunkan satu per satu ponakannya itu yang sedang berada di peraduan malam bersama kasur dan bantal mereka.
Anna, Raka, dan Rasti menuju ke ruang tamu, meski ngantuk menyelimuti wajah mereka, namun senyum ramah mereka lemparkan ke arah polisi tersebut.
Dengan berat hati, polisi itu mengungkapkan.
"Maaf, Dek. Tadi kami dapat informasi kecelakaan dari warga bia bahwa ada seorang pengendara motor kecelakaan, setelah kami periksa, korban meninggal di tempat sebab terlindas mobil truk enam roda, sekarang jenazahnya ada di rumah sakit umum, namanya Pak Hadi
Musnair"
Dreng!!!
Bagai petir menyambar, ketiga anak Pak Hadi itu pun menangis histeris, semua bersatu memanggil nama "Ayah" pria yang sudah setahun tidak bersama mereka.
Tanpa berlama-lama lagi, mereka semua ke rumah sakit dimana jenazah Ayahnya berada.
* * *
Seminggu telah berlalu, duka itu masih terasa, semenjak kepergiaan Ayahnya, Anna dan kedua adiknya tak pernah keluar rumah, mengurung diri di kamar cara mereka merenung akan takdir yang mereka jalani sebagai yatim piatu.
__ADS_1
Masih sangat jelas diingatan mereka, masa-masa bahagia bersama kedua orang tuanya, semeja makan bersama, seminggu sekali mereka sekamar berlima, tertidur didalam pelukan hangat dari Ayah dan Ibunya. Oh, ya Allah. Aku merindukan mereka. Batin ketiga anak itu meronta pada sang pencipta.
Serumit inikah yang harus mereka hadapi, peristiwa demi peristiwa setiap tahun bergantian merenggut nyawa orang-orang terkasih, berat untuk Anna yang sebagai kakak pengganti orangtua untuk kedua adiknya. Dia saja belum yakin, apakah ia mampu menghadapi hidup yang keras menyandang gelar yatim piatu. Oh, tidak. Aku tidak mampu, keluh Anna menangis sesegukan.
"Anna, itu kamu kah yang menangis?" Tanya Uwa Nuri.
Anna segera melenyapkan lelehan air di pipinya, karna tak ingin Uwa Nuri khawatir.
"Tidak Uwa, Anna nonton drakor tadi." Anna menghampir Uwanya yang sedang memasak.
"Uwa tahu kalian sedih, tapi mau bagaimana lagi, ikhlaskan semuanya, tugas kalian itu berdoa karna
doa anak yang sholeh itu adalah amal jariyah buat orang yang sudah meninggal." Tutur Uwa Nuri.
Anna mengangguk, coba menahan sedihnya agar air mata itu tidak tumpah lagi di hadapan Uwanya.
"hhmm, Uwa. Bisakah aku membuka kaleng itu lagi?" Tanya Anna.
"Kamu dapat mimpi lagi?"
"Tidak, cuma mau tau saja apalagi isi itu untuk Anna tau."
"Baik, selesai cuci beras, kita masuk ke kamar melihat isi kaleng kenangan itu." Ucap Uwa Nuri yang terkekeh.
Anna sudah ada di dalam kamar Uwanya, begitupun Uwa Nuri yang sudah menenteng kaleng legend itu ke Anna. Sebab itu milik ponakannya, dia mempersilahkan Anna yang membukanya.
Dia mengeluarkan foto-foto yang sudah ia lihat itu satu per satu, hanya tersisa dua amplod yang Anna yakini terisi kertas suatu pesan.
"Anna baca isinya?" Anna meminta izin.
"Iya, itu hak kamu." Sahut Uwanya.
Dia mulai membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di kertas usang bertinta hitam itu. Ya, masih sama seperti sebelum dia melihat foto,kali ini semakin buat dua wanita itu tercengang.
__ADS_1
Kepada,
ANNA BINAR BINTANG. cucu tersayang kakek.
Saat Anna membaca pesan kakek ini, pasti Anna sudah dewasa, menjadi pribadi yang baik, kakek tahu itu, makanya kakek memberikanmu nama Anna Binar Bintang, meski hadir di kegelapan namun cahayanya bisa membuat hati terkagum akan keindahannya dari jauh.
Sebelum Anna membaca pesan kakek, pasti Anna sudah diberi tanda akan hal ini hingga Uwamu yang tidak mau menikah itu, memberitahumu tentang pesan kakek.
Anna cucu kakek ..
Ada banyak orang hidup di dunia ini, namun hidupnya hanya di habiskan dengan sia-sia, tanpa tujuan dan tanpa bekal. Sebelum kakek meninggalkan kalian, jauh hari sebelum kamu di lahirkan, kakek ingin memberi kalian tujuan hidup dan bekal lewat menanamkan kasih sayang pada sesama manusia.
Kamu harus tahu, Nak. Yama itu adalah kakak perempuan kakek yang mungkin sangat langkah di temukan pada masamu sekarang.
Yama adalah seorang perempuan yang mncintai negara dan suaminya,real berkorban demi Negaranya.
Yama adalah sosok dari istri Hang Baek Hyeon pahlawan indonesia yang rela meninggalkan negaranya, demi membela negara dari perempuan yang dia cintai. Mereka mengorbakan cintanya, rela mengorbankan jiwa dan raganya.
Saat itu kakek hanya sebagai saksi besarnya cinta mereka berdua, namun sebelum ajal menjemput mereka, kakek di beri amanah agar cinta mereka bisa menjadi sejarah yang berlanjut.
Berlanjut menjadi suatu keluarga yang saling mencintai pula, ini alasan yang kuno bagi Anna yang sudah hidup di jaman modern, tetapi cinta sejati tak pernah berkahir hanya karna pikiran yang sudah modern, semua sama saja seperti pertama kali adam dan hawa di ciptakan, semua itu hanya bisa di rasakan bagi manusia yang berhati murni seperti kakek yang ajarkan padamu.
Anna ..
Suatu saat akan ada pria tua dan cucunya datang menemuimu, mereka bermaksud baik padamu. Ini sudah perjanjian kakek dengan Hang Gang San .Mungkin Anna akan kaget, tetapi itu semua demi kebaikan Anna dan keluarga. Berilah mereka kesempatan untuk berbuat baik pada kita, dan berilah kakek kesempatan untuk membahagiakan Anna dan semuanya dengan segala keterbatasan harta yang kakek punya.
Imi permintaan Yama dan kakek padamu, maukah kamu menikah dengan keluarga Hang Baek Hyeon??
Selembar kertas itu buat siapa saja terhenyak, kalimatnya sangat menyentuh kalbu Anna dan Uwa Nuri, sebuah pesan yang tak pernah mereka pikirkan akan menyisahkan sebuah perjodohan.
Anna yang sebagai peran utama, belum bisa menerima maksud tujuan kakeknya, dia hanya merindukan sosok kakeknya yang benar-benar mengajarkannya banyak hal. Mulai dari tentang sosok perempuan yang tangguh, harga diri perempuan yang terletak pada auratnya, dengan kasih sayang perempuan yang terletak pada mengayomi sesama.
Sementara Uwa Nuri yang sebagai saksi hanya bisa menutup mulut, belum ingin berkomentar, saat ini itu cara yang baik sebab anna sangat shock membaca amanah Ambe Lambau pada ponakannya itu.
__ADS_1