
Pistol itu masih ia tujukan pada Ayahnya. Ji Yeong tak gentar kali ini, bila harus menancapkan peluru di kepala Chung Sang, pengkhianat besar Korain.
"Kau sudah banyak membunuh orang yang tak bersalah, hanya untuk ..." Ji Yeong tak punya alasan menyempurnakan kalimatnya. Dia pun belum tahu apa alasan Ayahnya mengkhianati Korain.
"Kau tergugu? kau ingin tahu alasannya?" tanya Chung Sang.
"Hahahahahah....Dae Jung dan kau sangat polos, anakku."
Ayahnya tertawa terbahak-bahak. Menggemakan pantulan suaranya di rumah 308 C.
"Kau ingin membunuhku, Ji Yeong?" tanyanya lagi.
"Apa salah Dae Jung dan Korain padamu?"
Prang !!
Chung Sang memecahkan gelas di hadapan anaknya. Dia menampakkan ledakan amarah, dengan tatapan dipenuhi dendam, dia berkata pada Ji Yeong.
"Kau hanya anak kecil yang lugu, tidak akan pernah tau jadi rasanya pria tua yang tak di hormati oleh orang lagi." Ujarnya.
"Aku tanya padamu, apakah selamanya kau akan jadi pendamping Dae Jung? apa hidupmu tidak sia-sia menjadi pesuruhnya? jangan bodoh Ji Yeong!!!!" Kecam Ayahnya.
"Diam !! Jangan bandingkan kebodohanku dengan kekejianmu." Ji Yeong bersuara lebih keras lagi.
Dengan suara yang menahan tangis, amarah, dan kecewa, Ji Yeong bersuara lagi.
"Kau hanya manusia yang tidak tahu berterima kasih, semua yang ada pada dirimu, yang kau pakai, yang istrimu pakai, dan aku pakai dari Korain, bagaimana bisa kau ingin menghancurkannya !!"
"Anah bedebah !!" Lantang Ayahnya mencabut pistol pula di selipan caspernya.
"Kenapa? kau malu mendengarnya? kau mengkhianati orang yang sudah baik padamu, pantaskah itu di sebut manusia?" tukas Ji Yeong.
"Diam anak brengsek !! Diam !! Tutup mulutmu atau kau akan ku bunuh !!" Ancaman Chung Sang pada Anaknya.
Dua pistol sudah saling mengancam satu sama lain, mata mereka berdua tak ingin berkedip, tak ada ingin ada kelengahan untuk memberikan ruang musuh melumpuhkannya.
"Kau akan ku bunuh bersama Ibumu yang cacat itu !!" Hardik Chung Sang.
Ji Yeong terkejut, Ibu cacat? siapa yang di maksud oleh Ayahnya? setaunya Ibunya adalah orang yang sempurna secara fisik, tak ada kata cacat disandang oleh wanita cantik itu.
"Kau bingung? apakah kau ingin tahu siapa Ibu kandungmu? hah? "
__ADS_1
Ji Yeong makin bergetar, Ayahnya memang sudah kehilangan akal sehat, bagaimana bisa berkata demikian, apakah benar Ibunya yang dikenali itu memang bukan Ibu kandungnya? apakah pria di hadapannya bukan ayah kandungnya pula? batin Ji Yeong mulai mendesak.
"Anakku, Ji Yeong, kau hanya anak yang terlahir dari rahim perempuan yang jadi pelampiasan hiburanku saja." Ungkap Chung Sang.
Kaki Ji Yeong bergetar, kalimat Ayahnya sungguh melukai hatinya. Bagaimana bisa seorang Ayah berkata sekeji demikian pada anaknya. Chung Sang sudah gelap mata akibat dendamnya.
"Kau anak kandungku, tapi kau tidak pernah mematuhi perintahku. Sangat disayangkan, percuma aku membesarkanmu." Imbuh Chung Sang.
"Kau ingat wanita yang membawakanmu bekal saat SMU? mendatangimu di sekolah?" tanya Chung Sang pada Ji Yeong.
Ji Yeong masih tetap pada siaga yang sama. Namun dia berusaha mengingat kenangan yang di utarakan Ayahnya tersebut. Dia ingat, dua kali ada sesosok ibu-ibu yang mendatanginya di sekolah saat SMU dulu. Datang dengan wajah sumringah, pelukan hangat serta makanan enak di sebuah rantang kecil untuknya.
"Wanita itu Ibumu .." Lanjut Chung Sang.
Ji Yeong menelan salivanya dengan kasar. matanya mengerjap sebab hampir hilang kesadaran akibat penuturan Ayahnya.
.
"Berhenti membual iblis !!" Kecam Ji Yeong makin mendekatkan ujung pistolnya ke Chung Sang.
"Haahahahhahahhahah..." Ayahnya malah tertawa kembali.
"Coba kau ingat lagi wajah Ibumu itu, apa akhir-akhir kau pernah melihatnya lagi? aku memberimu waktu mengingatnya." Lanjut Chung Sang yang begitu puas bila semua iti terungkap pada Ji Yeong. Cara itu agar anaknya bisa berpihak padanya, tidak pada Korain lagi.
