BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
SHOLAT BERSAMA


__ADS_3

Ada usapan tangan yang berair mengibas di wajahnya, Anna terbangun, sembari mengucek mata, dia membenarkan penglihatannya.Ah, itu Dae Jung yang membangunkannya, suaminya sudah rapi dengan baju kokoh, peci hitam di kepala.


"Ini sudah subuh, bangun sholat." Ujar Dae Jung yang menggelar sajadah.


Anna hanya bisa melotot, entah kapan malaikat jibril menyemburkan wahyunya sehingga Dae Jung berniat untuk sholat. Mungkinkah dia masih suamiku? atau itu jelmaan malaikat yang merasukinya? Batin Anna.


"Ayo, sana wudhu dulu." Seru Dae Jung pada Anna yang melekat di atas kasur.


Masih dalam keterkejutannya, Anna berlalu ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah semua ritual wudhunya selesai, Anna memakai mukenahnya. Perlahan-lahan mendekati Dae Jung yang dianggap berkelakuan aneh itu.


"Rapikan dulu .." Dae Jung merapikan mukenah istrinya.


"Oppa, kenapa jadi seperti ini?"


"Ha? Apa kau tidak menyukainya?"


"Aku suka, aku suka. Tapi .."


"Ck, Aku meminta Bibi Nas untuk membelikanku perlengkapan alat sholat, membelikanku buku panduan sholat, berhari-hari aku menghafalnya di kantor. Ya, walaupun itu hafalan yang pendek-pendek saja ." Jelas Dae Jung.


"Oppa, sudah di beri hidayah, aku sangat bahagia, bahagia, senang sekali." Anna berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang di beri mainan.


"Ayo, aku kita sholat dulu. Aku jadi pemimpinnya."


"Imam istilah islamnya, oppa." Ketus Anna.


"Ha, semacam itu, kamu pahami saja." Imbuh Dae Jung yang sudah mempijakkan kaki di atas sajadah besar pemberian kepala pelayan Nas, meski Bu Nas beragama katholik, tapi dia sudah banyak tahu tentang berbagai alat sembahyang umat islma itu. Tiga puluh lima tahun menjadi Kepala pelayan di Istana Korain, tentu dia tahu semua aktivitas keislaman Ibu Dae Jung yaitu Sholat dan Puasa.

__ADS_1


Jika di tanya, apakah Anna khusyuk saat pertama kali sholat di mami Dae Jung, di jawabnya, tidak. Rasa bahagia campur kelucuan Dae Jung yang tersendak-sendak ketika membacakan surah iftitah, belum ketika di surah An-nas pria itu berusaha mengingat sebagian ayat-ayat yang sempat ia lupa, Anna yang jadi makmum hanya bisa diam berusaha menahan tawa, CEO Korain memberikan affairs di subuh ini.


Ucapan salam menutup dua rakaat mereka pagi itu, Anna membenamkan wajah di jemarinya. Melihat itu Dae Jung mengusap kepala istrinya, "Kamu jangan terharu begitu, aku sudah siap setiap subuh bersamamu sholat."


"Hahahhahaha, aku tidak menangis, aku tertawa, abis kamu lucu tadi." Anna terbahak-bahak menuntaskan tawanya yang sedari tertahan.


Dae Jung menghelas nafas, "Tertawalah sepuasmu, sebentar lagi kamu akan menjerit." Tukas Dae Jung menakuti Anna, niatnya pagi ini dia ingin melampiaskan hasrat birahinya lagi pada istrisnya itu.


Tetapi buyar ketika deringan ponsel Dae Jung menggema di tasa meja rias Anna, di raihnya, terlihat nama Bibi Nami memanggil. Dae Jung menebak, itu pasti berhubungan dengan Bora lagi. Ahk, menganggu saja! Kesalnya dalam hati.


"Itu siapa? Tanya Anna sebab melihat Dae Jung belum juga menjawab panggilan itu.


"Bibi Nami."


"Jawab saja, tidak sopan mengabaikan telpon."


-PERCAKAPAN BAHASA KOREA--


"Hallo, Dae Jung. Kamu sudah bangun?" Suara panik Bibi Nami terdengar di balik smartphone mahalnya.


"Ya, Bibi, kenapa lagi?"


"Dae Jung, bisakah kamu ke Daegu pagi ini? Bora selalu menanyakanmu, dia mengancam bunuh diri bila kau tidak menemuinya." Tutur Bibi Nami.


