BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
MENGGODA


__ADS_3

"Aku bisa lebih hebat dari Anna." Timpal Bora.


Bora tak ingin dijadikan perbandingan oleh Dae Jung. Dae Song mendengar itu tertawa geli, dia menggigit bibir bawahnya, penampilan seksi Bora sangat menggoda kelelakiannya. Meski, hasrat sebenarnya itu pada Anna, tapi itu tak mungkin kesampaian, bila harus melampiaskan pada Bora tentu itu tidak akan salah, kan? batin Dae Song membinatang lagi.


"Kalau begitu kamu buktikan," ujarnya yang mulai melingkari pinggang Bora.


Mendapat respon, Bora bahagia. Dia makin merayu Dae Song dengan merapatkan bibirnya di hidung mancung Dae Song.


'Bora murahan !' Kata Dae Song dalam hati.


Tak bisa menahan godaan Bora, Dae Song mulai menc*um bibir penerus GG group itu. Mereka saling berpangutan, sudah lama Bora menginginkan lakon ini bersama Dae Jung, wanita itu sama sekali tak menyadari bahwa pria yang sedang berciuman dengannya bukanlah Dae Jung melainkan kembarannya.


Sementara Dae Song hanya menikmatinya sebagai pria yang ingin menuntaskan syahwatnya, tak ada rasa tertarik pada Bora, dia menganggap Bora sebagai perempuan malam pada umumnya.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, mereka berdua terkejut dengan kehadiran Ji Yeong yang menyorot tajam. Seketika Dae Song menjauhkan diri dari Bora. Kali ini kelakuannya tertangkap basah oleh Ji Yeong, dan tentu saja hal ini bukan dari kepribadian Dae Jung sesugguhnya.


"Kamu keluar !" Hardik Dae Song pada Bora dengan kasar.


Gara-gara Bora yang datang merayunya, rencananya bisa gagal akibat ulah mereka yang akan di curigai oleh Ji Yeong. Bora keluar dari ruangan itu dengan mengerutu tidak jelas. Bukan marah pada sosok jelmaan Dae Jung, melainkan pada Ji Yeong yang mengganggu suasana romantis mereka.


"Itu apa tadi?" tanya Ji Yeong.


"Dia terus merayuku," sahut Dae Song menghapus bekas lipstik Bora di bibirnya.


"Kau sekarang jadi pecundang." Imbuh Ji Yeong yang sangat kecewa pada tingkah Dae Jung yang berubah.


Dae Song hanya menghela nafas, sekarang menguci mulut cara ampuh agar pria si penyelidik ulung di depannya tak menaruh curiga.


"Untung saja, aku yang mendapati kamu, bukan Yuna, bisa-bisa dia melaporkanmu pada Anna. Dan kamu tahu akibatnya, kamu akan kehilangan Anna." Ji Yeong memperingati sebagai seorang sahabat.


"Iya, iya, aku minta maaf, tidak akan ku ulangi lagi." Ucap Dae Song. Dia mulai menyusun kembali kertas-kertas yang berhamburan akibat dari permainan panasnya bersama Bota.


Mata sipit Ji Yeong mulai mengamati bahasa tubuh Dae Song bersikap, ah, sangat berbeda. Dae Jung yang ia kenal tipe yang sangat berhati-hati, rapi, dan memiliki gaya lembut setiap bergerak bila melakukan apapun. Berbanding terbalik dengan pria yang dihadapannya sekarang, pria itu lebih energik, dan urak-urakkan ketika melakukan sesuatu.


'Arggghhr; Ji Yeong pasti mulai mencurigaiku,' lirih Dae Song dalam hati.


"Aku keluar dulu, " pamit Ji Yeong padanya.


"Hei, jangan beritahu Anna soal tadi," seru Dae Song pada Ji Yeong hampir lenyap ditelan pintu.

__ADS_1


*************


Jun Hyun sudah mendapat lokasi tempat dimana Dae Jung disekap. Dengan membawa pentunjuk dari polisi, Jun Hyun memasukkan itu ke dalam peta didalam ponsel yang diberikan Anna.


Dia menghampiri Pak Su, dan, Pak Lee. Saat tiba di Busan, mereka akan melaporkan pada pihak kepolisian setempat atas penculikan Presdir Korain tersebut.


"Ini, pistol untuk berjaga-jaga bila kita disana, Pak Jin Hyun." Ujar Pak Lee menyodorkan pistol pada Jun Hyun.


Sebelum ke Busan, mereka mampir dirumah Korain untuk mengambil lima pengawal lagi. Ini lebih baik agar mereka bisa meloloskan Dae Jung dengan gampang.


Jun Hyun mengirim pesan pada Anna.


'Anna, Kami sudah menuju ke Busan.'


Membaca pesan Jun Hyun, Anna mulai sedikit lega. Rasanya dia ingin memberitahu Dae Jung hal itu, tapi Dae Jung berpesan, dia tidak boleh menelpon lebih dulu.


Anna mengingat saat semalam tidur bersama Dae Song, perasaannya seketika geli, ternyata dia memeluk pria lain, untung saja mereka tidak melakukan lebih dari itu.


"Bodoh, bodoh," Anna menghardik dirinya sendiri.


Andaikan dia sedang tidak hamil, mungkin dia sudah menghajar kakak iparnya itu, berani-beraninya dia mempermainkan pernikahan adiknya sendiri.


