
Anet keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar, semua mata tertuju padanya. *Kenapa kalaian melihatku begitu, apa aku berbuat salah* tanya anet.
*tidak, kau terlihat lebih segar saja. makanya kami melihat mu begitu* mami amel menjawab pertanyaan anet. padahal mereka semua terpesona melihat ke cantikan anet. bagaimana tidak, apapun pakaian yang anet pakai selalu terlihat indah di tubuhnya.
Semua duduk dan bercengkrama di dalam ruang rawat dea, mereka seakan tak merasakan ada yang sedang bersedih karena keadaan dea. dea pun ikut bergabung dengan keluarganya, tentunya dengan bantua kursi roda. dan Robi selalu setia di sampingnya.
*Ngomong ngomong, kenapa kita malah happy begini ya. kan dea masih sakit.* timpal bunda di tengah obtolan seru mereka.
*Bunda, aku sudah sehat sekarang karena kedatangan kalian semua* jawab dea tersenyum.
__ADS_1
Mami dan bunda yang duduk bersebelahan saling peluk. *Aaahh, mau ikutan peluk juga* anet menghampiri bunda dan mami lalu memeluk dua wanita itu, *Bay, tolong dorongkan kursi rodaku ini, aku juga mau di peluk* pinta dea pada robi, dan robi dengan sigap mendorong kursi roda itu.
setelah para wanita melepas pelukan mereka, terdengar decikan suara pintu terbuka. tentu saja semua menoleh ke sumber suara tersebut.
*Selamat siang semua, maaf saya mengganggu* Ucap seorang lelaki blasteran indo-pakistan itu. Lelaki itu menenteng dua buah paperbag besar di tangannya.
*Ini ambran, sahabat sekaligus bos robi, dia juga orang yang sudah sangat berjasa, karena telah membantu Anet untuk mengantar dea ke rumah sakit ini semalam.* Ucap robi sambil mengajak ambran bergabung bersama mereka.
*Jangan berlebihan, aku hanya membantu sebisa ku saja bro,* ucap ambran sungkan saat di puji di depan para tetua di ruangan tersebut.
__ADS_1
*Sini nak, jangan berdiri saja.* ucap papi yang menepuk sofa kosong di sebelahnya. dan di angguki oleh paman.
Tak butuh waktu lama bagi Ambran untuk berbaur dengan dua lelaki 40an itu. mereka begitu asik mengobrol dari masalah bisnis sampai membahas keluarga.
Tak jauh beda dari para pria, para wanita pun asik dengan obtolan mereka, mulai dari membahas tentang kondisi dea merangkak ke perjodohan anet dan ambran, ini semua di mulai oleh mami *Sepertinya Ambran sangat cocok untuk kita jadikan mantu kita mbak* bisik mami pada bunda, namun masih terdengar oleh anet dan dea, *Iya, selain ganteng, baik, sopan, pembisnis muda terkenal pula* balas bunda yang di angguki oleh mami. dea sibuk menahan tawanya saat melihat wajah anet yang sudah merona.
Saat semua sedang asik mengobrol, seorang suster masuk dan memberikan kotak makan siang serta obat untuk dea. Robi melihat nampan berisi kotak makan dan obat yang di letakakan di meja kecil samping bangker dea pun berdiri. dan memberikannya pada dea yang masih setia di dekat tiga wanita lainnya. *Bi, makan dulu. biar bisa segera minum obat* robi berjongkok di samping kursi roda dea, dea mengangguk dan tersenyum* Makasih bay* dea mengambil nampan itu dari robi. *Mau mami suapi nak* tawar mami, dea menggeleng, *Dea bisa kok mi* mami mengangguk dan tetsenyum. begitu juga dengan yang lain.
Bersambung....
__ADS_1