BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG

BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG
KISAH PILU DAE JUNG


__ADS_3

Pagi-pagi Dae Jung tersadar dari pingsannya. Semalaman dia berbaring di lantai keramik yang sangat dingin. Wajah tampannya sangat lesuh sebab obat bius yang bekali-kali di berikan padanya.


Dae Jung menjalarkan pandangan, yang ia tempati seperti rumah, bukan ruangan semalam yang berada di kedai. Dia menyimpulkan saat ini dirinya sedang di culik seseorang.


Dia melangkah secara perlahan dengan mengendap-endap, mencoba membuka jendela dan setiap pintu belakang dan samping di rumah itu, tetapi semua telah dipasangkan rantai kuat. Berkali-kali dia mencoba mendobrak namun hasilnya selalu gagal.


"Buka !!" Dae Jung menyeru pada anggota yang berjaga di luar rumah.


"Aku akan bayar kalian lebih, tapi tolong buka pintunya." Dae Jung memohon, tetapi mereka tak ada yang percaya dengan kata pemilik korain itu.


"Percuma, mereka tidak akan dengar kamu, rumah ini kedap suara." Seru suara seorang ibu-ibu di belakangnya.


Wanita tua itu memiliki mata yang katarak di sebelah kanannya. Dia menghampiri Dae Jung dengan membawa sarapan untuk suami Anna itu.


"Sebaiknya kamu sarapan dulu," ujarnya meletakkan makanan itu di meja.


Dae Jung mengamati wanita yang seumuran ibunya itu, wajahnya tidak asing.


"Bibi siapa?" tanya Dae Jung.


Bibi itu tersenyum, bukan menjawab malah menuangkan teh di gelas untuk Dae Jung.


"Panggil saja Bibi Ling, Bibi adalah Ibunya kandungnya sahabatmu." Sahutnya.


Dae Jung menilik kalimat itu. Sahabat? hanya satu sahabat karibnya, yaitu So Ji Yeong.


"Ji Yeong? maksud Bibi dia? bagaimana bisa?"


"Dae Jung, ada banyak rahasia yang tak kau ketahui, ada banyak hati yang berkorban agar rahasia semua terjaga, demi kebaikan." Ujar Ibu kandung Ji Yeong itu berlalu kembali ke dapur.


Dae Jung bergegas pula mengikuti langkah Ibu Ji Yeong, ada banyak yang ingin ia ketahui, salahsatunya mengapa dia bisa di kurung dirumah ini.


"Bibi, apa salah saya, kenapa Bibi menculik saya?" tanya Dae Jung mencegat langkah wanita taiwan itu.

__ADS_1


"Bukan Bibi yang menculikmu, kita sama-sama di culik. Bedanya kamu baru kemarin, saya sudah puluhan tahun."


Dae Jung semakin tidak mengerti, semua yang dikatakan Ibu kandung Ji Yeong bak teka-teki yang memintanya untuk memecahkan saat ini juga.


"Bi, saya ingin keluar dari sini. Istri saya pasti sedang mencariku." Imbuh Dae Jung.


"Dia tidak akan mencarimu,"


"Kenapa?"


"Karna ada Dae Song yang menggantikanmu. Dae Song adalah Kakakmu, saudara kembarmu. Sekarang dia sedang menjadi dirimu."


Dae Jung menelan salivanya, terdengar bahagia sekaligus mengerikan kabar dari Bibi Ling. Saudaranya masih hidup, namun dia menjadi salahsatu bagian dari lawannya sendiri.


"Apa dia yang mengurungku disini?" tanya Dae Jung.


"Dia mencari haknya juga, Dae Jung." Timpal Bibi Ling.


"Sejak kecil, aku yang merawatnya, menjaga kesehatan jantungnya, melawan sakit tanpa kasih sayang orangtua kandungnya, Kim Do Hang dan Rifasya. Dia tersembunyi hari-harinya hanya dihabiskan bermain di taman, rumah, dan keluar ketika orang-orang telelap tidur. Jadi, dia menukar diri karna untuk menikmati haknya, Dae Jung." Terang Bibi Ling berkaca-kaca mengingat masa kecil Dae Song.


"Bukan dengan cara ini Dae Song menemukan haknya, bukan cara licik seperti ini Bibi Ling." Tegas Dae Jung.


"Lalu bagaimana lagi? dia sudah dilupakan selama 33 tahun, lalu dia harus muncul dihadapan kalian dengan mengatakan dia juga bagian dari Korain?"


Dae Jung tergugu. Tak ada kalimat yang pantas lagi untuk membela keluarganya. Ini memang tidak benar, tapi bukan pula sesuatu yang haram. Bagi Dae Song, ini memang tidak adil. Kehidupan Dae Song sangat berbanding terbalik dengan Dae Jung yang memiliki segala pengakuan hingga kemewahan yang ada sejak kecil untuknya.


