
Bibi Nami masih menemani Bora di kamar, sudah dua minggu anaknya sakit, demam Bora tak kunjung reda. Di tambah lagi perempuan berparas cantik itu tak mau makan, suaranya hanya berlirih memanggil nama Dae Jung.
Paman Kang Sae masih tetap berupaya mencarikan dokter terbaik untuk anaknya. Seperti hari ini, dia dua membawa dokter dari Singapura yang bisa membantu Bora keluar dari penyakit depresinya.
Bibi Nami masih menyimpan dendam pada Dae Jung dan Anna, sampai saat ini dia ingin masih menghancurkan mereka. Hanya saja, keadaan Bora yang buat dia belum mampu bertindak.
Saat kedua dokter keluar dari kamar Bora, Bibi Nami langsung menghujam Paman Kang dengan kalimat,
"Bahkan kau mengumpulkan dokter seluruh dunia ini, itu tidak akan menyembuhkan Bora."
"Kau jangan pesimis, Anak kita pasti sembuh." Sahut suaminya yang duduk disamping Bora.
"Aku selalu bilang, dokternya hanya satu .." Imbuh Bibi Nami tetapi langsung dipotong oleh Paman Kang.
"Suami orang maksudmu?" cetus Paman Kang.
Bibi Nami melirik malas pada suaminya. Pria itu memang selalu bertolang belakang dengan pendapatnya.
"Sudahlah, kita buat Bora kembali menjadi gadis yang periang, kita akan pindahkan dia di luar negeri, itu cara yang bagus untuk melupakan Dae Jung." Usul Paman Kang.
Bibi Nami menghela nafas, dia tidak akan memindahkan Bora bila rumahtangga Dae Jung dan Anna tidak hancur. Bahkan, bila sulit dihancurkan, dia berniat membunuh salahsatu dari mereka.
Dia beranjak keluar dari kamar itu, meninggalkan Bora dan Paman Kang. Masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu kamar dari dalam. Setelah merasa aman, Bibi Nami mendial nomor sekutunya. Seketika suara berat pria terdengar di ponselnya.
"Ini sudah terlalu lama, aku butuh tindakkanmu sekarang." Ujarnya pada pria itu.
"Jangan terlalu terburu-buru Nami .. Kita pelan mainnya, tapi pasti. Ji Yeong mulai mencurigai kita, amankan situasi sementara, bila mereka lagi lengah kita serang mereka lagi."
Bibi Nami tak mau mengerti, dia tak ingin Dae Jung dan Anna berbahagia diatas penderitaan Bora.
"Bisakah kau membunuh Isteri Dae Jung? hanya itu yang ku mau sekarang."
"Haahahhahahh ..." Pria itu malah tertawa, " Rupanya kau sudah menjadi psikopat sepertiku, Nami." Lanjutnya.
"Aku tidak ingin mendengar bualanmu, jika dalam seminggu ini kau tidak bertindak. Aku yang akan bertindak." Kata Bibi Nami yang mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Bibi Nami akan mencelakai Anna, membuat Dae Jung kehilangan istrinya seumur hidup. Dengan kematian Anna, dia akan merasa puas, Dae Jung tak bisa dimiliki lagi seseorang selain Bora.
"Aku akan membunuhmu dengan cara tragis, Anna."
*****************
Usai sholat isya, Anna dipanggil oleh salah satu pelayannya, hanya mengenakan switer hitam putih dengan kerudung instant hitam, Anna menuju ke balkon taman sesuai arahan pelayan tersebut.
Taman atas begitu gelap, biasanya ada lampu yang menerangi taman favorit Dae Jung itu. Perlahan Anna melangkah, namun dia dikwjutkan dengan sinaran lampu-lampu kerlap-kerlip yang berurutan menyala menyinari taman itu.
Ada Dae Jung berdiri sembari memegang bunga mawar putih, dengan mengenakan celana putih dan switer pink membiat kesan imut di Presdir Korain itu.
Dae Jung menyungging senyum seraya melangkah ke Anna.
"Ini untukmu sojunghan (sayang) .." Ucap Dae Jung memberikan setumpuk bunga itu ke Anna.
Mata Anna berkaca-kaca lagi, ah, Dae Jung selalu membuatnya terharu bila bersikap padanya.
"Kau tertawa lagi?" ketus Dae Jung.
"Ayo duduk disana, makanan itu dari tadi menantimu."
Dae Jung mengajak Anna ke meja kecil yang sudah di tata dengan makanan yang dia masak sendiri untuk Anna, sepulang kantor, pria tampan itu menyibukkan diri di dapur, kepulangannya tak di beritahu pada Anna.
