
Bora masih menunggu di luar bersama Ibunya, Kubuh Korain sudah memukai sarapan dengan mengunci mulut masing-masing, ketegangan yang di hadirkan Bibi Nami dan Bora memperngaruhi mood mereka pagi ini. Semua sibuk berkelayut dengan kekesalan, termasuk Dae Jung yang juga letih di hantui oleh bayangan Bora yang seakan Deja Vu di kehidupannya sekarang.
"Apa perlu di tambahkan teh nya, Nona?" Tanya Bu Nas pada Anna.
"Biar saya sendiri Bu Nas, lanjutkan sarapannya saja." Sahut Anna.
Dae Jung mencuri pandang ke istrinya, nampak sangat Anna kesal dengan sikap Bora padanya. Dia mengolesi selai coklat di atas roti lalu meletakkannya di piring Anna.
"Ini kesukaan kamu, kan sayang." Ujar Dae Jung mencairkan suasana.
Yuna dan Ji Yeong saling melempar tatapan, mereka berusaha membantu Dae Jung untuk mencairkan mood Anna yang membeku.
"Anna, kapan-kapan kita ke klinik kecantikan lagi, percantik diri kita, ya." Tukas Yuna.
Anna hanya mengangguk kecil. Tak ada kata sepatah pun terdengar dari bibir mungilnya.
l
"Iya, itu bagus. Yuna pergilaj bersama Anna, aku beri kamu blackcard khusus untuk kalian bersenang-senang." Dae Jung menambahkan sudah lama kartu hitam itu ingin di berikan pada Anna, tetapi istrinya selalu menolaknya, sebab belanja berlebihan bukan jati diri seorang muslimah yang baik.
"Iya Pak Kim, aku mau sekali." Sahut Yuna bersemangat.
Ji Yeong langsung menyentil kaki Yuna dengan kakinya yang bersembunyi di bawah meja, dia mengerutkan alis pada kekasihnya itu agar menjaga sikap bila berhubungan dengan uang. Mendapat rambu-rambu demikian, nyali Yuna menciut.
Ji Yeong pun juga mempunyai kartu hitam, namun jarang di gunakan, menjadi sekertaris pribadi Dae Jung membuatnya memilik banyak aset property, belum lagi dia ikut menanamkan saham pada anak perusahaan Korain yang berada di Indonesia. Tetapi Ji Yeong sudah nyaman menjadi partner Dae Jung selama lima tahun, dia tak ingin melepaskan pengabdiannya pada sepupu angkatnya itu.
"Iya, Yuna. Besok kita akan mempercantik diri. Hm, karna aku sudah was-was sekarang ini." Imbuh Anna menyinggung suaminya.
"Kamu tidak usah was-was, dia itu hanya masa lalu uang sudah bukunya aku sudah tutup. Kamu yang sekarang mengisi lembaran baruku."
"Itu benar, Anna. Kamu lebih menawan dari pada dia." Yuna menambahkan lagi.
"Ya, aku lebih menawan, dia lebih seksi." Ketus Anna.
__ADS_1
Dae Jung tersenyum kecil, ternyata istrinya sudah sangat mencemburui Bora. Tapi biarlah, Dae Jung merasa senang bila istrinya sedang cemburu, Anna makin gemas dan lucu bila di terpa rasa demikian. Lagipula, Bora secantik apapun dia takkan berpaling dari Anna yang sudah memenjarakan dirinya bersama ketulusan.
Adegan makan berlangsung 10 menit, Dae Jung, Ji Yeong, dan Yuna sudah bersiap-siap ke kantor bersama, di luar masih ada Ibu dan anak itu menunggu mereka. Anna dan Bu Nas juga ikut mengantar ketiga orang terdekatnya itu sampai di halaman.
Melihat itu, Bora langsung meraih tangan Dae Jung lagi untuk menggadengnya.
"Oppa, aku ikut." Pintanya.
"Aku mau ke kantor, bukan piknik." Ketus Dae Jung.
"Maksudku, kita sama-sama ke kantor, aku antar kamu."
Dae Jung menghela nafas, Bora makin membuatnya tertekan.
"Ya, sudah kamu masuk ke mobilmu sendiri."
"Kenapa kita sama-sama?"
