
Anna sudah berpakain olahraga, minggu pagi mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya, seperti dirinya bila mengingat kejadian semalam bersama suaminya. dia melihat Dae Jung masih terlelap, tak ingin membangunkan istirahat suaminya setelah sepekan dia menguras pikiran dengan seabrek pekerjaan kantor.
"Oppa, aku pamit dulu ya, untuk membakar lemak." Bisiknya di telinga Dae Jung.
Anna turun ke bawah, pagi ini dia coba berolahraga sembari jalan santai seorang diri, meskipun bukan sendirian sebab ada pengawal Dae Jung yang selalu menguntit di belakang.
"Aku pamit dulu, Bu Nas." Ucapnya beranjak keluar rumah.
Saat Anna keluar dari pintu pagar rumah, dia melihat seorang pria tua yang duduk di depan pintu pagar istananay bersama Dae Jung. dia yang punya empati tinggi menghampiri pria tua yang seumuran dengan mendiang ayahnya
Dengan memakai bahasa Korea, Anna menyapanya.
"Hallo, Pak. Kenapa duduk disini?"
Pria tua itu berdiri di tangannya membawa secarik kertas putih, ekspresi wajahnya kebingungan.
"Kamu yang tinggal di dalam rumah ini?" Tanya pria tua itu.
"Iya, saya Istri Pak Kim." Sahut Anna.
Pria tua itu mengusap dada lega.
"Dari kemarin saya meminta bagian keamanan di rumah ini. Saya mencari anak saya yang sudah seminggu menghilang. Terakhir kali dia pamit untuk menjadi guru pribadi." Jelas pria tua dengan mimik kesedihan mendalam.
"Anak bapak itu namanya Jun Hyun? " Tanya Anna.
Pria tua itu mengeleng.
"Dia perempuan, namanya Chu Ha. Saya sudah mencarinya kemana-mana, tapi tidak saya temukan."
Anna sangat sedih mendengarnya, seorang ayah yang berusaha mencari anaknya sedemikian khawatir.
"Ini alamat yang tersimpan di mejanya sebelum dia pamit." Pria tua itu memperlihatkan secarik kertas yang berisikan alamat rumah.
Anna tercengang, alamat rumah itu sama dengan alamat rumah Kim Dae Jung. Tetapi, semua bisa salah, mungkin orang itu salah memberi alamat pada anak bapak itu. Karna guru pribadinya bukan perempuan, melainkan Jun Hyun, batin Anna.
"Alamatnya sudah benar, tapi guru pribadiku bukan perempuan nama Chu Ha tapi dia seorang laki-laki, Jun Hyun namanya."
"Saya yakin, anak saya pamit untuk menjadi guru pribadi, di depan saya ada perempuan yang menelpon dia." Pria itu meyakinkan Anna.
Anna kebingungan, dia sungguh kasihan pada pria tua itu. Melihat Nona Anna sedang berbicara dengan orang asing, kedua pengawal Dae Jung menghampirinya.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Kata Tuan Kim, jangan mengajak orang asing bicara, apalagi yang tidak di kenal." Pengawal Dae Jung memperingatkan.
Mendapat rambu-rambu demikian, Anna langsung menuruti peraturan Dae Jung lewat pengawalnya.
"Maaf, Pak. Sepertinya salah alamat, Saya pamit dulu, semoga anaknya cepat di temukan." Ucap Anna melanjutkan perjalanan santainya.
Dia mengelilingi sekitar taman pyoengchang, suasana hari itu sangat ramai, kedua pengawal Dae Jung kewalahan mengikuti setiap gerak gerik Istri bosnya itu.
"Ya Allah, kasihan banget mereka, melelahkan diri hanya untuk mengikutiku." Gumam Anna yang sesekali menoleh ke arah mereka.
Dari jarak yang sangat jauh, matanya menyorot pria yang sedang mendorong kursi roda yang terisi seorang ibu-ibu. Dia Juh Hyun, Anna langsung menghampiri teman keduanya di Korea setelah Yuna.
"Apa kabar?" Ucap Anna menyapa.
Melihat kehadiran Anna, Jun Hyun tersenyum bahagia.
"Nona Anna juga sedang disini. Ibu, Ini Anna, teman Jun Hyun." Balas Jun Hyun.
