
Setibanya di rumah, Dae Jung segara masuk ke rumah, du ruang tamu ada Anna dan Kakek Hang menunggunya. Melihat penampakan Dae Jung berdiri di pintu, Anna segera berlaru memeluknya. Tubuh suaminya agak lesuh dilapisi kaos putih.
"Aku merindukanmu ..." Lirih Anna meneggelamkan wajah di dada Dae Jung.
"Aku juga, Anna."
Dae Jung melangkah ke Kakeknya, hanya senyum bisa Presdir Hang lemparkan pada cucunya itu.
"Apa kakek sudah bertemu Dae Song?"
"Iya, Nak. Wajah kalian sama."
"Dimana dia, Kek?"
Dae Song dari atas melihat ke bawah, dia lega karna adiknya bebas dengan selamat. Padahal di rumah tempat Dae Jung di sekap ada bom yang kapan saja bisa meledak bila Chung Sang ingin meledakkannya.
Dae Jung ke atas ingin menemui kakanya itu. Ada yang ingin ia bicarakan empat mata dengan Dae Song. Berhadapan secara langsung, mereka berdua bak berada di pantulan cermin, yang berbeda hanya pakaian yang dikenakan. Wajah, postur badan, hingga semua yang ada di fisik Dae Jung perssi dengan apa yang dimiliki Dae Song pula.
"Aku ingin bicara, kita ke ruangan kerja sekarang." Ijar Dae Jung yang berlalu ke ruangan pribadinya.
Dae Song menyusulnya dari belakang. Setalah berada di ruangan berdua. Dae Jung akan meminta kesepakatan, bukan antara kakak beradik, melainkan cara menjinakkan lawan.
"Katakan apa yang inginkan Paman Chung Sang? tanya Dae Jung pada kakaknya tanpa basa-basi.
"Hanya satu, yaitu Korain." Sahut Dae Song.
"Itu saja? dan tak ingin nyawa kami?"
"Aku tidak yakin, tapi bila kau mengulur waktu, tentu hal itu akan dia lakukan."
Dae Jung beranjak membuka berangkas yang ada dibalik dinding khusus. Di dalam berangkas, Daa Hung mengambil surat kepemilikan Korain Korea.
Dia meletakkan berkas itu diatas meja.
"Ini semua aset Korain yang ada di Korea, Pabrik, resort, saham lainnya, semua ada tercatat disini. Berikan pada Ayah angkatmu itu. Sisakan Rumah ini untuk Kakek. Rumah ini penuh kenangan, berikan pengertian pada Ayahmu itu." Terang Dae Jung.
__ADS_1
Dae Song sedikit sesak, ternyata adiknya pria yang berbesar hati. Hanya karna ingin melindungi orang-orang disekitanya, dia rela kehilangan apa yang sudah ia pertahankan selama ini.
"Korain Indonesia tidak ada apa-apanya dibanding disini. Jangan ganggu yang di Indonesia, disana penduduk menggantungkan hidup pada pabrik. Aku tidak yakin kalau Ayahmu bisa menghargai mereka." Lanjut Dae Jung.
Dae Song menilik semua yang ada tertulis di atas kertas putih itu. Sungguh fantastis memang kekayaan Kakeknya, Korain memang salahsatu perusahaan terbesar di Asia.
"Sekarang aku ingin bicara sebagai adik padamu. Setelah memberikan ini, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Dae Jung lagi.
Dae Song menghela nafas.
"Aku ingin menikmati sisa hidupku, dengan ras asakit yang setiap hari datang, karna aku bukan pria sehat sepertimu."
"Disinilah tinggal bersana Kakek, saya dan Anna akan tinggal di Indonesia. Kakek membutuhkanmu sekarang." Pinta Dae Jung.
Dae Song belum menyetunui hal itu. Bila mendengar nama Anna di sebut oleh Dae Jung, dia merasa cemburu, entah mengapa pesona Anna selalu memerangkapnya. Namun dia harus berpikir logis, Anna adalah adik iparnya, sungguh binatang bila dia harus merebut Anna dari adik kandungnya sendiri.