Pria yang menyamar sebagai Dae Jung itu pulang ke rumah karna dia memiliki tujuan, Dae Song ingin mencari stempel sidik jari Dae Jung, bisa saja tersembunyi di ruangan kerja Dae Jung yang ada dirumah ini.


Dae Song menghampiri Anna yang sedang duduk di ruang tamu atas. Anna memaksakan diri tersenyum, meski hatinya begitu marah pada kakak iparnya itu.


"Kau sedang apa disini, sayang?" tanya Dae Song yamg ikut pula duduk di sofa.


"Merenung .." Sahut Anna.


"Kau merenungkan apa? hem?"


"Apa kau sungguh mencintaiku?" tanya Anna.


"Aku mencintaimu, Anna." Jawab Dae Song yang ia rasa itu mungkin rasa dari hati kecilnya.


"Yama dan Baek Hyeon tidak akan terpisah apabila tidak ada orang-orang jahat pada masa itu."


Kalimat Anna buat Dae Song tersentil. Dia pun juga tak tahu siapa Yama dan Baek Hyeon yang di maksud Anna. Bila dia bertanya, tentu itu jadi bumerang untuknya.

__ADS_1


"Kisah mereka berakhir tragis karna dipenuhi orang-orang jahat, mereka dipisahkan karna maut. Kau mengingatnya?" tanya Anna.


Dae Song mengerti, sikap Anna demikian sudah memberikan pertanda bahwa identitasnya sudah diketahui oleh istri Dae Jung itu. Tanpa pikir panjang, Dae Song menarik tangan Anna masuk ke kamar.


Dae Song mengunci pintu dari dalam, dia tak ingin pembicaraan antara dirinya dengan Anna di ketahui orang lain.


Dae Song mndekatkan wajah ke Anna. Tatapannya mengganas, marah, kasihan, dan juga rasa menginginkan Anna itu makin memuncak.


"Kau memang istri yang baik, sejak tadi malam, kau sudah tahu bahwa aku memang bukan Dae Jung."


"Seorang istri takkan mungkin salah mengenali tatapan suaminya. Dae Jung dan kamu sangat berbeda." Sahut Anna.


Dae Song tertawa, dia meraih tangan Anna lalu menggenggam dengan erat.


"Kamu tahu, Kan, sejak kecil Dae Jung memiliki segalanya yang tidak aku miliki. Aku datang bukan untuk merampas semuanya, aku hanya ingin mengambil hakku yang seharusnya aku miliki dari dulu."


"Bukan ini caranya, ini juga sangat tidak adil pada Dae Jung. Sejak kecil dia juga menderita. Dae Jung dipenuhi rasa trauma." Anna melemahkan diri kali ini.


"Trauma apa? dia hidup dengan kemewahan ini, kasih sayang orang tua, pengakuan, kehormatan, semua. Sementara aku, kau melihat aku saja sebagai Dae Jung bukan Dae Song." Ujar Dae Song setengah membentak, dia ingin Anna memahami posisinya juga.


Anna berusaha lepas dari genggaman Dae Song, tapi takut bila hal itu bisa membuatnya terjatuh dan bisa berefek buruk pada janinnya.


"Kamu hanya melihat tanpa menyelami, sejak kecil Dae Jung menderita, setiap hari dia melihat Ibu kalian menangis, di pukuli oleh Ayah kalian, bahkan Dae Jung juga kadang di pukuli, dia melihat adegan itu setiap hari. Saat Ibu kalian meninggal, dia sendiri, dia bangkit dari traumanya. Ini bukan adil atau tidak, tapi sudah jalan takdir hidup kalian." Jelas Anna yang begitu iba pada kedua anak Rifasya Salim itu.


Belum puas, Anna kembali mengunkap kelanjutan penderitaan Dae Jung karna ulah mereka yang dendam. Suara bergetar disertai tangisnya meraung.


"Kamu tahu, Korain sempat bangkrut akibat Ayah kalian, tujuh tahun suamiku membangun dengan kerja kerasnya, dia korbankan masa mudanya demi mempertahankan perusahaan kakek Hang, tapi begitu kejinya kalian menghancurkan dengan sekali ledakan, Dae Jung hampir gila !!!! dia tidak makan, tidurnya tidak enak, dia berusaha bangkit lagi bukan karna memikirkan dirinya, tapi karna dia merasa bertanggung jawab, dia memikul puluhan ribu korban, pada semua karyawan Korain. Tetapi


Setelah suamiku bersusah payah lepas dari masa sulitnya, kalian ingin merampasnya ? hhuuhhuhuu ..." Tangis Anna makin menggema di kamarnya.


"Aku tidak pernah melihat iblis, tapi aku yakin kalian itu adalah jelmaannya." Kecam Anna, dia menunjuk ke wajah Dae Song, kedua matanya memerah mengeluarkan air mata kemarahan.


"Jika terjadi sesuatu pada suamiku, aku tidak akan berhenti mengutukumu. Bahkan sampai mati pun, Tuhan tidak adil bila dia tidak menghukummu."


""Kalian memang pantas dipisahkan, karna kalian sangat berbeda." Tukas Anna.


Anna keluar dari kamar itu dengam membatin pintu, meninggalkan Dae Song yang termangu mendengar semua ucapan Anna yang menggetarkan jiwanya.


Timbul pertanyaan di benaknya, apakah yang cara pengabdiannya pada Paman Chung Sang ini salah?

__ADS_1


__ADS_2