"Lalu apa yang dia inginkan?" tanya Dae Jung.


Bibi Ling menatap Dae Jung,


"Hanya satu, Nak. Dia ingin Korain."


Tanpa berpikir panjang, Dae Jung menjawab dengan tegas.

__ADS_1


"Aku siap memberikan Korain, asalkan dia tidak menggangguku dengan istriku. Bilang sama dia Bi,"


"Istriku sedang hamil, sementara dia bersama pria lain yang disangkakan itu saya, bisa saja dia akan menyakiti Anna." Lanjut Dae Jung.


Dae Jung sudah tidak memperdulikan Korain lagi, yang utama baginya adalah keselamatan Anna. Bila karna memiliki Korain hidup mereka selalu berselaras dengan bahaya, maka Dae Jung sangat siap melepas Korain pada mereka yang menginginkannya. Bagi pria secerdas dia, tentu mampu membangun perusahaan baru dengan kerja keras dan segala kemampuannya.


"Katakan pada mereka yang diluar sana, aku siap menyerahkan Korain, asalkan kembalikan aku bersama istriku." Imbuh Dae Jung kembali.


"Kau pria sejati, Dae Jung. Semoga Ji Yeong berwatak sama sepertimu." Puji Bibi Ling yang berlalu kembali ke dapur.


Ingatan Dae Jung memutar memori ledakan pabrik Korain bulan lalu, wajah wanita yang jafi tersangka membawa bom itu sama dengan Bibi Ling.


"Ternyata Bibi salahsatu dari ledakkan." Lirih Dae Jung mengeleng seakan tak percaya. Dia tidak menyangka permainan mereka begitu apik hingga rahasia tersembunyi itu mampu tertutupi hingga puluhan tahun lamanya.


"Bibi terpaksa, ada Ji Yeong yang harus Bibi lindungi dari jauh. Seorang ibu akan melakukan apapun untuk melindungi anaknya. Chung Sang yang melakukannya, Ayah Ji Yeong." Bibi Ling pun mengungkap semuanya. Ini memang harus dikatakan, permainan keji suaminya sudah banyak mengorbankan nyawa. Meski dia ikut andil di dalamnya, tetapi hati nuraninya berbisik jangan bairkan itu terjadi lagi.


"Paman Chung Sang juga termasuk dalang semua ini?" Dae Jung terkejut mendengar pria yang sudah ia anggap sebagai paman kesayangannya itu.


Bibi Ling menceritakan semua penyebab Paman Chung Sang melakukan itu. Karna Ayah Ji Yeong selalu dianggap sebagai pesuruh saja di rumah Korain. Di angkat sebagai saudara, tetapi tidak diberikan haknya yang sudah mengabdi bertahun-tahun pada Korain.


"Kenapa mereka yang saya anggap sebagai orang terkasih terntyata memusuhi saya." Lanjut Dae Jung penuh kepiluan.


Dae Jung duduk menyandar di tembok, rasa lelah menyeruak, nasib tiada henti menguji pernikahannanya dengan Anna. Apakah ini memang resiko dari reinkarnasi kisah cinta Yama dan Baek Hyeon? mengapa begitu sulit? kisah cinta itu membawa anugerah dalam hidupnya, juga sekaligus menitipkan musibah dari berbagai arah. Malaikat maut seperti mengawasi mereka setiap saat.


"Ini takdir yang memang harus dijalani, Bibi juga tidak menyangka akan menjalani takdir seperti ini." Tukas Bibi Ling yang juga duduk memani Dae Jung.


"Kata Ibuku, sejahat apapun orang meyakitimu, jangan biarkan rasa dendam menunggangmu. Tapi, sangat sulit sekarang, karna mereka bukan orang lain. Aku keluarganya, orang yang sangat dikenalinya. Mengapa mereka diam-diam menyakitiku, mereka bisa memintanya bila ingin Korain. bukan cara seperti ini."


Bibi Ling hanya termangu, yang dikatakan Dae Jung benar, alasan melukai banyak pihak bukan cara yang baik meminta keadilan. Tidak seharusnya Chung Sang memperalat semua dengan dendam karna tak mendapat bagian dari Korain.


Dae Jung meraih kedua tangan Bibi Ling,


"Saya harus keluar dari sini, Bi. Anna, istri saya sedang hamil, dia tidak mampu melawan bila ada yang menyakitinya. Tolong, Bi." Dae Jung memohon.

__ADS_1


Bibi Ling diam bukan karna tak ingin membantu, melainkan dia mencari cara agar bisa meloloskan Dae Jing dari sekapan Chung Sang dan Dae Song. Bibi Ling tahu, Kekhawatiran Dae Jung sekarang bukan karna seorang pemimpin Korain yang memikirkan perusahaannya, tetapi sebagai seorang suami yang ingin melindungi istri dan anaknya.


__ADS_2