
Sore menjelang Jun Hyun dan lainnya telah berada di kantor polisi. Ji Yeong dan Dae Jung masih bersama mereka, Dae Jung berniat ingin memberikan sepatah kata pada Jun Hyun, meski berat hati, tetapi Jun Hyun harus membayar perbuatan kriminalnya itu dengan beringkus di balik jeruji besi, ini cara agar pria berwajah sendu itu menyadari kesalahannya lalu menghapus semua dendam yang bertahun-tahun memperbudaknya.
Dengan tangan yang sudah terborgol, Jun Hyun di bawa oleh polisi, di ruang kunjungan Dae Jung sudah menantinya. Dia memalingkan wajahnya, merasa menjadi pecundang dalam kekalahannya. Dengan perasaan terpkasa, dia harus duduk memenuhi panggilan Dae Jung.
Di ruang kunjungan mereka berhadapan langsung secara dekat, hanya kaca tebal yang membatasi jarak diantara mereka.
"Maaf jika selama ini kamu menderita karna ulah Ayahku." Dae Jung memulai percakapan itu penuh keramahan.
.
Jun Hyun mengunci rapat mulutnya, kedua bola matanya beralih ke pandangan lain, tetapi telinganya merespon baik kalimat permintaan maaf Dae Jung.
"Seharusnya kita bertemu bukan cara seperti ini, sangat di sayangkan bila kita harus bermusuhan." Lanjut Dae Jung.
Lagi-lagi Jun Hyun belum meresponnya.
"Aku tahu, kamu sangat membenci Ayahku, tapi ini antara kita berdua, bukan orangtua kita. Aku dengar Ibumu masih hidup? Dimana dia?"
Jun Hyun teringat Ibunya yang mungkin sudah menanti kedatangannya, dia hanya menitipkan pada asistent rumah tanggannya untuk menjaga Ibunya sementara waktu.
"Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Dae Jung berharap Jun Hyun membuka mulut untuk berkata.
"Dia sedang sakit." Akhirnya suara itu terdengar lagi olehnya.
"Jika dia mengetahui keadaanmu sekarang, dia pasti sangat sedih."
"Jangan ucapkan apapun padanya."
"Jalanilah dulu masa pembelajaranmu ini, ketika kamu menyelesaikan masa tahananmu, semoga ktika kamu keluar dari sini, kamu sudah menjadi pribadi yang lebih baik, dan aku siap menerimamu sebagai adikku." Tutur Dae Jung.
__ADS_1
"Selama kau disini, biarkan Ibumu menjadi urusanku. Aku dan Anna akan mengajaknya tinggal bersama kami." Lanjut Dae Jung.
Jun Hyun tertegun. Bagaimana bisa pria yang ia anggap musuh ingin mengganti perannya untuk menjaga Ibunya. Apakah Dae Jung mempunyai rencana buruk pada Ibuku ? atau Dia memang pria yang mudah memaafkan seseorang ? Batin Jun Hyun menyelidik.
"Apa kau berpikir buruk tentangku?" Dae Jung menebak pikiran Jun Hyun.
Mimik wajah Jun Hyun penuh keraguan padanya namun pria itu tak bisa memungkiri bila dia sangat membutuhkan bantuan saat ini untuk menjaga Ibunya, ada banyak bahaya yang mengintai Ibunya sebab rencana mereka gagal untuk menghancurkan Dae Jung dan Anna.
Jun Hyun melirik di sekitarnya, sepertinya di tahu pergerakannya di awasi seseorang mata-mata bos besar. Bisa saja polisi yang ada di belakangnya juga dari salahsatu mata-mata mafia tersebut. Ada banyak kalimat yang ingin sampaikan pada Dae Jung, namun karna takut bila Ibunya menjadi sasaram para mafia besar itu, ia urungkan sejenak sampai Ibunya benar-benar terlindungi oleh Dae Jung.
Jun Hyun meletakkan jemarinya di atas meja, dia mengisyarakat tanda bahaya pada dirinya dan Dae Jung lewat mainan jari yang melipat telunjuk dan jari tengah pada ibu jarinya. Mendapat isyarat demikian, Dae Jung memahami bahwa Jun Hyun sedang di bawah tekanan seseorang. Tidak lama kemudian, jemari Jun Hyun mengisyaratkan 'OK' padanya. Hal itu sudah jadi tanda persetujuan bahwa dia mengizinkan Dae Jung membawa Ibunya. Suami Anna itu mengangguk perlahan.
