
Perjalanan kembali ke rumah, di dalam mobil, Anna merasa ada yang aneh pada suaminya. Sepanjang perjalanan mereka hanya menutup mulut tanpa ada candaan seperti biasanya. Hanya alunan musik yang di putar oleh pria itu.
Keanehan Anna memang benar, pria yang bersamanya bukanlah sosok suaminya Kim Dae Jung, melainkan Dae Song yang sedang menjalankan aksinya atas perintah ayah angkatnya. Dae Song tahu, ini cara yang tidak benar, terlebih lagi dia menyakiti adik kembarannya sendiri. Tetapi disisi lain, ada yang pula mewajibkannya, dia harus berbakti pula pada Paman Chung Sang.
Yang dilakukan Dae Song ini hanya sementara, dia tidak akan melukai siapapun termasuk Anna dan Dae Jung. Setelah misinya selesai, yaitu memindah tangankan Korain pada Ayah angkatnya, dia akan kembali ke tempatnya semula. Menjalani hari-hari sebagai pria yang tersembunyi.
Anna masih dalam kegamangan, sesekali matanya melirik ke arah Dae Song. Dia masih tak menyadari pria itu bukanlah suaminya.Tak ada yang akan menyangkan, Dae Song sudah sedemikian apik mendandani dirinya seperti Dae Jung. Style rambut hingga kemeja yang digunakan Dae Jung persis yang digunakan oleh Dae Song sekarang.
"Apa karna ini bawaan hamil, sehingga aku merasa ada yang aneh pada Dae Jung." Lirih Anna dalam hati.
Batin seorang istri mulai memberontak.Pikiran Anna sudah tak singkron lagi dengan hatinya. Kata hati berkata jiwamu sedang tidak ada bersamanya. Cinta itu sudah jauh dari naungannya. Sementara pikiran mengatakan dia suamimu, lihatlah wajahnya, tubuhnya, tak ada alasan yang membuatmu merasa ada yang aneh pada diri pria disampingmu itu. 'Oh, aku kenapa ini?' batin Anna mengeluh.
Dae Sing menginjak rem secara mendadak.
"Kenapa kau menatapku?" tanya Dae Song dengan tatapan ganasnya.
"Aku merasa ada yang aneh, tapi sudahlah mungkin karna bawaan hamil." Sahut Anna yang ketakutan melihat sorotan mata tajam Dae Song.
Dae Song kembali berfokus mengemudi, mereka kembali lagi dalam kebisuan masing-masing. Sibuk dengan pemikirannya sendiri. Dae Song yakin, Anna tentu saja curiga pada dirinya, hal inilah yang paling sulit dikelabui apabila menyangkut feeling seorang istri terhadap suaminya.
Mobil mereka sudah memasuki halaman rumah Korain. Dae Song keluar dari mobil, membukakan pintu untuk Anna, tetap saja, tak ada senyuman di wajah tampannya itu.
Dae Song terdiam menatap kemewahan rumah orangtua kandungnya. Bangunan kokoh nan mewah berlantai empat. Seharusnya disinilah tempatnya puka dibesarkan seperti Dae Jung, bukan di tempat persembunyian yang pengap bersama kesunyian.
"Oppa, kenapa berdiam disitu?" tanya Anna yang sudah berada di teras.
Tak menjawab sepatah kata pun, Dae Song menyusul dengan menaiki anak tangga di teras rumah. Di dalam rumah, ada Bu Nas yang menyambut mereka dengan kelima pelayan wanita.
Meski sudah mantap dengan recananya, tetap saja Dae Song tegang melakukan penyamaran ini. Dia berusaha bersikap seperti Dae Jung yang selama ini ia intai lewat kemera tersembunyi, kamera yang ia titipkan pada pelayan wanita yang pernah berkhianat sebelumnya.
"Kami sudah makan, Bu Nas. Saya dan Tuan mau istirahat saja. Rasanya sangat lelah hari ini." Imbuh Anna berlalu naik menyusuri tangga, tangannya menenteng platik berisi obat pemberian dokter Yee Rim.
__ADS_1
Dae Song masih berdiam di ruang tamu, matanya melihat pajangan foto mendiang orangtuanya. Gambar kedua orangtuanya sedang memeluk Dae Jung yang berusia lima tahun. Mereka hanya bertiga saja, melupakan takdir bahwa pasangan itu telah dikaruniai anak kembar.
"Hm, kalian bahagia dimasa itu, sementara aku berjuang melawan sakit." Kecam Dae Song penuh rasa dendam pada Ayah dan Ibu kandungnya.
Bu Nas menghampirinya.
"Tuan Kim, rindu pada Tuan dan Nyonya?" tanya wanita paruh baya itu.
"Tidak." Sahut Dae Song berlalu begitu saja meninggalkan Bu Nas.
