BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
YUNA VS BORA


__ADS_3

Mereka masih saling beradu ketajaman mata, dua perempuan keras hati telah bertabrakan, Yuna judes tersulut oleh Bora yang arrogant.


"Kau ingin menantangku?" Bora menyerngit.


"Kau yang merasa tertantang." Ketus Yuna.


"Sekertaris sombong sepertimu sanggup ku gaji 100 orang." Bora menyombongkan diri lagi.


Gadis lembut sudah begitu banyak berubah semenjak pelecehan itu terjadi padanya, entah karna didikan Bibi Nami selama lima tahun menjadikannya lebih arrogant.


"Aku memang hanya sekertaris, tapi tidak pernah menganggu suami orang." Yuna menyentilnya.


"Maksud kamu?" Karna Bora yang belum tahu bahwa Dae Jung sudah menikah, dia tak memahami ucapan Yuna tersebut.


"Hm, hidungmu lancip sekali ..Kamu sudah berapa kali Plastic surgery? tujuh kali? atau lebih?" Ujar Yuna bernada ejekkan.


"Aku ingin bertemu Dae Jung. Apa perlu seorang tunangan membuat agenda." Tutur Bora.


Yuna tertawa geli, makin meledek ucapan Bora yang di penuhi khayalan baginya.


"Aku baru kali ini melihat orang mimpi dengan mata terbuka." Ketus Yuna melanjutkan tawanya.


Akhhh !!!!!!!


Bora tidak tahan lagi melihat sekertaris Dae Jung itu, dia menarik rambut Yuna sekeras-kerasnya.


Ssskkk!!


Yuna begitu kesakitan, tangan kanan Yuna pun menjepit hidung Bora yang sudah dua kali perombakan operasi plastik.


"Lepaskan, perempuan gila." Kecam Yuna makin menjepit hidung Bora.


Bora yang juga merasakan sakit di hidungnya belum mau melepaskan cengkramannya di rambut panjang Yuna.


"Kamu akan ku botakkan!" Hardik Bora.


Yuna melipat bibir menahan sakit,


"Lepaskan atau implan hidung kamu rusak?" Yuna mengancam seraya menjepit lebih keras hidung Bora.


Akkhhhh!!! Yuna makin kesakitan. Kali ini dia tidak peduli lagi dengan tempat, kantor akan jadi saksi duel mereka kali ini.


Plaak !! Yuna menginjak kaki Boro dengan keras dengan sepatu high heelsnya.

__ADS_1


Ahhhh!!!!! Bora melengking kesakitan.


"Rasakan kamu !!" Kecam Yuna.


Bora masih ingin menuntaskan amarahnya, dia melepaskan heelsnya untuk memukul Yuna. dengan sigap sekertaris Dae Jung itu melepas heelsnya pula untuk di jadikan senjata pertahanannya.


"Kamu mau adu kekuatan sepatu? Ayo sini." Ujar Yuna yang sudah siap dengan aba-abanya.


Bora geram lalu melompat bebas ke arah Yuna, menjatuhkan diri di tubuh primadona Korain itu, sehingga dua badan perempuan itu terjatuh di meja kerja Yuna, komputer dan semua yang ada di meja jatuh berserakan di lantai.


"Rasakan juga ini." Bora memukul wajah Yuna dengan hak sepatunya.


Tangan Yuna yang juga menggenggam sepatu juga ikut meninggalkan jejak merah di wajah anak Bibi Nami itu.


"Rusak, cacat kamu, Pak Kim mana mau sama kamu. Sakit Jiwa." Ucapan kalimat Yuna itu di bareangi rasa sakit pula.


Dari balik lift, ada dua karyawan yang terkejut melihat aksi bringas dua perempuan cantik itu.


"Apa yang kalian lakukan, berhenti !" Kedua pria itu berusaha melerai mereka.


"Lepaskan, aku ingin memperi pelajaran wanita skait jiwa ini." Sahut Yuna pada teman sekantornya itu.


"Yuna, jangan ini kantor, sudah, sudah." Kedua pria itu mengambil alih untuk memisahkan mereka satu sama lain. Tetapi kemarahan Yuna dan Bora mengalahkan tenaga kedua pria bertubuh kurus itu.


Plkaarrkkk !


Yuna memberikan tendangan tornado hingga mengenai pipi kiri Bora hingga terpental.


Pintu meeting room kini terbuka, di balik pintu ada yamg keluar, itu jajaran Dae Jung, Ji Yeong, serta direksi Korain Korea dan tiga klien dari Dubai yang ingin melakukan kerjasama pada pihak Korain, mereka semua terkejut melihat aksi pergulatan perempuan seksi itu.


