BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
PENYELIDIKAN JI YEONG


__ADS_3

Sore itu Ji Yeong ke kantor polisi, sekertaris tangguh nan kharisma itu akan menyelidiki semua pelaku yang ada di dalam video amatir cctv.


"Pak Ji, kami sudah mengumpulkan semua video yang disekitar pabrik, kami menemukan bukti baru." Ujar polisi itu padanya.


"Putar sekarang."


Ada banyak video yang terlihat tapi ada satu yang di zoom oleh Ji Yeong, wanita yang membawa ransel itu telihat berlari menjauh dari ledakan. Wanita itu tidak termasuk dalam korban ledakan pabrik Korain, dia memilih jalan keluar di samping pintu pabrik.


"Berarti wanita ini masih hidup." Lirih Ji Yeong.


"Benar, Pak. Kami sedang mencari keberadaanya, identitasnya sampai sekarang belum kami temukan."


"Segera mungkin, mereka semua sangat berbahaya."


Ji Yeong meminta ingin bertemu Jun Hyun, dia akan kembali menanyakan perihal yang di ketahui oleh guru private Anan itu. Dengan berat hati, Jun Hyun memenuhi panggilannya, sekertaris Dae Jung pasti akan lebih memaksanya kali ini.


"Apa kau senang beada disini?" tanya Ji Yeong.


"Apa jika kau di dalam tahanan, kau merasa senang?" tanya Jun Hyun mengembalikan pertanyaan Ji Yeong.


Ji Yeong memutar laptop ke arah Jun Hyun, memperlihatkan video amatir itu yang berisikan wanita tua sedang menggendong tas.


"Kau pasti kenal dengan wanita ini?" tanyanya yang makin memojokkan Jun Hyun.


Namun Jun Hyun hanya memilih diam.


"Ya atau tidak?" tanya Ji Yeong kembali.


Ji Yeong menghela nafas, rupanya hanya ancaman yang mungkin bisa membuat Jun Hyun membuka mulut.


"Jika kau tidak ingin berbicara, aku akan mencabut semua fasilitas kesehatan ibumu, juga membiarkan ibumu tanpa penjagaan." Ji Yeong melayangkan ancamannya.


"Sungguh, aku sama sekali tidak mengenal wanita itu. Aku tidak pernah bertemu dengannya, aku hanya heran melihat dia, mengapa bisa menjadi pesuruh pria itu." Tukas Jun Hyun yang memang berbicara sesuai kebenarannya.


"Pria? maksudmu dibalik semua ini itu adalah seorang pria?"


"Iya, seorang pria." Sahut Jun Hyun yang mulai memberanikan diri mengungkap fakta yang tersembunyi.


'Berarti bukan Bibi Nami dan Bora ..' lirih Ji Yeong dalam hati.


Tersangka utama di benaknya adalah Bibi Nami dan Bora, tetapi ucapan Jun Hyun sangat meyakinkannya, lagipula Bibi Nami dan Bora tidak sekuat itu menjalankan misi besar ini, tentu ada yang lebih andil lagi dari kedua perempuan itu.

__ADS_1


"Aku sudah memberikanmu alamat, kenapa kau masih saja belum kesana? jawaban yang kau cari ada disana."


Ji Yeong menatap lekat Jun Hyun, mengapa setiap dengar kota kelahirannya itu dia merasa deg-degan.


"Aku menutup mulut sampai sekarng karna aku tidak ingin banyak yang terluka hatinya. Semua akan kecewa, Dae Jung, Anna, semua yang ada di Korain, bahkan kamu, sekertari Ji jika kalian tahu siapa sebenarnya." Imbuh Jun Hyun yang meyakinkannya.


Ji Yeong tergugu, pria dihadapannya sungguh berkata benar, terlihat dari pancaran sinar matanya yang tak menyimpan kebohongan.


"Aku sarankan, demi kebaikan, sebelum polisi mengetahui, ada baiknya bila kau sendiri saja kesana, itu akan lebih baik bagimu." Usul Jun Hyun lagi.


Ji Yeong hanya mendengarkan, tak ada kata lagi diucapkan olehnya, dia meninggalkna Jun Hyun di ruang kunjungan.


"Karna takdir sudah menjerat kita dalam situasi ini." Lirih Jun Hyun pasrah.


Ji Yeong meminta foto wanita yang ada didalam video itu, polisi mencetakkan untuknya, setelah mendapat beberapa lembar, Ji Yeong kembali ke rumah Korain.


Saat tiba dirumah, dia tidak bertemu Dae Jung, Ji Yeong langsung ke kamarnya, membuka semua tentang bukti-bukti polisi, termasuk foto-foto wanita tua yang ada didalam video itu.


Dia mengamati seksama, garis wajahnya, postur tubuhnya, hingga model rambutnya, seperti tidak asing baginya. Entah karna sering melihat asistent rumahtangga Dae Jung yang terlalu banyak hingga bayangan wanita tua itu tidak asing jadinya.


