Bukan Gadis Desa Biasa

Bukan Gadis Desa Biasa
BAB 154


__ADS_3

Semua berkumpul di depan ruangan operasi, dengan wajah tegang dan hati yang cemas.


Sementara ambran dengam setia menemani sang istri yang sedang berjuang untuk melahirkan sang buah hati dan cinta mereka.


*Sayang, kau kenapa menangis* tanya anet melihat ambran meneteskan air matanya.


*Aku tak menyangka kau akan berjuang seperti ini, hanya untuk melahirkan anak ku sayang* ucap ambran menciumi kening anet.


*Semua perempuan yang akan melahirkan baik itu normal maupun cesar pasti akan merasakan hal seperti ini sayang, sudah aku tidak apa apa kok* Anet memang wanita kuat dan tangguh, dari awal masuk ruangan operasi tak ada air mata yang keluar dari mata nya.


Padahal 2 jam sebelum masuk ruangan operasi, dia merasakan sakit nya kontraksi yang begitu hebat, namun dia menahannya sebisa mungkin untuk tidak menangis, tak ingin orang orang tersayangnya juga ikut sedih.


Dan sebelum operasi di lakukan, anet sudah meminta maaf pada seluruh anggota keluarga nya dan juga pada sahabatnya dinda yang juga ikut mengantar nya ke rumah sakit.


3 Jam berlalu, operasi berjalan berjalan dengan lancar. dua bayi munhil mengoek sejadi jadinya secara bersamaan.


*Apakah itu suara anak kita sayang* tanya anet pada ambran saat mendengar bayi nya menangis bersahutan.

__ADS_1


*Iya sayang, mereka sudah lahir dengan semangat dan tak kurang satu apapun, terima kasih sayang, terima kasih* Ambran berulang kali menciumi wajah anet dan juga tangan istrinya.


*Tuan dan nyonya, bayi nya akan kami bersihkan dulu, setelahnya silahkan tuan Azani anak nya ya* ucap seorang suster.


*Baik sus. terima kasih* ucap ambran.


Di luar ruangan operasi, semua keluarga bajagia saling berpelukan, karena batu saja dokter yang menangai anet mengatakan kalau bayi kembar sepasang itu telah lahir dengan selamat, dan ibu nya juga selamat.


*Alhamdulillah, akhirnya cucu kita nambah 2 sekaligus ya mbak* ucap mami saat memeluk bunda dengan perasaan bahagia.


*Oyan au engok baibi mam* pinta royan pada dea.


*


*


Setelah anet dan dua baby nya di pindahkan ke kamar rawat yang sebelum nya telah di hias sedemikian rupa oleh mami dan bunda.

__ADS_1


Semua bergantian menciumi baby twint yang masih merah itu. Dinda setia duduk di samping anet sahabatnya. dia juga sangat bahagia sekarang sahabat nya tah menjadi seorang ibu.


Sementara royan dan dea tak beranjak dari dua box bayi itu, royan mangajak dua adik kembarnya bicara. padahal dia sendiri masih belum pas saat bicara.


*Dinda, di luar ada yang mencari mu tu* ucap robi yang baru kembali dari apotik untuk menebus obat untuk anet.


*Siapa kak, aku gak ada kenalan dokter atau pun suster di RS ini* ucap dinda bingung.


*Mana aku tau tupai kecil, pacar mu mungkin* ucap robi cuek, dia selalu berantam dengan dinda. Bukan karena dia tak menyukai dinda, justru dia menganggap dinda juga sama seperti anet, adik ipar nya.


*Sayaaaangg* tegur dea pada robi. yang di tegur malah cengengesan, sehingga royan menggit lengan sang ayah yang baru saja akan mencium si kembar.


*Oyan, sakit nak.* protes robi.


*Iyalin, mang cedap, onty nda sana iat eman nak uyu* ucap royan.


Semua hanya bisa tertawa melihat kejadian tersebut, termasuk anet yang sedang berbaring di bankernya.

__ADS_1


*Kamu, kenapa kemari*


Bersambung.....


__ADS_2