
Pak Lee dan anggota lainnya mulai berpencar mengitari bangunan itu. Tembakan peringatan tak henti di layangkan olehnya. Ji Yeong dan Dae Jung masih tetap berdua, memasang siaga pada pistol sig sauer mereka.
Dae Jung sudah menembak siapa saja musuh di hadapannya. Tak peduli lagi hati nurani. Rasa sabarnya sudah lenyap bersama dengan berbagai tragedi menimpa keluarganya, termasuk Dae Song yang sudah tertembak malam ini.
Dae Jung merasa ada yang memantaunya dari arah kanan.
Dengan kosdisi yang cahaya samar-samar, Dae Jung menirik menyelidik.
Durrr !!! Akkhh!!! suara jerit pria kesakitan.
Dae Jung membidik salah satu pria yang ingin melengahkan mereka berdua secara diam-diam. Ji Yeong mendekat ke suara jeritan itu, benar dia adalah salah satu anggota Ayahnya. Peluru Dae Jung tertancap di dada kanan pria yang memakai jaket hitam itu.
Dukk !!
Dae Jung menendang kaki pria itu.
"Kau yang menembak kakakku?" tanya Dae Jung.
Ji Yeong merampas pistol dari tangan pria itu. Salahsatu pengawal Korain datang mengikat anggota Chung Sang itu yang sudah tak berdaya.
Dae Jung kembali melangkah perlahan, dengan pistol yang tetap menjalarkan ke setiap arah. Dia tak henti berkata dalam hati, "Kak kamu di mana?".
Dae Song dan Jun Hyun bersembunyi di lantai dua bangunan kosong itu. Mereka sudah mendengar suara Pak Lee. Tapi Jun Hyun belum berani menampakkan diri ataupun besuara, karena anggota Chung Sang masih nerada di dekat mereka dengan senjata api di tangan, sementara Dae Song suadh tak sadarkan diri.
"Kita ke lantai dua." Ujar Dae Jung pada Ji Yeong.
Dae Jung berada didepan, perlahan menaiki tangga. Ji Yeong berjalan mundur menaiki tangga pula dari belakang.
Durr !!
"Awas !" Pekik Dae Jung pada Ji Yeong. Dia menundfukkan tubuh Ji Yeong. Ternyata ada yang menembak mereka dari atas.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Dae Jung.
" Aman." Sahut Ji Yeong yang hamoir saja terjatuh dari tangga.
Durr !! Dur !! Dur !!
Dae Jung menghamburkan pelurunya di ruangan itu. Di susul pula oleh Ji Yeong. Suara tembakan bak peperangan masa penjajahan yang terjadi malam ini.
Stock peluru aydah ia siapkan Dae Jung dan Ji Yeong.
Dur !! Akhh!!
__ADS_1
Ada lagi yang tersentuh peluru Dae Jung, kelahliannya menembak ia gunakan malam ini demi kakaknya.
"Jun Hyun, " teriak Dae Jung.
Jun Hyun masih diam mendekap Dae Song dalam pingsannya. Hanya lima langkah anggota Chung Sang darinya saat ini. Tumpukan material jadi pengalang mereka.
Dur !! Dur !! Ji Yeong menembak mereka yang bersembunyi di balik tiang.
"Jika kakakku sampai kenapa-kenapa, akan ku pastikan kalian akan ku bunuh semua malam ini." Dae Jung memperingatkan lagi.
Ada dua bayangan di sisi kiri yang telihat oleh Ji Yeong, bayangan iti ia yakini Jun Hyun dan Dae Song.
"Kita bertukar tempat." Bisik Ji Yeong memberikan posisi itu agar Dae Jung melihat apa yang ia temukan.
Pak Lee dan belasan pengawal mereka sudah naik di lantai dua itu. Dae Jung segera ke Jun Hyun dan Dae Song, melompati semen dan tumpukan material.
"Kak Dae Song, Hyunga." Dae Jung menepuk-nepuk pipi Kakaknya
"Ayo kita bawa turun ke mobil." Titahnya pada Jun hyun. Mereka mengangkat tubuh Dae Song yang penuh darah turun ke bawah.
Suara tembakan berderu di atas sana. Pak Lee melayangkan temabakan mati lada kedua anggota Chung Sang yang melakukan perlawanan.
Dae Jung memasukkan Kakaknya ke dalam mobil.
Dae Jung melihat ada luka juga di leher Jun Hyun.