"Karna ada Sekertaris Ji dan Sekertaris Yuna. Dia harus berangkat bersamaku. Aku berangkat dulu," Dae Jung mempamitkan diri, sebelum masuk ke mobil dia mengedipkan mata pada Anna, itu cara dia merayu istrinya yang sedang cemburu.
Bora juga segera masuk ke mobilnya pula, Bibi Nami yang masih berdiri di depan Anna dan Bu Nas, mencoba memainkan kata lagi.
"Maaf, Nona Anna. Aku pinjam suamimu dulu, Bora harus sembuh, hanya Dae Jung yang bisa melakukan itu." Kata Bibi Nami.
"Kau sudah mendidik anakmu untuk merebut hak orang lain, sama sepertimu." Kecam Bu Nas padanya.
Bu Nas mulai mengingat masa lalunya dengan Bibi Nami yang kurang mengenakkan, ada rahasia yang ingin Bu Nas ungkapkan, namun ia sadari itu percuma saja, sebab semua sudah tak berguna lagi.
"Hee, Tau apa kamu, Di rumah ini kau hanya pelayan yang jadi parasit bertahun-tahun, perawan tua!" Bibi Nami membalas.
Anna mulai terpancing dengan kalimat umpatan Ibu Bora itu.
"Jaga bicara Bibi. Bu Nas di rumah ini bukan pelayan kami, tapi kami sudah menaggapnya sebagai Ibu. Saya heran, Bibi ini dari keluarga yang terpandang, tapi norma dalam berbicara itu nihil." Ujar Anna.
__ADS_1
Bibi Nami geram, baru kali ini ada wanita macam Anna menghardiknya demikian. Anna yang hanya beruntung saja di nikahi oleh Dae Jung bisa berkata seperti itu padanya.
"Lain kali kalian akan melihat yang lebih dari ini. Sediakan saja tissue untuk penyesalan kalian." Peringatan Bibi Nami.
"Ayo, Bu. Cepat." Seru Bora di balik kaca jendela mobilnya.
Dia meninggalkan Anna dan Bu Nas yang mengeleng dengan kelakuan salahsatu irang terkaya do Korea Selatan itu.
"Aku seperti memainkan peran di sinetron, Bu Nas." Imbuh Anna memelas
"Yang sabar, Nona."
Di perjalanan menuju ke kantor Korain, Bibi Nami dan Bora mengalami insiden kecil yang menyebabkan ban mobil mereka kempes di tengah jalan, alhasil mereka harus menunggu suruhan Ayah Bora membawakan mobil mereka yang lain.
"Ck, Ibu kita akan telat sampainya." Keluh Bora.
"Sebentar lagi, sopir kita akan datang."
"Bu, kenapa Anna seperti mempunyai hubungan dengan Dae Jung? Aku lihat tatapan mereka berbeda. Apa mereka sudah berpacaran? " Bora menyelidik.
"Tentu tidak. Dae Jung itu orang yang berkelas, mencari pasangan yang berkelas juga, seperti kamu."
Bibi Nami tak henti mendoktrin anaknya, dia pikir ini cara yang baik untuk meransang pikiran normalnBora agar kembali seperti sedia kala.
Di dalam mobil, Dae Jung mencoba meminta pendapat pada Ji Yeong, dia tak ingin Bora menjadi momok di rumahtangganya bersama Anna.
"Bagaimana caranya agar Bora sembuh tapi juga bisa lepas dariku?" Tanyanya.
"Pindahkan saja ke planet lain." Ketus Ji Yeong yang juga bingung.
"Aku serius, aku juga tidak bisa melupakan kebaikam Bora, tapi ada Anna yang harus aku jaga perasaannya. Astaga, aku hampir gila bila menjalani hari-hari seperti ini." Dae Jung mengerutu.
"Jalani saja dulu, yang jelas kamu masih tidak melampaui batas sebagai suami Anna. Kita lihat perkembangan mental Bora, bila sudah membaik, jujurlah kalau kau dan Anna sudah menikah." Usul Ji Yeong padanya.
__ADS_1
Dae Jung menelaah semua, dia harus bersabar dulu menghadapi sikap Bora yang bertingkah seperti anak kecil itu.