Dae Jung menghembuskan nafas berat, sebenarnya dia iba pada mantannya itu. Tapi, hari ini banyak yang harus ia kerjakan, laporan Yuna di kantor menumpuk harus di tanda tangani, belum lagi bertemu dengan klien dari Dubai. Mana mungkin, dia harus mencansel itu semua hanya karna menenangkan Bora yang sedang depresi. Dae Jung mencoba agar Bibi Nami mengerti,


"Maaf, Bibi. Hari ini jadwalku padat. Saya tidak bisa ke Daegu, banyak yang harus saya selesaikan. Jika sudah punya waktu luang, kapan-kapan saya akan menjenguk Bora lagi. Bibi Nami usahakan saja agar Bora aman."

__ADS_1


Dae Jung menutup telpon tanpa menunggu respon dari Ibu mantan kekasihnya itu. Jika sampai mendenagar balasan sendu Bibi Nami, takut bila penolakannya berubah menjadi tumpukkan rasa iba.


Dae Jung berbalik ke Anna, " Kamu dengar itu? sepertinya kita di jadikan obat depresi Bora."


"Bukan kita, tapi kamu." Ketus Anna kesal.


Dae Jung melihat sudah ada kecemburuan di hati Anna, "Aku tahu peeasaan kamu, tapi percayalah suamimu ini tidak akan berpaling dari Istri sebaik Anna Binar Bintang." Dae Jung coba merayu istrinya.


"Aku tidak ingin, ada nama ketiga hadir di mahligai rumahtanggaku, Dae Jung .. saat kau tetap berada disisiku, aku akan memelukmu erat, namun bila kau coba berlari, aku tidak berpikir panjang untuk melepasmu." Ucap Anna untuk pertama kalinya memperingatkan Suaminya tentang prinsip hubungan dari sudut pandangnya.


Dae Jung memahami itu, meski tak ada peringatan demikian dari Anna, dia tetap tak berpikir untuk mendua dengan Bora lagi, atau bersama wanita lain. Ada banyak janji tentang hubungan sudah ia terapkan dalam hidupnya, melihat pernikahan Ayah dan Ibunya yang membersamai pengkhianatan di dalamnya, buat dia sangat membenci kata itu.


"Aku lebih baik sendiri, ketimbang menjalani hidup dengan rasa sakit oleh pengkhianatan." Anna menambahkan lagi.


"Iya sayang, aku mengerti."


"Akan ku buatkan kamu sarapan."


"Anna, kamu harus menemui Jun Hyun, berikan di motivasi tentang islam, setelah aku menyelesaikan masalah kantor, kita akan menjemput Ibunya lalu mengajaknya tinggal bersama kita."


Mendengar itu, Anna teringat Jun Hyun, benar, dia tidak boleh melupakan jasa-jasa guru privatenya, bagaimana pun Jun Hyun juga saudara sambung suaminya, sekaligus temannya. Meskipun perlakuan Jun Hyun membuatnya kesal, tetapi dia harus mengalahkan egois untuk membantu Jun Hyun menjadi pribadi yang lebih baik.


"Ji Yeong akan menemanimu ke kantor polisi. Mulai sekarang, kemanapun kamu pergi, Ji Yeong sudah jadi pengawal terbaikmu." Dae Jung berkata kembali.


Anna menganngguk, Dae Jung mempercayakan semua keselamatan istrinya pada Ji Yeong, pria yang yang sudah banyak mengetahui teknik bela diri. baik menggunakan pistol juga senapan.


Saat Anna sudah keluar dari kamar, Dae Jung memutar otak cerdasnya, memikirkan jalan keluar untuk menghindari Bora, Bagaimana cara agar Bora hidup lebih baik tanpa dia di sampingnya. Ohw, sungguh memusingkan dirinya, beginikah sebagian masalah pria-pria yang memutuskan untuk berpoligami, dia saja yang terjebak di situasi ini bersama mantannnya sudah membuatnya hampir gila, di satu sisi dia harus menjaga perasan istrinya, namun di sisi lain kebaikan jasa Bora kerap kali menghantuinya, tentu masalah itu semakin pelik lagi pada pria yang harus adil pada istri-istrinya, memikirkan itu, Dae Jung mengeleng. Baginya, itu musibah hidup yang ingin ia jauhi.

__ADS_1


__ADS_2