Ibunya yang melekat di kursi roda itu menyapa Anna, wajahnya sangat pucat, di balik tubuh rentanya tersimpan penyakit kronis yang mematikan.
Mereka duduk di kursi taman, Jun Hyun mengusap dahi ibunya yang melelehkan butiran keringat. Melihat itu, Anna terbayang bila ibu Dae Jung masih hidup, pasti suaminya itu akan memperlakukan ibunya demikian.
Anna mengangguk tersenyum melihat ibu Jun Hyun tak henti menatapnya.
"Kamu cantik. Saya bahagia kamu berteman dengan Jun Hyun." Ujar ibunya.
"Rupanya kita nanti semua akan mati kehausan, aku cari kedai dekat sini." Usul Jun Hyun.
"Ha, Jun Hyun, Sepertinya uangmu akan habis membelikan ku minuman setiap saat." Tukas Anna.
Jun Hyun tertawa, " Titip ibuku."
"Tenang saja, ada pengawalku juga, ibumu tetap terjaga."
Jun Hyum melirik ke pengawal Anna yang keduanya memakai laos hitam juga bercelana jogger. Dia meninghalkan kedua wanita itu yang mulai bercengkrama.
"Kamu sudah lama kenal Jun Hyun?" Tanya ibu itu.
"Belum cukup lama." Jawab Anna.
Ibu Jun Hyun menghela nafas berat, Seperti mengeluarkan sesak di dadanya.
__ADS_1
"Jun Hyun, anakku satu-satunya, hartaku, dia sebagai penyemangatku untuk tetap hidup. Dia anak yang baik, pekerja keras." Ucapnya.
"Ya, dia pernah bercerita tentang ibu dan keluarganya. Katanya, ibu itu segalanya bagi dia."
Ibu Jun Hyun mengerutkan alis, sangat tertegun dengan pernyataan Anna.
"Dia pernah menceritakan itu, bahkan tentang saya padamu? " Tanyanya dengan suara berat.
Anna mengangguk yakin.
"Dia bukan anak yang gampang percaya pada orang lain, dia termasuk anak yang tertutup, jika dia menceritakan kisah hidup kami padamu, berarti kamu sangat sudah di percaya olehnya." Jelas ibu Jun Hyun.
Anna terdiam, ibu Jun Hyun melanjutkan lagi, "Atau kamu termasuk orang yang ada di tujuan hidupnya."
Anna tergugu. dia hanya menggaruk kepala, bingung harus membalas apa ucapan ibu Jun Hyun yang sedang sakit itu, janagan sampai membuatnya tersinggung.
Saat Jun Hyun kembali dengan membawa tiga gelas minuman segar, seperti biasanya kedua pengawal Dae Jung kembali mencegatnya.
"Kalian coba saja. Ini tidak ada racunnya." Ucap Jun Hyun yang kesal sebab di curigai secara terus menerus oleh kedua pengawal kekar itu.
Setelah mencoba setetes di telapak tangan, mereka mengizinkan Jun Hyun memberikan kepada Nona Anna.
"Kenapa dia kesal? Ini kan sudah tugas kita." Kedua pengawal Dae Jung mengerutu.
Jun Hyun melihat dari jauh Anna begitu akrab dengan ibunya, senyum ibunya sangat sejuk berbicara dengan perempuam muslim itu.
"Kalian sedang membicarakanku." Ketus Jun Hyun.
"Iya, ternyata kamu anak yang baik kata ibumu." Sahut Anna.
Setelah lima belas menit terlewati, Anna mengingat dengan Dae Jung yang mungkin sudah bangun. dia pun ingin pamit dari ibu dan anak tersebut.
"Maaf, aku harus pulang. Lain waktu kita akan bertemu lagi. Saya pamit." Anna menyalami tangan Ibu Jun Hyun, buat seorang hati ibu itu terenyuh.
Anna kembali melanjutkan lari santainya menuju arah pulang di dampingi kedua pengawalnya. Jun Hyun melihat kepergian Anna lagi-lagi tak melepas pandangannya dari muridnya itu, sampai bayangan Anna di telan oleh jarak.
"Apa kau menyukai gadis itu?" Tanya ibunya.
"Menurut ibu?"
"Dia gadis yang baik. Sopan dan sangat menyenangkan." Lirih ibunya.
__ADS_1