"Aku pulang." Dae Jung pamit membawa pulang puluhan pertanyaan yang menggeliat di benaknya.
Dia meminta alamat rumah Jun Hyun pada polisi, Dae Jung mengarahkan kelima pengawalnya berjaga untuk di rumah Ibunya Jun Hyun, Saat Anna tersadar mereka akan bersama-sama menjemput Ibu malang itu lalu membawa ke rumahnya.
****************
Dae Jung menuju ke kamar Anna, disana ada dokter dan perawat yang mengawasi kesehatan Istrinya yang menurun.
"Terima kasih sudah menjaga istri saya, kalian istirahat juga. Biarkan saya menemaninya." Ujar Dae Jung pada dokter dan pelayannya.
Dia mengunci kamarnya, perlahan mendekati Anna terbaring tak sadarkan diri di ranjang. Dae Jung merebahkan diri di samping Anna, memandangi wajah istrinya, memorinya kembali mengingat saat pertama kali bertemu dengan Anna, di taman resto mereka saling mencela satu sama lain, menganggap pernikahan mereka menjadi musibah terhadap diri mereka masing -masing, dan tak menaruh simpati sedikit pun hingga pernikahan itu berlangsung.
Hmm .. Dae Jung tersenyum mungil bila mengenang semua itu. Ternyata perempuan yang di pilihkan cinta reinkarnasi Kakek Hang Baek Hyeon memang anugerah terbesar untuknya.
"Maafkan aku sayang .. Aku belum bisa menjagamu dengan sempurna." Lirihnya.
Dae Jung menenggelamkan wajahnya di leher Anna, menghirup aroma tubuh Anna yang smia rindukan semalaman tidak bersama Anna buat dirinya tersiksa. Dia ingin tertidur bersama istrinya penuh kemanjaan.
__ADS_1
"Sayang .." Suara Anna melirih.
Rupanya Anna merasakan sentuhan lembut Dae Jung di tubuhnya, penglihatannya masih buram.
"Kamu sudah sadar, aku sangat khawatir sayang."
"Aku baik-baik saja."
"Jangan lagi bertindak sendirian, apa gunanya aku sebagai suamimu." Protes Dae Jung secara lembut.
"Aku ingin memberitahumu tapi aku tidak ingin banyak membebanimu."
"Beban apa? melindungi istri itu bukan beban sayang, tapi kewajiban. Kamu tahu juga itu."
Dae Jung mencium bahu Anna, dia eratkan pelukan di tubuh Anna yang masih lemas.
"Mulai detik ini, apa yang kamu lakukan harus aku ketahui, bila perlu semua harus aku ketahui, keluar rumah harus membawa banyak pengawal dan harus aku ketahui, saat kamu BAB, pipis, mandi, makan, kentut sekalipun aku harus ketahui.Titik. tidak pakai koma atau spasi." Tegas Dae Jung, cara ini bentuk perlindungannya terhadap Anna.
" Itu terlalu posesif, Sepertinya aku sudah kehilangan privasi." Ujar Anna dengan nada berat.
"Biar. Aku memang harus posesif pada istriku sendiri. Kenapa juga harus ada privasi di antara kita? Tubuh polosmu saja selalu ku pandangi tiap malam, apa itu termasuk privasi? Jangan membantah suami, berdosa."
Anna mengangguk, Dia tahu suaminya akan memberikan yang terbaik untuk dirinya. Bil peringatan Dae Jung sudah terucap tegas, maka nyali Anna pun menciut pada Presdir Korain yang sangat di segani itu.
"Aku ingin tidur dengan posisi seperti ini.Oh, nikmatnya bersandar di bahu istriku." Dae Jung menyandarkan kepala di bahu Anna.
"Aku yang sakit, Oppa. Aku yang seharusnya di manja." Ketus Anna.
"Aku akan manjakan kamu dengan barang branded nanti, biarkan aku saja yang manja seperti ini." Imbuh Dae Jung yang memejamkan mata.
__ADS_1
Melihat tingkah lucu suaminya, Anna teringat kalimat Jun hyun yang berkata 'musuh korain di luar sana banyak', Oh, Ya Allah .. akankah Dae Jung selalu di hantui kesalahan masa lalu Ayahnya? Batin Anna.