Dia menyusul Anna kembali ke lantai atas, dimana kamar Dae Jung dan Anna berada.
"Seharusnya aku bisa menikmati semua ini sejak kecil." Gumam Dae Song melihat kemewahan rumah korain yang hampir manyamai istana inggris.
Ada kebinguan menyergapnya, Anna sudah tak nampak lagi dipenglihatannya. Sementara rumah seluas itu sepenuhnya belum ia mengerti. Dae Song memutar mata ke arah kanan kiri. Ada banyak pintu kamar dan ruangan. Dae Song bingung letak kamar pasanagn suami istri itu dimana?
"Ahk, pelayan bodoh itu tidak memberikan denah rumah ini." Dae Song mengerutu seraya berjalan mundur mengamati setiap pintu.
"Oppa, sedang apa?" suara Anna nampak dibalik pintu disampingnya.
"Oh, ya, smartphone kamu ada di tasku, ambil saja." Tukas Anna.
Dae Song mencari ponsel Dae Jung di tas Anna yang diletakkan diatas kasur. Lewat handphone Dae Jung, dia akan menghubungi anggotanya menanyakan kabar Dae Jung.
Dae Song memilih duduk di tepi sofa, menjauhkan diri dari Anna, agar adik iparnya tidak curiga. Dengan jemari bergerak cepat, tangannya mengirim pesan pada nomor handphone salahsatu anggotanya yang sedang menjaga Dae Jung.
'Kalian sudah ada dimana? hati-hati jangan sampai Dae Jung terbangun.'
Ada balasan dari mereka.
'Kami menuju pulang ke Busan, Dae Jung sudah kami suntik bius 12 jam. Dia tidak akan bangun sampai esok.'
__ADS_1
'Kurung dia diruangan yang sudah kita siapkan, siapkan pakaian dan makanan yang cukup untuknya. Bagaimana pun dia adikku. Setelah misi kita tercapai, kita lepaskan dia.' jangan menghubungi nomor ini, jika bukan aku yang lebih dulu.
'Baik, Bos.'
'*Jangan sampai pintu itu terbuka, kalian bisa habis oleh Dae Jung. Anak itu pemegang sabuk hitam.'
'Siap, Bos*.'
Setelah semua selesai, Dae Song menghapus semua percakapan itu. Dia pikir, Dae Jung dan Anna salahsatu pasangan yang saling terbuka, tentu tak ada privasi di ponsel mereka masing-masing.
"Aku sudah menyiapkan air hangat, mandilah." Ujar Anna yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ya,"
Saat Dae Song ke kamar mandi, Anna memeriksa ponsel itu. Berharap ada sesuatu yang didapatkan dari keanehan yang ia rasakan.
"Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini?" Gumam Anna seraya mengusap dadanya.
Dia yakin, ada sesuatu yang sudah terjadi, Anna mencoba menelpon Ji Yeong, namun nomor sekertaris pribadi Dae Jung tidak aktif.
"Ada apa dengan Ji Yeong, biasanya nomornya 24 jam selalu aktif." Anna mengerutu.
"Ya Allah, kenapa jiwaku seperti kosong ..Laahaulaa quwatta illaahbilaah.."
Sangat sulit menggambarkan perasaanya sekarang ini, Anna bingung harus mengutarakan pada siapa. Hanya Ji Yeong yang selalu menangani masalah mereka dengan tepat. Sementara pria yamg sedang mandi itu sama sekali tak menampakkan insting seorang Dae Jung sesungguhnya.
Anna mulai ketakutan, dia mondar-mandor sendiri di kamarnya. Apa yang harus dia lakukan pada pria asing yang berwujud suaminya itu. Bila menolak sekamar dengannya, tentu itu tak masuk akal pula. Kecurigaanya belum mendasar, tak ada bukti.
"Ya Allah, tunjukkan kebenaran itu .." Anna memohon.
Dae Song keluar dari kamar mandi, mengenakan handuk putih yang terlilit dipinggangnya. Anna memalingkan wajah secara spontan. Seakan tak menerima pandangan itu yang disuguhkan oleh wujud suaminya.
__ADS_1
Karna sehabis mandi, naluri kelelakian Dae Song menguasai dirinya. Anna yang cantik dan menarik buat kejantanannya mulai nakal lagi. Sebagai pria yang selalu mengundang wanita malam menemaninya di rumah, tentu hasratnya terpancing dengan tampilan Anna yang menggeraikan rambut panjangnya, wajah eksotis khas Indonesia sangat menawan di mata Dae Song.
"Ya ampun, kenapa aku tidak memikirkan resiko ini sebelumnya. Sebejat-bejatnya aku, mana mungkin menggauli adik iparku sendiri. Ahhgg.." Kata Dae Song dalam hati.