
*Anet*
Ambran yang melihat wajah kekesalan anet lansung berdiri ingin menghampiri wanita yang 3 hari lagi akan menjadi istrinya itu.
Baru saja ingin melangkah, denada menahan lengan ambran dan memeluk ambran dengan sangat mesrah.
Anet yang melihat itu lansung kembali masuk ke mobilnya dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
*Ternyata aku salah telah meminta dia menjadi suami ku, dia memiliki wanita lain selain aku. bodoh, kau bodoh anet* anet marah pada diri nya sendiri dan berulang kali memukul stir mobil yang di dalam nya bernuansa warna biru itu.
Di cafe.
*Dena, kenapa kau memeluk ku* ambran melepas pelukan denada yang secara mendadak, sehingga dia tak bisa mengejar anet.
*Maaf ambran, aku sangat merindukan mu, jadi aku reflek aja memeluk mu tadi*
*Aku tidak akan kau mengacuhkan ku lagi, sudah sejak lama aku mengejar cinta mu, tapi kau tak pernah menyadari itu, sekarang kau harus jadi milikku ambran.* batin denada.
*Kau aneh dena, kenapa setelah kita mengobrol cukup lmaa baru mangatakan kangen pada ku, kau sengaja mau membuat calon istri ku salah paham*
*Calon istri, kau sudah mau menikah, kenapa tidak mengundangku saat bertunangan, katanya sahabat* bukannya merasa bersalah malah denada sok merajuk.
__ADS_1
*Sudah lah, mood ku sudah hilang, maaf aku harus mengejar tunangan ku* Ambran malas berdebat dengan denada, karena dia sangat tau sigfat denada. dan memilih pergi meninggalkan cafe dan mengejar anet yang sudah tak terlihat lagi mobilnya.
*Jadi wanita itu yang namanya anet, gak sepadan bangat sama ambran, dari gaya nya juga hanya wanita biasa saja
*Pokoknya aku yang harus jadi istri ambran, bagaimana pun caranya aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan* Gumam denada*.
Flashback
*Ambran kita ke kantin yuk, aku lapar* rengek denada dengan bergayut di lengan ambran manja.
*Dena, aku tidak lapar. kau pergi ke kantin sendiri saja ya* tolak ambran yang memang dia sedang berada di kelas dan bermain game bersama teman pria lain nya.
*Mm, baik lah, tapi minta aku uang mu,*
*Kau dan dena sudah jadian bran* tanya robi.
*Mana ada, aku gak suka sama cewek centil dan matre seperti dia* jujur ambran.
*Tapi tadi kau dengan mudahnya memberikan kartu mu pada nya, dan saat di cium pun kau diam saja, apa dong namanya kalau bukan pacaran*
*Itu karna kemarin dia yang ngerjain tugas ku, jadi sebagai imbalannya ya udah aku kasih aja dia traktiran plas ciuman manis nya, lumayan kan di cium secara cuma cuma*
__ADS_1
*Dasar kau stres* ejek robi dengan mendotong sedikit bahu ambran.
Sepintas memang terlihat denada dan ambran seperti pasangan yang serasi, tapi denadda bukan lah wanita tipe ambran, dia sangat tidak menyukai sifat pemaksa dan cara berpakaian denada.
Denada memang selalu menuruti apa yang ambran inginkan, selain sering mengerjakan tugas untuk ambran, denada juga sering di ajak ambran ke acara teman nya yang lain, dan tentu saja denada menganggap itu semua karena ambran menyukai dirinya.
Padahal ambran hanya memanfaatkan diri nya saja, agar tidak perlu mengerjakan tugas sekolah, tidak di katakan jomblo akut, dan tidak lagi di kejar wanita wanita lain.
Suatu hari, denada yang berulang tahun merayakan hari bahagianya di sebuah cafe dengan sangat meriah, dan saat acara itu juga denada ingin menyampaikan pengumuman pada semua temannya yang hadir bahwa dia dan ambran sudah berpacaran.
Namun sebelum denada mengatakan itu, denada lebih dulu menyatakan prasaannya pada ambran. tentunya di depan semua teman temannya.
*Ambran, sejujurnya aku sangat mencintai mu, dan aku yakin kita saling mencintai, tapi kau gengsi untuk menyatakan prasaan mu kan pada ku* dengan sangat percayanya denada berkata demikian di hadapan semua orang.
Ambran tersenyum dengan sangat manis pada denada dan menggenggam kedua tangan wanita di hadapannya ini.
*Dena, kau memang sangat baik padaku, kau juga sudah sangat banyak berkorban untukku selama ini*
*Tapi, maaf. aku menganggap mu hanya sebagai sahabat saja, tidak lebih. dan semoga kau tidka kecewa dengan kejujuran ku ini*
Jedaaarr...
__ADS_1
Denada terhayun dan hampir saja tumbang, kaki nya terasa sangat lemas dan tak mampu lagi menahan tubuhnya.