
Dae Jung menjelaskan informasi dari Ji Yeong, Presdir Hang mendengar tentang Pak Lambau meneteskan air mata atas duka citanya, belum sempat ia mengucapkan banyak terimakasih pada orang yang berjasa dalam hidupnya itu, namun pak lambau terlebih dahulu menghadap ilahi.
"Dae Jung .."
"Ya, Kakek."
"Mari bantu Kakek menuntaskan janji ini." Pintanya.
Dae Jung tergugu, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengucapkan kata penolakan, namun tak mungkin bila ia ucapkan kata setuju, sedang dirinya tidak ingim menerima perjodohan ini.
"Kakek istirahat saja dulu, nanti Dae Jung akan memikirkan semuanya."
"Dae Jung, Kakek sudah terlalu banyak istirahat, berikan saja Kakek jawaban, karna Kakek hanya ingin tenang bila sudah tiada."
mendengar penuturan Kakeknya, Dae Jung terkejut.
"Ah, Kakek jangan bicara seperti itu." Dae Jung merengek.
"Kakek ini sudah tua, dan kamu masih belum punya pasangan yang bisa menemanimu, mungkin ini alasannya mengapa kau harus berkorban menepati janji kami, Kakek yakin ini jalan tuhan yang terbaik untukmu."
"Tapi menikahi seseorang tidak saling mengenal itu sulit." Dae Jung yang masih ragu.
"Biarkan takdir yang menuntunmu menumbuhkan cinta seperti Kakek Baek Hyeon yang tertuntun menemukan Yama."
Karna tak ingin buat Kakeknya berlarut dalam kecemasan, Dae jung mengucapkan kata,
"Baiklah, Kek. Saya akan membantu Kakek menepati janji."
Hati Dae Jung saat itu bergetar, entah langkah ini baik untuknya atau tidak, tetapi niat membahagiakan Kakeknya adalah keutamaan. Dia tak mempunyai keluarga dekat lagi selain Presdir Hang, sejak kedua Orang tuanya meninggal, Presdir Hang berperan sebagai Orangtua sekaligus Guru kehidupan Kim Dae Jung.
Presdir Hang tentu bahagia dengan keputusan Cucunya, dia meminta Dae Jung agar minggu depan sudah bisa ke Indonesia segera menemui keluarga sahabatnya itu.
Dae Jung keluar kamar Presdir Hang,meninggalkan Kakeknya dalam peristirahatannya.
Sekertaris Ji yang menunggu di luar mengikuti langkah Dae Jung ke ruangan kerjanya, di susul pula Sekertaris Yuna,yang menenteng proposal untuk Dae Jung.
"Cari informasi segera tentang wanita itu. Semuanya dengan foto dan biodata lengkapnya." Perintah Dae Jung pada Sekertaris Ji.
Yuna yang mendengar itu seketika wajahnya yang tadinya merah merona telah di selimuti kabut hitam, rupanya pria yang diam-diam ia sukai itu telah terpikat oleh wanita lain.
__ADS_1
"Akan saya lakukan, Pak." Ucap Sekertaris Ji meninggalkan Yuna dan Dae Jung.
Yuna yang tetap mengikuti langkah Dae Jung ke ruangan, menyerahkan beberapa berkas yang harus pimpinan mereka tanda tangani, di benak Yuna tersusun kalimat pertanyaan untuk Kim Dae Jung yang masih mengamati tumpukan kertas itu.
"Maaf, Pak. Selaku Sekertaris, saya lihat sekarang ini Pak Kim sedang sibuk mencari seseorang?" Meski teebata-bata, Yuna tetap memberanikan diri.
"Ya." Jawab Dae Jung singkat.
Yuna tak ingin lagi melontarkan pertanyaan,bekerja selama dua tahun di korain group, dia sangat tahu betul karakter Dae Jung, sikap dingin Dae Jung selalu buat siapa saja segan padanya, bahkan sebagai Sekertaris dia sampai ketakutan bila ucapan nada datar serta ekspresi dingin telah terlihat pada wajah CEO tampan itu.
"Sudah selesai." Ucap Dae Jung mengembalikan tumpukan berkas bermap biru tersebut.
"Baik, Pak." Yuna pamit dari ruangan yang dingin itu sedingin sikap Dae Jung yang tak pernah melihat ada cinta di mata Sekertaris seksinya.