Ji Yeong menelaah berbagai moment yang terjadi di hari-hari kemarin, pada akhirnya di menemukan suatu bayangan yang membuatnya tersungkur di lantai, tubuhnya memelas, tak ada energi lagi, bayangan wanita yang mendatanginya di sekolah sama dengan wanita yang ada di cctv saat ledakan pabrik Korain.
Sebagai Ayah, Chung Sang sedikit menyimpan kesedihan melihat anaknya harus menerima kenyataan itu. Tapi inilah adanya, Ibu kandung Ji Yeong adalah wanita tua yang ada di cctv.
"Kau harus menerima itu, Anakku. Dia Ibumu yang berasal dari Taiwan. Dia pembantuku dan sekaligus istriku sampai saat ini."
"Diam !! Diam aku bilang !!"
Dor ! Dor ! Arrrggghhh ..
Ji Yeong bangkit melayangkan dua peluru ke arah tembok di belakang Chung Sang. Bentuk kemarahannya pada Ayahnya.
Semua pasang mata yang ada dri rumah 308 C menyaksikan perdebatan api antara Ayah dan anak itu.
"Aku tidak peduli, kau akan ku masukkan ke dalam penjara." Tekad Ji Yeong yang ingin berlaku jujur dalam hal ini.
"Apa kau sanggup mengatakan ini pada Dae Jung? bahwa kedua orangtuamu lah yang jadi penyebab kehancuran Korain."
__ADS_1
"Apa salah Dae Jung? dia tidak tahu menahu soal ini." Kata Ji Yeong yang masih bernada tinggi.
"Tidak ada yang salah pada anak itu, jika dia mempunyai salah, dari dulu aku membunuhnya. Tapi, yang salah pemilik awal Korain ! 20 tahun aku mengabdi, di angkat jadi anak angkat dan saudara angkat, aku tidak mendapatkan hak atas Korain, sedikit pun, Ji Yeong !!" sembari menipiskan bibir, Chung Sang melotot amat mengerikan.
"Aku hanya dijadikan asistent, pesuruh, dan mereka hanya menggajiku dengan bayaran cek. Bukan itu yang ku mau, aku ingin memiliki sebagian Korain. Hanya sebagian Korain."
Ji Yeong tersenyum miring, Ayahnya sangat menyedihkan dengan mimpi yang tak masuk akal baginya.
"Ambisimu terlalu tinggi, hingga kau lupa daratan. Aku tidak bisa membayangkan bila Korain jatuh ditangan manusia sepertimu, Korain tidak bisa berdiri menopang ribuan kehidupan yang mengabdi, tetapi karna kejahatanmu kau bunuh sebagian nyawa itu." Ujar Ji Yeong.
Arrrggghhhhhh !!
"Andaikan kau bukan darah dagingku, kau sudah kubunuh hari ini."
"Hm, andaikan bisa memilih, lebih baik aku mati, dari pada memiliki orangtua sepertimu." Sahut Ji Yeong.
Dor !! Ji Yeong menembak lagi ke tembok.
Prang !!
Ada suara pecahan kaca jatuh ke lantai, suara itu berasal dari kamar urutan dua di sebelah kananya, kamar desain maskulin di cat hitam, yang pernah Ji Yeong masuki untuk menyelidik rumah 308 C dan mendapati bungkusan obat dan gelas kosong.
Dua dari anggota Ayahnya, beranjak menuju ke pintu kamar itu. Mereka berbaris menghalau agar Ji Yeong tak masuk ke kamar itu. Ji Yeong pura-pura tak mendengar suara itu, kendati demikian, dia penasaran siapa yang ada di dalam kamar tersebut.
Karna tak ingin Ji Yeong menyelidiki sesuatu yang di sembunyikan olehnya, Chun Sang mengalihkan perhatian Ji Yeong kembali.
"Lalu kau akan bagaimana? memenjarakan kedua orangtuamu demi Korain?" tanya Ayahnya.
Tengan kiri Ji Yeong mengepal. Rasanya dia ingin membunuh semau manusia yang ada di rumah itu. Dia melangkah mundur selangkah demi selangkah. Ji Yeong ingin enyah dari hadapan semua anak dajjal itu.
Para pengikut Ayahnya ingin mencegatnya. Namun di halau oleh Chun Sang. Dia membiarkan Ji Yeong pergi membawa sebagian rahasia yang sudah terungkap.
"Bos, Ji Yeong akan melapor ke polisi." Ujar salah satu pengikutnya.
"Dia tidak akan melakukan itu, dia tidak akan tega pada kami orangtuanya." Sahut Chung Sang.
Chung Sang bergegas ke kamar yang di tempat suara pecahan kaca itu berasal. Saat membuka pintu, dia melihat pemuda yang sangat ia sayangi berbaring di lantai sembari memegang dadanya menahan sakit, karna pemuda itu terkejut dengan suara pistol Ji Yeong, sehingga jantungnya kembali melemah.
Suara tarikan nafas pemuda itu memburu.
"Oh, anakku, maafkan Ji Yeong tadi. Kalian ambil obatnya, jangan biarkan anak kesayaganku ini makin kesakitan.
__ADS_1