"Ya ampun, Yuna .." Lirih Ji Yeong dalam hati.


Dae Jung sudah memasang wajah marah campur malu.


Bora dan Yuna masih melakukan perlawanan satu sama lain, mereka tak menyadari ada barisan orang besar yang sedang menonton aksi anarkis mereka.


"Ada Presdir!" Tukas kedua pria itu pada Yuna.


Yuna dan Bora langsung terhenti, mereka menundukkan wajah sembari merapikan baju mereka yang sebagian sudah sobek.


"Maaf, seharusnya anda tidak menyaksikan hal ini." Ujar Dae Jung pada kliennya dalam berbahasa inggris.


Ketiga pengusaha dari Dubai itu hanya tertawa, mereka pamit dari Dae Jung lalu memasuki lift. Mereka sedikit geli dengan aksi karyawan Korain tersebut.

__ADS_1


"Kenapa bergulat disini? Kenapa tidak di stadion saja." Geram Dae Jung.


"Maaf, Pak Kim. wanita ini memaksa untuk masuk ke ruangan meeting." Sahut Yuna dengan suara rendah.


Dae Jung mempercayai perkataan Yuna, ia tahu sikap Bora sekarang yang suka memaksakan kehendaknya, tentu semua itu di layangkan lavi pada Yuna. Dae Jung menghela nafas,


"Kalian ke ruanganku sekarang." Titahnya.


Mereka di tuntun Ji Yeong memasuki ruangan pribadi Dae Jung. Ji Yeong rasanya ingin memeluk Yuna saat itu juga, merasa kasihan pada kekasihnya itu yang sudah kesakitan.


"Yunaku..." Lirihnya lagi dalam hati.


Mereka duduk di sofa, Dae Jung berdiri menyilangkan tangan, dia benar -benar malu dengan tingkah Yuna dan Bora di hadapan kliennya.


"Bora, tujuanmu kemari untuk apa?" Tanyanya.


"Aku ingin bertemu denganmu. Tapi, malah mengejekku. Aku akan menuntutmu." Ujar Bora pada Yuna.


Yuna tak gentar sedikitpun, dia makin melayangkan pandangan kebenciannya.


"Kamu yang akan di tuntut perusahaan ini, sudah menyebabkan keributan lalu melukai karyawan." Tegas Dae Jung.


Bora seketika menangis mendengar ancaman Dae Jung.


"Kamu sudah banyak berubah, kita sama-sama pernah janji untuk saling melindungi. Aku kemari hanya karna ingin melpas rindu, selama lima tahun aku menderita Dae Jung. Aku kira kamu merasakan hal yang sama, tapi ternyata aku salah." Tutur Bora yang kembali terisak tangis.


Dae Jung tertegun, yang di katakan Bora memang benar, dia menderita selama lima tahun karna memghilangnya Bora dari kehidupannya, tapi itu sebelum dia menemukan Anna. Dae Jung lagi-lagi di terpa rasa kasihan pada mantannya itu.


"Tapi Bora, cara kamu salah, memakasakan kehendak itu tidak baik. Ayo kamu harus rajin ke psikolog." Dae Jung menggunakan kelunakannya.


"Aku tidak butuh psikolog, aku hanya butuh kamu, semua akan membaik bila kamu tidak menghindar."


Mendengar itu, Yuna dan Ji Yeong terperanjat, mengeleng dengan keteguhan Bora yang menginginkan Dae Jung.


Bora berdiri lalu memeluk Dae Jung,


"Aku sangat merindukan Dae Jungku yang dulu. Dae Jung yang SMP, SMU, dan Kuliah. tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk bisa di lupakan." Lirih Bora menumpahkan air matanya di dada Dae Jung.


"Ya, Tuhan, perempuan ini benar-benar psikopat." kata Yuna dalam hati.


Mata Dae Jung mulai menyembab, kenangan dengan Bora terbayang di pelupuk matanya, Bora yang selalu menyemangatinya di setiap dia di terpa keputus asaan, di kala dia merasa kesepian tanpa kehadiaran orang tua, Bora yang selalu mengisi hari-harinya, mengajaknya belajar agar menjadi pria sukses. Bora satu-satunya yang buat dia merasa lebih baik kala itu.


Tapi ..Anna adalah perempuan yang sudah di ikatkan dalam ikatan suci pernikahan dengannya, mustahil bila dia harus mengenyampingkan Anna demi Bora.

__ADS_1


__ADS_2