"Ok, aku akan berikan ini pada Ayahku." Ujar Dae Song.
Dae Jung keluar meinggalkan kembarannya. Di luar sdah ada Anna.
"Kamu mandi dulu, Ayo masuk ke kamar." Anna meraih tangan suaminya.
"Kau bodoh Dae Song, menjatuhkan hati pada wanita yang bersuami."
*****************
Dae Jung sudah membersihkan tubuhnya, mengusek rambutnya yang basah dengan handuk. Anna tiada henti memperhatikan suaminya. Dia masih di selimuti rasa khawatir, ia yakin ini belum berkahir.
"Ibu hamil, kau merindukanku?"
"Aku takut bila sesuatu akan terjadi lagi." Tukas Anna.
"Besok, kita akan kembali ke Indonesia, kita mulai hidup baru disana lagi. Biarkan Dae Song dan Ji Yeong menangani semuanya disini. Mereka anak dari Paman Chung Sang, mereka akan baik-baik saja."
Anna menghela nafas lega, dia mengngguk-angguk, sangat menyetujui perkataan Dae Jung.
__ADS_1
"Iya, aku mau, kita akan mulai hidup baru disana." Imbuh Anna.
"Bu Nas akan kita bawa bersama kita."
Dae Jung bertekuk lutut, dia mencium perut Anna yang mulai meggembungkan kedua janin kembarnya.
"Hai, kalian baik-baik saja di dalam sana? Ayah sudah pulang, kalian tidak menyusahkan Ibu, kan?" bisik Dae Jung di perut Anna.
"Ayah akan berusaha melindungi kalian," lanjutnya.
"Hari ini Anna sangat terlihat lelah, ini karna pikiran yang memeras batinnya. Dia sedikit pusing, matanya oun berkunang-kunang. Tak terasa tubuh muali goyah.
"Kamu kenapa?"
"Aku sepertinya kurang darah." Sahut Anna memijit-mijit kepalanya.
Dae Jung mengangkat tubuh Anna ke atas ranjang. Dia mencari obat vitamin Anna di laci.
"Dari kemarin kamu belum pernah minum obat ini," kesal Dae Jung yang memberikan vitamin itu pada istrinya. Anna terlalu sibuk memperhatikan keanehan pada sosok Dae Song hingga kesehatan janinnya terebengkalai.
"Tanpa aku, kau harus bisa jadi ibu yang baik. Bagaimana kalau aku tidak ada? apa kau akan menelantarkan anak kita?" Imbuh Dae Jung.
"Jangan bicara seperti itu, seakan kamu ingin pergi saja. Kamu sudah janji akan selalu menemani kami," protes Anna keberatan.
Setelah Anna meminum vitaminnya, Dae Jung membaringkannya di kasur. Dia memeluk istrinya begitu erat, menghirup aroma tubuh wanita yang sangat ia rindukan. Dia pun tak tahu ada apa dengan hatinya, mengapa dia berkata demikian.
"Jangan pernah kelura kamar hari ini, aku ingin seperti ini terus sampai besok." Pinta Dae Jung memejamkan mata, dia menempelkan hidung dileher Anna.
Note :
😢😢😢 Sisa beberapa episode lagi, "BIDIKAN CINTA UNTUK KIM DAE JUNG" season satu berakhir.
Buat para readers yang setia membaca ini, yang tidak suka sad ending, aku harap kalian stop baca kisah Anna dan Dae Jung. Saya author dari kemarin hanya up satu bab karna juga merasa sedih. Dari awal saya membuat sinopsis Novel ini, saya sudah tahu ini novel ini sudah merancang sad ending dan akan ada season ke-2.
😢😢😢😢 Bagi kalian yang bertekad membacanya, mari kita sama-sama merenungkan, bahwa takdir Allah itu baik, apapun yang terjadi, maut, rezeki berkurang, ataupun ujian berat lainnya, yakin itu yang terbaik untuk kita.
__ADS_1
Hidup bukan semata-mata untuk mendapatkan kebahagiaan, tetapi maknanya menjadi manusia yang sukses menjalani takdir Allah dengan ikhlas.
😢😢😢😧Maaf ...