
Sore itu Ji Yeong hanya mengantar Yuna pulang ke rumah Korain, dia hanya mengantar Yuna sampai ke pagar.
"Kenapa sekalian tidak mengajakku bertemu orangtuamu?" protes Yuna.
"Aku kesana dulu untuk memberitahu hubungan kita, setelah itu aku juga akan mengajakmu kesana berdua, tapi setelah semua selesai, ok ?" Ji Yeong berusaha agar Yuna tidak mencurigai bahwa keinginannya ke Busan bukan semata-mata menjenguk orangtuanya, melainkan mencari pentunjuk dari Jun Hyun.
Dia selalu mengingat pesan Jun Hyun, bila kesana jangan membawa siapapun ataupun memberitahu Dae Jung, ini demi kebaikan bersama, hal itu membuat Ji Yeong sedikit merasa ada yang aneh, tapi disisi lain Jun Hyun pun sangat ia percaya.
Yuna yang sudah mengerti melepas pacarnya pergi ke Kota kelahirannya itu. Di temani Pak Su, Ji berada di jok depan, dua bodyguard yang dia bawa menemaninya menelusuri seluk beluk kejahatan pada Korain.
"Pak Su, antarkan kami ke ke stasiun." Ujarnya.
Pak Su mengangguk, dia membawa sekertaris kepercayaan Korain itu ke stasiun Seoul. Ji Yeong dan kedua bodyguardnya menaiki kereta KTX menuju Kota kedua terbesar di Korea Selatan itu.
Dua jam lebih berada di keretan yang kecepatannya 305 km/jam itu mereka telah sampai di stasiun Jungang-dareo.
Ada sopir pribadi Ayahnya yang menjemputnya, mereka menuju ke rumah orangtua Ji Yeong sebelum melakukan penelusuran lagi.
Setiba di rumahnya, Ibunya menjemput dengan membawa Ayahnya yang sedang duduk di kursi roda. Mulut Ayahnya miring ke kanan, dia diagnosis stroke setahun yang lalu.
"Apa kabar kalian Ayah dan Ibuku yang selalu mesra ini?" sapa Ji Yeong memeluk kedua orangtuanya.m
Dia memberikan buah tangan dari Yuna dan Dae Jung pada Ayah dan Ibunya. Dia masuk sejenak ke rumah tempat ia dibesarkan itu.
"Bagaiman perkembangan Ayah, Bu?" tanyanya yang mengamati semua bagian tubuh Ayahnya.
"Dia sudah ada kemajuan, sudah meminta isyarat bika ingin menghirup udara segar." Sahut Ibunya.
"Syukurlah, Ayah saya dan Dae Jung sedang sibuk, Korain sedang banyak masalah, bila Dae Jung ada kesempatan, dia akan mengjenguk Ayah dan juga membawa istrinya." Terang Ji Yeong.
__ADS_1
Sejam ia menghabiskan waktu dirumahnya, mengisi perut dan meluapkan kerinduan, Ji Yeong dan kedua bodyguardnya pamit, dia ingin menuju ke suatu tempat yang di arahkan oleh Jun Hyun.
"Kita harus kesana sebelum larut malam." Ujarnya pada kedua pria kekar itu.
"Siap, Pak Ji."
Dengan naik taksi, mereka menuju ke alamat rumah yang berada di kawasan perumahan kalangan menengah.
"No. 308 C," ujarnya pada sopir taksi itu.
Seratus meter mobil yang mereka tumpangi, hingga terhenti pada nomor tersebut.
"Ya, benar ini sesuia dengan tertulis disini." Imbuh Ji Yeong.
Dia dan kedua pengawalnya turun dari taksi. Mereka bertiga mengamati rumah yang seperti tidak berpenghuni itu, tidak jauh beda dengan rumah persembunyian Bora sebelumnya. Ternyata dibalik kesunyian rumah mewah menyimpan rahasia besar yang terungkap, dan mingkin saja dia bisa menemukan hal besar pula di rumah itu. Pikir Ji Yeong.
"Kita masuk lewat atas pagar." Ji Yeong nekat.
Setelah melewati pagar besi yang setinggi semeter itu, Ji Yeong dan kedua bodyguardnya mendobrak pintu, kesekian kalinya akhirnya Ji Yeong berinisiatif untuk merusak knop pintu.