Yuna yang tak bisa membendung kekesalannya, dia memutar otak agar dia bisa mengetahui siapa gadis yang akan Dae Jung nikahi. Iya, tentu kaki tangan Dae Jung, siapa lagi kalau bukan parnetrnya, Ji Yeong.
***********-
"Secepatnya kami tunggu." Ucap Ji Yeong pada seseorang di telpon genggamnya.
"Oppa." Yuna memanggilnya dari arah belakang.
Saat membailkkan badan, Ji Yeong tertegun, Haa gadis yang ia kagumi sudah ada di hadapannya, memanggilnya dengan sebutan yang tak biasa pada dirinya.
"Ya." Sahutnya dengan mata berbinar.
"Oppa, bisakah kita makan siang hari ini?" Ajak Yuna.
"Haahh?" Ji Yeong sungguh terkejut.
"Ini sudah jam makan siang, lagi pula hari ini kita tidak ada jadwal ke kantor, ayo makan siang."
Yuna lebih dulu masuk ke mobil, Ji Yeong masih diam di tempat.
"Oh dewi fortuna, keberuntunganku kali ini." Lirihnya melihat Yuna yang sudah di dalam mobil.
Dia pun bergegas masuk ke mobil lalu menuju restorant rekomendasi Yuna, sesampainya di salahsatu resto kawasan Itaewon itu mereka memesan bulgogi, makanan favorit sekertaris cantik yang berambut panjang itu.
__ADS_1
Membungkusnya dengan daun mint perilla, dengan lahap mereka makan setiap daging sapi yang sudah matang.
Yuna memulai pembicaraanya tentang sesuatu yang ingin ia ketahui tentang Dae Jung.
"Oppa, akhir-akhir ini saya melihat oppa dan Presdir Jung sedang sibuk mencari seseorang." Tanya Yuna.
Ji Yeong yang masih sibuk membolak-balikkan daging sapi korea itu menjawab, " Ya, kami punya satu misi."
Yuna mengangguk.
"Oppa, saya dengar Presdir Jung akan menikah?"
"Hmmm,ya, kemungkinan itu akan terjadi cepat atau lambat." Jawab Ji Yeong seraya memasukkan bungkusan daging ke mulutnya.
"Oh begitu, oppa tau siapa wanita yang di cari Presdir?"
"Ya, orang Indonesia, itu cinta abadi, bukan, cinta sejati sejarah." Ji Yeong polos ungkapkan.
"Apa?!" Yuna tersentak.
Cinta sejati? Dari mana Ji Yeong bisa berpendapat cinta itu akan sejati? Haaa, omong kosong. Kesal Yuna dalam hati.
"Kenapa bisa menebak seperti itu?" Tanya Yuna sedikit protes.
"Karna mereka sudah di jodohkan berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ini rahasia, jadi saya tidak bisa menceritakan secara detil." Tutur Ji Yeong.
Namun di sela-sela percakapan itu, semua tentang Dae Jung, Dia menyadari bahwa mungkin ajakan makan siang Yuna kali ini hanya karna ingin mengetahui hal itu, di tambah lagi perubahan wajah Yuna yang sedang memendam hal yang dia tidak senangi, buat Ji Yeong yakin ini cara yuna untuk mengorek informasi tentang Dae Jung.
"Jadi ini alasan kamu mengajakku kesini." Lirih Ji Yeong dalam hati dengan menatap Yuna.
Ji Yeong kecewa, di menyangka ajakan makan siang wanita yang dia kagumi itu atas dasar Yuna mulai menyukainya. Tetapi tidak, justru Yuna malah semakin menyakiti dengan menunjukkan rasa tertariknya pada sahabat karibnya itu.
"Ayo makan, kita harus kembali ke Presdir." Ucap Ji Yeong mencairkan suasana kekecewaan mereka berdua.
Yuna yang tak bisa menyembunyikan kekesalannya tak sengaja menyenggol gelas minuman berisi soju.
"Maaf, saya tidak sengaja."
Seketika panggilan "oppa"itu lenyap dari bibir Yuna, tentu Ji Yeong semakin terpukul, betapa kecewanya, cinta yang tak kesampaian pada tuannya untuk bertitah, padahal dia sudah di depan mata.
"Yuna, jangan lakukan hal ini lagi." Katanya dalam hatu.
__ADS_1