Ji Yeong berusaha mengingatnya, terus-menerus, memaksa seluruh memori ingatannya, namun dia belum juga menemukan wajah wanita itu diingatan masa lalunya.


Ji Yeong keluar kamar, dia mencari keberadaan Dae Jung, kata Bu Nas, Tuan Kim sedang menemani Anna yang sedang tidak enak badan karna ngidam. Dia menitip pesan pada Bu Nas, apabila Dae Jung telah keluar kamar, dia sudah menunggu di ruangan kerja Dae Jung.


"Apa aku mual?" tanya Dae Jung pada Anna.


"Sedikit, tapi itu biasa bagi ibu hamil muda sepertiku." Sahut Anna yang suxah berbaring di kasur.


"Apa kau ingin minum sesuatu?" tanyanya.


"Tidak ada, aku hanya ingin istirahat saja."


"Baiklah, aku akan keluar dulu, kamu istirahat, bila ada perlu panggil Bu Nas."


Dae Jung keluar dari kamarnya, namun di depan pintu kamar itu, dia mendapati seorang pelayan wanitanya yang sedang memegang sapu, pelayan itu terkejut kehadiran Dae Jung yang tiba-tiba keluar kamar.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Dae Jung padanya.


"Maaf, Tuan. Saya tadi lewat untuk pergi menyapu taman atas." Jawab pelayan itu sangat gugup.


Dae Jung mengerutkan alis, terlihat tangan pelayan itu bergetar memegamg gagangan sapu, jika memang tak ada yang salah, mengapa pelayannya begitu ketakutan? Dae Jung mulai menyimpan kecurigaan lagi.

__ADS_1


"Baiklah, kau boleh lanjutkan pekerjaanmu."


Pelayan itu menuju balkon rumah yang dijadikan taman bersantai, setiap langkah kakinya, dari jauh mata Dae Jung menyorot pelayannya yang mencurigakan itu.


Ada Bu Nas dari belakang menyapanya.


"Tuan Kim, sekertaris Ji meminta Tuan untuk ke ruangan pribadi, dia sudah menunggu disana." Kata Bu Nas menyampaikan pesan Ji Yeong.


"Bu Nas, pelayan itu yang disana membersihkan balkon, apa dia sudah lama bekerja disini?" tanya Dae Jung.


Bu Nas menyipitkan mata, memperhatikan wajah pelayan yang di maksud Dae Jung. Pelayan yang kisaran usianya 30 tahun itu sudah sibuk menyapu dedaunan yang bertebaran di lantai.


"Dia sudah lama, Tuan, mungkin dua tahun mengabdi disini." Jawab Bu Nas, dia sangat menghafal semua yang bersangkutan dengan para bawahannya, karna itu sudah tugas utama menjadi kepala pelayan di Istana Korain.


"Bu, Nas. Aku minta biodatanya, antarakan sekarang di ruanganku." Titahnya pada Bu Nas.


Dae Jung menuju ke ruangan pribadinya, dia melewati lorong dirumahnya. Meninggalkan Bu Nas yang bertanya-tanya, mengapa tiba-tiba Tuan Kim meminta biodata pelayan? hal itu tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Apakah pelayan itu melakukan kesalahan? batin Bu Nas.


Dae Jung masuk ke ruangan pribadinya, di dalam ada Ji Yeong sudah menunggunya menghadap ke jendela.


"Apa kau menemukan sesuatu?" tanyanya.


"Ya, bukti baru bahwa tersangka masih hidup." Jawab Ji Yeong memperlihatkan gambar wanita itu sedang berlari dari ledakan.


Dae Jung mengambil semua foto itu dari tangan sekertarisnya, dia memilah satu per satu gambar wanita tua itu.


"Siapa Ibu ini? apakah dia di bayar melakukan misi ini?" Dae Jung bergumam.


"Terlepas dia di bayar atau tidak, dia masih hidup, namun polisi belum menemukan identitasnya dicatatan kependudukan."


Dae Jung menatap Ji Yeong, dia menemukan kesimpulan yang tentu masuk diakal mereka.


"Berarti Ibu ini bukan penduduk Korea Selatan, yang artinya orang luar yang dijadikan umpan mereka." Dae Jung berspekulasi.


Ji Yeong mengerti maksud kalimat Dae Jung, sahabatnya itu memang cerdas, mampu mengidentifikasi semua secara jeli.


"Tapi sebelum itu, ada yang perlu kita lakukan, rumah ini sudah terancam, ada bahaya yang siap saat mengintai kita, termasuk Anna." Dae Jung mengalihkan pembicaraan, yang dimaksud adalah pelayan tadi yang ia temukan menguping pembiraannya bersama Anna didalam kamar.


" Mereka sudah mampu masuk ke rumah ini?" tanya Ji Yeong tercengang.


"Ya, aku belum menemukan buktinya, tapi kita akan menemuka jawabannya nanti malam, persiapkan dirimu, dan jangan bocorkan pada siapapun dulu." Pinta Dae Jung.

__ADS_1


__ADS_2