BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
JANJI BAEK HYEON


__ADS_3

Memutar Waktu 1445..


Baek Hyon duduk di kursi kayu. Tangan dan pjnggungnya di tempel dedaunan obat yang di buat Indo (ibu Yama), dia menatap rembulan malam yang begitu ikhlas menerangi malam tanpa pamrih. Di lubuk hatinya ada kerinduan pada sanak saudaranya di Korea, tetapi janji cinta pada Yama lebih besar dari pada keinginan kembali ke Negara ginseng sana.


Ada Yama datang membawa segelas teh di cangkir plastik. Perempuan cantik itu duduk di samping suaminya. Dia menyelimuti Baek Hyoen dengan selimut. Yama mengamati semua luka-luka yang ada pada tubuh Baek Hyoen. Ada rasa sedih menumpuk di hatinya. Karena dia, Baek Hyeon rela menjadi parajurit Mayoer Soaed Moestafa Kosasih menjadi PPP "Pasukan Pangeran Pakpak."


"Apa tubuh lukamu terasa nyeri?" tanya Yama.


Baek Hyeon menggeleng. Dia hanya tersenyum.


"Maaf, karena saya, kamu mengalami semua ini." Ucap Yama merasa bersalah.


"Aku bisa menahan sakit ribuan peluru, tapi aku tidak bisa melihatmu bersedih, jangan sedih .." Kata Baek Hyeon dengan bahasa Indonesia yang belum teratur.


"Kamu jangan pergi lagi ikut berperang. Ini sudah cukup." Ujar Yama.


"Aku akan tetap berkorban untukmu juga Negaramu." Tekad Baek Hyeon.


Yama gamang. Dia tak ingin suaminya terluka lagi. Tetapi Baek Hyeong sudah bertekad, memperjuangkan Indonesia hingga titik darah penghabisan. Kakak dari Presdir Hang itu sudah mencintai Indonesia juga mencintai islam. Jikalaupun dia mati dalam peperangan, dia akan tersenyum sahid, itulah yang di katakan Mayoer Soed Moestafa Kosasih.


"Kalau begitu berjanjilah, kau keadaan baik dan selamat." Tukas Yama.


"Aku tidak bisa berjanji Yama. Karena itu semua di luar kendaliku." Sahut Baek Hyeon.


"Aku yakin, kita akan terpisah ..kita pasti tidak bisa bersama." Lirih Yama yang sudah tahu firasat tentang akhir cerita cinta mereka.


"Bukankah kita sudah pernah sepakat, akan ada keluarga kita yang melanjutkan jiwa dan cinta kita kelak."


"Aku tidak yakin itu.." Ucap Yama ragu.


Baek Hyoen mengusap kepala Yama.


"Lihat rembulan itu," Baek Hyeon menunjuk ke atas bulan sabit. "Kita akan bersama-sama mengucapkan janji dan keinginan kita. Pejamakan matamu dan ucapkan dalam hati .." Pinta Baek Hyeon yang juga sudah memejamkan kedua matanya.


Yama menunduk dengan berdoa dalam hati, "Ya Allah, satukanlah kami di akhirat nanti. Jika cinta kami di lahirkan bersama jiwa maka biarkanlah kami bersama."


Sementara Baek Hyoen berucap, " Satukanlah kami di akhirat nanti, jika kau memeberikan kesempatan cinta dan jiwa kami lahir kembali, maka buatlah aku sebagai pria hebat yang selalu mencintai Yama dan melindungi Yama seumur hidupku."


Namun kalimat doa itu hanya satu di ijabah oleh Allah, yaitu doa seorang pahlawan yang ikhlas syahid, doa Baek Hyoen. Doa itulah turun ke jiwa Dae Song, hingga cara Alalh lebih memudahkan dengan melahirkan anak kembar yang siap melindungi Yama dan mencintai Yama sepenu hati jiwa dan raga mereka. Tetapi cinta itu hanya bisa bertahan lada satu jiwa, Jiwa itulah ialah ....


*********

__ADS_1


Abad 21 ..


Semua mata tertuju pada Anna. Sesak di dadanya bukan karena sakit oleh peluru Bora. Melainkan keterkejutannya karena pria itu rela tertembak demi melindungulinya. Dae Song masih mernagkul Anna.Tubuh pria itu kian melemah. Seiring lelehan air matanya membasahi bahu Anna.


"Ahhhhkkk ..oppa.." Lirih Anna.


Mereka jatuh bersama terhempas di tanah. Anna memegang dada Dae Song yang sudah tertancap timah panas.


Ahhhh !! Anna histeris.


"Kenapa kamu melakukan ini?" tanyanya.


Dae Song mengangkat perlahan tangannya, melenyapkan butiran air di pipi Anna.


"Ja-jangan me-menangis .." Ucap Dae Song pelan.


Anna tetap menangis, makin histeris, Dae Song yang ada di pangkuannya tak ingin menerima air mata Anna yang tumpahkan itu. Dia ingin melihat wanita yang di cintainya tetap tersenyum.


"Tu-tugas Baek Hyeon melindungi Yama. Aku Baek Hyeonmu.." Kata Dae Song menahan sakit di punggungnya.


"Huhuuhu .... Jangan berkorban dua kali untukku." Anna mengusap pipi Dae Song.