"Kau tertembak juga?"
"Cuma peluru meleset." Sahut Jun Hyun yang menahan perih di lehernya.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, dia mengepal geram. Benar-benar benci pada Paman Chung Sang. Kakaknya sudah di jadikan sarana balas dendam. Berpuluh tahun Dae Song di manfaatkan oleh Chung Sang. Andaikan Chung Sang mau mempertemukan Dae Song dengan Ibunya, Kakaknya pasti mendapat haknya sebagai anak.
"Jun Hyun, kita harus akhiri ini." Ujar Dae Jung.
"Harusnya seperti itu." Tukas Ji Yeong.
"Aku hanya kasihan pada Ji Yeong. Bagaimana pun itu Ayahnya."
"Berarti keluargamu yang jadi taruhannya?"
Dae Jung menghela nafas. Dia memang harus mengenyampingkan rasa kasihannya pada Ji Yeong.
*********************
__ADS_1
Semalaman Dae Jung berjaga di samping kakaknya. Para pengawal mengawasi ruangan perawatan Dae Song. Melihat kakaknya terbaring lemah, Dae Jung bertanya-tanya dalam hati. Sampai kapan ini akan belangsung? Chung Sang begitu pandai memainkan permainan kejinya. Sampai sekarang persembunyiannya belum juga dapat di lacak kepolisian.
Dae Jung menatap wajah kakaknya yang tak ada bedanya dirinya.
"Kak, andaikan Anna masih menjadi pacarku, aku akan menyerahkan secara ikhlas padamu. Tapi dia sudah menjadi isteriku." Uajrnya pada kakaknya.
Dae Jung tahu, kakaknya begitu mencintai Anna. Bahkan rasa cintanya mungkin sama besar sepertinya. Bagaimana misteri takdir mereka? mengapa menjebak mereka dalam situasi begini?
Dae Jung keluara daru ruangan itu. Dia menemui Ji Yeong meminta agar Dae Song di rawat di rumah saja. Menyediakan dokter dan perawat.
"Disini tidak aman." Imbuh Dae Jung.
Dae Song akan di bawa pulang oleh mereka dengan ambulance.
Di rumah Korain ada Anna menunggu. Kabar itu di dengar baru tadi pagi. Dia dan Kakek Hang harap-harap cemas menanti kepulangan orang-orang terkasihnya itu.
"Jika seperti ini terus, salah satu cucuku akan kehilangan nyawanya." Lirih Kakek Hang bersedih.
Anna menyendu. Dia membenamkan wajahnya di sela-sela jemarinya. Bu Nas juga lelah memkirkan kondisi Korain yang selalu di intai bahaya karena Chung Sang.
Tidak lama kemudian, ada ambulance dan deretan mobil Korain tiba di depan rumah. Dae Jung ada di ambulance keluar bersama Ji Yeong.
Dae Song dibawa ke kamarnya. Ada dua dokter dan perawat bersama peralatan medis yang lengkap. Dae Jung menghampiri Anna.
"Jangan bertanya, aku baik-baik saja." Ucapnya melerai khawatir isterinya.
"Aku akan ke kamar istirahat, kamu temani Kak Dae Song di kamarnya." Kata Dae Jung.
"Tapi ...."
"Ink perintah suamimu. Kak Dae Song akan senang. Ini untuk menghibur dia." Lanjut Dae Jung.
Anna menurut. Dia naik menemani Dae Song di kamarnya.
Dae Jung ingin kakaknya terhibur saat dia sadar nanti. Anna salah satu penyemangat Dae Song. Sebagai adik yang ingjn melihat kakak ya bahagia, Dae Jung menghilangkan egois dam cemburunya. Mereka sudah tak memiliki orangtua, jika bukan mereka yang saling menyayangi, lalu kepada siapa lagi? ini persoalan hati, tak ada yang bisa mengatur itu. Jika Dae Song bisa memilih, dia jiga tak ingin mencintai adik iparnya itu.
Benar kata Dae Song, kisah Yama dan Baek Hyeon menyimpan misteri. Sebuah takdir yang harus pasrah di jalani para pelakonnya.
Note ::
Maaf readers karyaku hanya receh, belum tenar seperti novel lainnya. Maaf kalau ada yang salah dan kurang.
Hanya bisa up 1 chapter. Karena banyak novel lain fi kerjakan. 🙏
__ADS_1
Tetima kasih sudah setia membaca karya recehku ini.😅