Bukan Gadis Desa Biasa

Bukan Gadis Desa Biasa
BAB 60


__ADS_3

Lestoran yang terlihat luas dan memiliki interior klasik namun terlihat indah, sehingga mampu menarik para pengunjung untuk masuk dan menikmati santapan lezat dengan harga bersahabat tentunya.


Ambran dan anet terus melangkah masuk ke dalam lestoran tersebut. Namun sebelum benar benar masuk kedalam langkah anet terhenti. dia mengingat jika belum meminta izin pada papi ataupun maminya untuk keluar malam ini. apalagi dengan seorang pria yang belum lama ia kenal. karena sejak pergi tadi sore satupun di antara mereka belum ada kembali sampai saat Anet pergi dan di jemput Ambran. *Tunggu kak. aku lupa mengabari orang rumah kalau mau keluar* ucap anet, sambil merogoh isi tas tentengnya. namun belum sempat mendapatkan benda pipih itu di tasnya Ambran tersenyum *Sudah, tidak perlu, tadi aku sudah meminta izin pada om dodi untuk membawa mu makan malam bersama mama papa ku* ucap ambran tanpa melepas gandengannya.


*Ha, makan malam sama mama papa kakak, kok gak bilang dari tadi. kan kalau tau gitu bisa beli sesuatu dulu buat mereka.* Anet kaget dan tak enak hati jika tidak membawa paapun untuk buah tangan. bagaimana pun budaya membawah buah tangan saat bertemu sesorang sudah menjadi sebagai tradisi di negara ini. matanya kesana kemari mencari tokoh kue atau tokoh apapaun itu, untuk membeli sesuatu.


*Tidak perlu, mereka tak membutuhkan itu, mereka hanya ingin bertemu denganmu saja.* ucap ambran apa adanya.


*Memangnya aku mau di apakan sama mereka kak, jadi takut* anet megusap tungkuknya sendiri. Ambran terkekeh geli melihat tingkah gadis ini.


*Ya udah ayo masuk, pasti mereka sudah menunggu kita* baru selangkah ambran berjalan, namun anet masih diam di tempatnya, matanya tertuju pada sebuah tokoh yang isinya perlengkapan wanita. itu terlihat dari dinding kaca besar tokoh tersebut, wajahnya berbinar seketika.


*Kita ke sana dulu ya, sebentar saja* ucap anet sambil menjuk tokoh itu, dan ambran terpaksa setuju saja. mereka berjalan beriringan dan bergandengan bagaikan sepasang kekasih. sehingga banyak mata yang merasa iri dengan mereka.

__ADS_1


Setelah berada dalam tokoh tersebut, anet menuju sebuah meja kaca panjang yang di belaiknya berdiri seorang wanita berseragam biru muda.


*Selamat malam nona, ada yang bisa kami bantu* ucap sang pelayan tokoh dengan ramah.


*Aku ingin mencari sesuatu untuk ibu temanku ini* ucap anet sambil melirik ambran di sampingnya.


*Oh, kalau begitu, bagaimana dengan ini. ini pengeluaran teebaru di tokoh kami dan ini hanya di produkai sebanyak tiga set saja.*Pelayan itu menunjuk satu kotak perhiasan yang terbuat dari emas yang di hiasi muatiara cantik.


Anet melirik ambran meminta pendapat. ambran hanya mengangguk dan tersenyum pada anet.


*Kebetulan kami memproduksi warna itu nona, tapi dalam bentuk yang lain* Pramuaga itu mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam di meja kaca seperti lemari di belakangnya.* inj dia, ini hanya di produksi satu saja, karna untuk mendapatkan warna berlian ini sangat sulit.* lanjutnya menjelaskan.


Anet membuka kotak kecil itu, sebuah cincin yang indah dan berkilau, ukurannya juga pas menurut anet, dia jadi bingung harus membeli yang mana.

__ADS_1


Ambran yang setia berdiri dan memperhatikan anet hanya tersenyum melihat anet yang sedang mengetuk ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. *Mbak, kita ambil dua duanya ya,* ucap ambran, anet melihat ambran tak bingung. Namun sebelum anet bertanya ambran menyelah terlebih dahulu.


*Yang ini untuk mama* ambran mendorong pelan kotak perhiasan itu. *Dan ini untuk bidadari yang cantik ini* lanjutnya memberikan dan menyematkan cincin itu pada jari manis anet. Anet ternganga tak percaya dengan semua ini. dan lansung memeluk ambran..


-


-


-


Bersambung....


***Dududuuuuuuh, author mau juga di kasih cincin berliannya bang. 😍😍

__ADS_1


BTW emang anet punya uang buat bayar semua perhiasan mehong itu ???🤔🤔🤔***


__ADS_2