Pintu itu terbuka paksa, mereka bertiga berpencar untuk mencari keberadaan penghuni rumah bercat coklat tersebut. Namun setengah jam berlalu, berkeliling ke setiap sudut rumah itu, tak ada manusia yang nampak selain mereka.
"Jangan ada sentuh barang apapun di rumah ini." Pesannya pada kedua pria kekar itu.
"Sepertinya mereka tidak ada disini, Pak Ji." Tukas pengawal bermata sipit itu.
"Aku tahu, mungkin mereka sudah tahu kedatangan kita atau kita sedang dipermainkan oleh Jun Hyun? kita cari bukti dulu di setiap kamar, dapur, dan toilet. Usahakan jangan menyentuh secara langsung, pakai sarung tangan yang sudah kita bawa tadi."
Ji Yeong memasuki bagian kamar utama, kamar itu seperti tak pernah ditempati, debu bertumpuk pada semua barang yang ada dikamar itu.
__ADS_1
Dia berpindah lagi ke kamar kedua.Kamar ini nampak berbeda dengan sebelumnya. Sprei berantakan, selimut pun terkoyak sehabis dipakai seseorang, Ji Yeong yang sudah memakai kaos tangan melihat diatas laci ada gelas dan obat-obatan dokter.
"Ini pasti punya mereka." Gumamnya seraya memasukkan obat-obatan itu berserta gelas kosong ke dalam plastik.
"Pak Ji, kami menemukan foto keluarga Pak Kim ada di ruang tamu sebelah.
Ji Yeong mengambil foto keluarga Dae Jung yang menunjukkan Dae Jung dipeluk oleh Ayah dan Ibunya, Foto kusam itu seperti sudah di gores-gores oleh seseorang, seperti ingin mencabik-cabik wajah dan tubuh yang ada di foto tersebut.
'Ini foto lama, saat Dae Jung ulang tahun ke 9 tahun.' Lirih Ji Yeong dalam hati.
"Ada lagi yang kalian temukan?" tanyanya.
"Ada Pak Ji. Handuk yang masih basah di toilet sepertinya seseorang di rumah ini baru saja sehabis mandi."
Setelah menyimpan semua bukti itu ke dalam plastik, Ji Yeong memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Dia tahu, bahwa yang mereka hadapi adalah orang yang cerdik, komplotan itu akan memanipulasi semua dengan menuduhnya ingin merampok rumah bila berlama-lama di rumah misteri 308 C tersebut.
"Aku rasa ini cukup untuk sementara, kita keluar dari sini." Titahnya pada kedua pengawal andalan Dae Jung itu.
Perjalanan kembali ke Seoul, dia akan menemui kembali Jun Hyun, meminta penjelasan sebenarnya. Dia juga lelah dengan teka-teki ini, Jun Hyun harus membuka mulut demi keselamatan Dae Jung dan Anna.
Ji Yeong kembali mengingat foto keluarga Dae Jung yang ia temukan. Mengapa orang itu menyimpannya? dan siapa sebenarnya penghuni rumah 308 C ? ada masalah apa dia dengan Korain? apakah menyangkut perbuatan Ayah Dae Jung lagi?
"Oh Tuhan, Dae Jung benar-benar bernasib malang." Ji Yeong mengerutu didalam kereta.
"Pak Ji, sepertinya dia akan kembali ke rumah itu lagi." Ujar salahsatu bodyguarnya.
"Karna disana masih lengak barangnya," Ji Yeong menambahkan.
"Hhh, andaikan kita bisa bersama polisi, tapi bisa-bisa kita yang di tuduh nanti ingin merampok rumah itu."
__ADS_1
Ji Yeong ingin membawa semua bukti-bukti itu ke badan penyelidikan, dia ingin mengetahui sidik jari yang sudah memegang obat dan gelas tadi, sepertinya orang itu sehabis meminum obat.
Dari sidk jari itu, ia bisa mengetahui identitas penghuni rumah 308 C. Tapi untuk mempermudahnya, dia akan bertemu dengan pria yang sangat bucin pada Anna, yang tak lain Jun Hyun si anak yang malang pula.