"Ja-jangan menangis, a-aku bisa mena-nahan sakit ribuan peluru, ta-tapi aku tidak bi-bisa melihatmu menangis Anna." Kalimat Dae Song sudah tersentak-sentak.


Helikpter korain sudah landas, Dae Jung dan Ji Yeong melompat dari Helikopter itu. Dia berlari ke arah Anna dan Dae Song,


Tapi suara tembakan di balik pohon terdengar menjatuhkan Dae Jung. Chung Sang yang sedari tadi menangis karena melihat Dae Song terluka, anak angkat yang begitu ia sayangi tertembak oleh Bora. Karena tak ingin hidup Dae Song tak adil, dia ingin membunuh Dae Jung pula.


Polisi dan Pak Lee seketika menemba ke arah pohon besar yang di baliknya ada Chung Sang.


Rumpi anti peluru Dae Jung yang sempat di berika pada Bibi Ling, mengantarkan sebagai musibah pada dirinya sendiri. Teoat di bawah tulang rusuk Dae Jung, timah panas Chung Sang tertancap.


Durrtt !! Akhh !! Chung Sang memekik kesakitan, matanya mengarah ke anaknya, Ji Yeong. Dengan air mata yang mengalir, Ji Yeong menembak Ayah kandungnya demi tugas dan janji kebaikan pada Korain.


Durrrt !!! tembakan kedua ia layangkan lagi ke Ayahnya, telat di dada dan juga kepal Chung Sang. Sembari menatap Ji Yeong dari Jauh, Ayanya terjatuh ke tanah. Dia tergeletak, ingatan kembali mengingat kenangan bersama kedua anaknya, Ji Yoeng dan Dae Song.


Menyaksikan semau yang terjadi Anna dan Kakek Hang jatuh pingsan. Dae Jung berjongkok di tanah. Dari jauh dia juga melihat Dae Song tak entah sadarkan diri atau sudah tiada. Batinnya menerka.


"Hyunga ..." Lirih Dae Jung.


Bora dan Bibi Nami di ringkus oleh polisi, mantan kekasih Dae Jung itu juga histeris melihat suami Anna tertembak.

__ADS_1


"Oppa !!! Dae Junga.. !!"


Yuna yang sejak tadi menghubungi rumah sakit terdekat untuk datang ke TKP.


Tiga ambulanse datang membawa gemuru sirenenya. Dae Song di bawah ke dalam ambilance, berdampingan dengan Anna. Dae Jung yang masih sadarkan diri di bopong oleh Pak Lee masuk ke dalam ambulance di temani oleh Bu Nas.


Semua pengawal dan pelayan korain membawa Kakek Hang kembali ke rumah Korain. Sementara Ji Yeong tersungkur tak berdaya, dia melepas pistolnya, mata sipitnya masih mengeluarkan air rasa ikhlas melepas kematian Ayahnya. Kedua bidikan pelurunya berhasil bersaranh di dada dan kepala Ayahnya.


Yuna berlari ke arah Ji Yeong, dia memeluk kekasihnya itu dengan rasa yang campur aduk pula. Sedih, cemas, takut. Menyaksikan pertumpahan darah yang menggenaskan itu.


"Kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik." Ucap Yuna pada Ji Yeong. Tak peduli dengan jasad Ayahnya, Ji Yeong menyusul ke rumah sakit segera bersama Yuna, ada nyawa yang tak bersalah akan hilang oleh kelakuan Ayahnya.


Seluruh pasang mata awak media itu tak mampu meliput, mereka semua terkejut.


********


Ji Yoeng menunggu kabar dari dokter yang menangani Dae Song dan Dae Jung. Kalimat doa Bu Nas tak pernah putus dari bibirnya. Anna yang masoh pingsan tak sadarkan diri ruang instalasi. Kondisi hamil buat dia tekanan darahnya menurun.


Dokter keluar dari kamar tindakan kedua anak Rifasya itu, Ji Yeong dan Jun Hyun yang barus saja datang menghampiri dokter senior itu.


-PERCAKAPAN BAHASA KOREA-


"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Ji Yeong.


Ekspresi dokter itu lemas, dia menarik nafas lalu menjawab,


"Satunya jantungnya rusak, yang satunya lagi paru-parunya bocor."


Nafas Ji Yoeng pun tak beraturan mendengar itu.


"Lalu bagaimana?" tanyanya


"Sangat berat menyelamatkan keduanya, ada yang harua jadi korban bila di antara dari keduanya kita ingin selamatkan. Mereka berdua bisa saling mendonorkan organ bila kita ingin salahsatu dari mereka selamat. Tapi di antara mereka ada memang yang sangat parah. Sangat kecil kondisi itu untuknya." Jelas dokter itu.


"Siapa?" tanya Ji Yoeng sekali lagi.


Dokter itu membisikkan di telinga Ji Yoeng. Seketika anak Chung Sang itu berjonkok di lantai rumah sakit. Dia menangis menunduk seperti anak kecil. Perasaan Jun Hyun dan Bu Nas sudah tidak enak.


"


******(

__ADS_1


Note ::


Tebak siapa di antara mereka yang bisa selamat? kalian jangan terkecoh. 😢😢😧😧


__ADS_2