"Ayo kita makan, sambil ungkapkan semua keluh kesahmu selama dua minggu ini." Kata Dae Jung yang memotongkan steak untuk Anna.
Suapan demi suapan meluncur ke lambung mereka. Di benak Anna, dia ingin membahas tentang bahaya yang bisa akan menimpa mereka lagi.
"Oppa, apakah ini sudah berakhir atau masih ada lagi?" tanyanya.
Dae Jung menarik nafas dalam-dalam, pertanyaan Anna membuatnya harus menyusun kalimat baik agar istrinya tidak begitu khawatir.
"Aku tahu, kamu juga tahu hal-hal seperti ini, semua belum berakhir, Anna." Sahut Dae Jung yang juga tidak ingin berbohong pada Anna.
"Haruskah kita seperti Yama dan Baek Hyeon, tidak pernah tenang selama berumahtangga, selalu di hantui peluru dan peperangan." Imbuh Anna memelas.
__ADS_1
"Tidak akan seperti itu," Dae Jung menimpal.
"Tapi, semua seperti Deja Vu, mereka terpisaha karna salahsatunya meninggal."
Cukup lama Dae Jung terdiam, menundukkan wajah yang tak berdaya, dia bisa melawan berbagai macam musuh, namun sekarang dia mempunyai kelemahan, yaitu Anna dan bayinya.
"Ya Tuhan, jangan jadikan aku Baek Hyeon bila harus meninggalkan Yama lagi." Lirih Dae Jung memandangi Anna penuh kesenduan.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, seperti Baek Hyeon yang gugur di peperangan." Kata Dae Jung meyakinkan.
Anna menghela nafas, rupanya Dae Jung belum mengetahui cerita sepenuhnya kisah Yama dan Baek Hyeon. Surat terakhir yang Anna baca di kaleng legend dari Kakek Lambau menceritakan akhor kisah Yama dan Baek Hyeon, dan itu hanya dirinya yang tahu, Presdir Hang pun tak tahu itu.
"Bukan Baek Hyeon yang meinggalkan Yama, tapi sebaliknya."
"Maksudmu? Yama yang meninggal?" tanya Dae Jung gugup.
Anna mengangguk. Dengan keberanian ia kumpulkan jadi satu, Anna menceritakan sepenggal kisah Yama dan Baek Hyeon yang di ketahui secara rahasia, ini rahasia negara yang tidak pernah dikemukakan di publik pada sejarah kepahlawanan, hanya Pak Lambau dan sebagian prajurit lainnya yang mengetahui hal itu.
"Kakek sudah banyak menuliskan kisah mereka, karna ini rahasia, malam ini hanya sepenggal akan ku ceritakan."
Dae Jung sangat menunggu kalimat-kalimat rahasia Anna tersebut.
"Pada saat Baek Hyeon dinyatakan gugur di pengeboman agrasi militer, dia tidak meninggal, dia sempat di bawa lari oleh tentara Inggris, Baek Hyeon di sekap di sebuah goa. Mereka membuat seolah-olah Baek Hyeong meninggal di ledakan itu bersama kedua sahabatnya. Baek Hyeon setiap saat di siksa untuk memberikan bocoran tentang misi Letnan Soed Moestafah Kosasih, namun Baek Hyeon selalu mengunci mulut. Dia rela di pukuli, di setrum, dan siksa lainnya."
"Di pulau seberang Kakekku mendampingi Yama yang sedang hamil, bersedih karna berita kematian suaminya. Hingga saat tentara Jepang membunuh satu per satu penduduk di Desa kami, Yama meninggal di bunuh oleh tentara Jepang yang menjajah daerah kami. Saat Baek Hyeon berusaha meloloskan diri dari sekapan Inggris, Baek Hyeon kembali ke mencari Yama, tetapi Yama sudah meinggal dunia membawa janinya. Setahun kemudian, Baek Hyeon meninggal dengan keadaan sakit karna luka di kepalanya, itu akibat strum dan pemukulan selama penyiksaan Inggris padanya."
Dae Jung menyimak semua cerita Anna begitu bergetar, nafasnya tak beraturan.
"Bukan Baek Hyeon yang meninggalkan Yama, tapi Yamalah meninggalkan Baek Hyeon, dan itu ..."
Belum lengkap penuturan Anna, Dae Jung membungkam bibir mungil istrinya dengan bibirnya pula. Ciuamannya mengisyarakat untuk melebur kekhawatiran Anna.
Dae Jung tak ingib peduli dulu dengan hal itu, dia tidak ingin kehilangan moment indah bersama Anna.
Sembari mencium Anna, Dae Jung berlirih dalam hati, "Kau akan tetap hidup, bahkan nyawaku sebagai gantinyan"
__ADS_1