Bukan Gadis Desa Biasa

Bukan Gadis Desa Biasa
BAB 71


__ADS_3

Hari ini Anet ke kampus dengan langkah tergesah gesah, karena terlambat bangun dan terjwbak macet saat tadi di perjalanan mengakibatkan ia melewatkan 30 menit pertama jam kuliah.


*Assallamulaikum, maaf pak terlambat* anet mengtuk pintu kelas yang terbuka.


Semua yang berada di dalam kelas melihat anet, karena sebelum ia datang kelas sedang di hebohkan dengan perdebatan antara dosen dan mahasiswa abadi yang selalu membuat ulah.


*Waalaikum salam, masuk* ucap pak dosen dengan tegas.


Anet melangkah masuk dan duduk di samping dinda, si kutu buku yang selalu memakai kacamata tebalnya.


*Din, kenapa semua pada diam ya, tadi keknya sebelum aku masuk bising nya terdengar sampai keluar* Anet bisik bisik di telinga dinda.


*Itu si tono the gank buat ulah lagi, masa pas dosen masuk mereka main game, malah volume gamenya pakai spiker aktif lagi* Jelas dinda dengan sedikit kesal, melihat ke arah tono the gank. Anet hanya bero ria saja mendapat jawaban dari dinda.


Jam istirahat siang pun datang, anet mengajak dinda ke kantin untuk mengisi perut. Namun dinda menolak secara halus. *Maaf net, aku masih kenyang. kau saja yang ke kantin, aku di kelas aja, nanti titip air mineral aja*


Anet tak mau memaksa dinda. *Ok din, aku ke kantin dulu ya, titip buku nya* ucap anet tersenyum pada dinda.


Setelah kenyang mengisi perutnya, anet ingin membayar dan membelikan pesanan dinda. Namun tanpa sengaja dia mendengar salah satu mahasiswa bicara tentang dinda dengan teman sekelasnya juga. Anet merasa penasaran. *Maaf, boleh ikut gabung* ucap anet sopan. dan kedua wanita itu tersenyum dan mengangguk bersamaan.

__ADS_1


*Maaf lagi sebelumnya, tadi aku dengar kalian bahas dinda ya, apa dinda yang sekelas dengan kita* tanya anet.


*Oh, iya, kita tadi bahas dinda teman sekelas kita itu, kesian dia net* ucap salah satu wanita tersebut.


*Emang dia kenapa,* tanya anet semangkin penasaran.


*Sebenarnya dia itu kuliah di sini dari beasiswa, dari yang aku dengara, ayahnya sudah meninggal sejak dia SMA, karena Tabrak lari dan ibunya terpaksa menggantikannayahnya jadi supir ojek, sementara dua adiknya masih kecil dan adik dia yang paling kecil sering di titipkan di tetangga kalau ibunya ngojek, adeknya sekolah dan dia kuliah atau kerja* jelas wanita berna Nilam itu.


*Dan lebihbsedihnya lagi sekarang ibunya dibrawat di rumah sakit karena menderita kangker rahim, harus di operasi. biaya dari mana mereka. kontrakan saja udah nunggak 2 bulan* sambung wanita satu lagi.


*Kalian begitu mengenali dinda ya.* tanya anet.


*Rumah sakit mana ibunya di rawat* tanya anet lagi.


*Kalau kata ibu warung tempat kita beli sarapan sih, di rumah sakit medikal*


*Ya sudah kalau gitu, aku mau ke kelas dulu, tadi dinda nitip minum sama aku, tapi jangan aksih tau siapapun ya masalah dinda. kesiahan dia nanti, kesihan jadi nambah beban dindanya kalau ada yang merendahkan dia* ucap anet dan di angguki kedua temannya itu.


Setelah memesan minuman dan juga makanan pada ibu kantin, Anet ke kelas dan memberikan makanan itu pada dinda. *Din, ini pesanannya* anet menyerahkan air mineral dan kotak nasi berbahan plastik berbentuk kotak yang dia beli untuk dinda.

__ADS_1


*Net, aku gak mesan makanan* dinda melihat ada juga kotak makan di atas mejanya.


*Udah, makan aja. aku liat kamu pucat tadi jadi aku mikir kamu belum makan. tapi karn amalas ke kantin kamu bilang nya masih kenyang* bohong anet, karna dia tau jika dia mengatakan bahwa dia mengetahui kisah dinda pada orangnya, pasti akan membuat dinda slaah tingkah dan tak enak hati.


*Makasih ya net, Ini uangnya* dinda memberikan uang pada anet, namun sebelumnya dia terlihat berpikir.


*Udah, makan aja. ini free sebagai tanda pertemana kita, kamu kan juga sering minjamin buku catatan sama aku* ucap anet menolak uang yang di berikan dinda, karena anet melihat raut wajah dinda yang seperti banyak beban.


*Aduh, jadi gak enak aku net. ini merepotkan namanya* ucap dinda.


*Tidak. ini tak merepotkan samasekali kok. ayo dimakan, nanti keburu jam kuliah selanjutnya di mulai* ucap anet sambil mengusap punggung dinda dan tersenyum ramah.


Dinda pun memakan makanan itu dengan sangat lahap, mungkin benar dugaan anet dan dua temnnya di kantin tadi, jika dinda tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan di kantin, dia juga lebih membutukan uang tersebut untuk biaya hidupnya dan terlebih untuk biaya berobat snag ibu.


***Bersambung...


Selamat pagi bundsist ku sayang. Masih setiakah padakj ??🤭😂😂


Pasti setia lah thor, kan selalu nungguin up nya tiap hari. walaupun kisahnya kadangembosankan🤭🤭

__ADS_1


Maafkan aithor ya, masih belajar mengarang dan ini masih perdana bangat.🙏🙏***


__ADS_2