
Setelah dari acara dinda, anet dan keluarga lain nya pulang ke rumah masing masing dengan badan yang pegal pegal. bukan karna capek di acara tapi karena jauhnya perjalanan.
*Aku heran plas salut sama sam, bisa ya dia bangun rumah di tempat begitu, jauh dari kota. tapi suasananya nyaman dan tentram bangat* ucap robi yang sedang menyetir. Hari ini mereka satu mobil dengan amran dan prejuritnya.
*Iya, aku jadi pengen pindah ke perkampungan juga rasanya* sahut ambran yang duduk di sampingnya.
*No papi am. gak boleh tinggal di cana. nanti oyan susah main sma dedek kembal* protes royan.
*Hahaha, kan nanti royan bisa minta dedek sama mami papi. biar aja teman main di rumah* ambran malah membuat roby dan dea salah tingkah.
*No no no. oyan gak mau punya adek bayi. adek oyan ini aja*
*
Di mobil lain, papi dan mami lansung ke bandara, karena papi ada proyek di luar kota. sedangkan bunda dan paman memilih untuk menginap di salah satu villa mereka yanga da di puncak.
Dan denada di rawat di rumah sakit jiwa, karena dari hasil pemeriksaan denada memang terkena gangguan jiwa. Papi dan mami nya pun tak bisa menyalahkan siapa siapa atas apa yang terjadi pada anak semata wayang mereka.
__ADS_1
*Dena sayang, maaf kan mami sama papi ya nak, kita berdua tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk mu. kita terlalu memanjakan dan membebaskan mu selama ini* ucap mami denada yang berurai air mata melihat anaknya berlari kegirangan sambil mencium setangkai bunga.
*Sudahlah, semua sudah terjadi. mungkin ini karma buat dena atas apa yang telah dia lakukan selama ini*
*Sebaiknya kita menetap saja di sini, setiknya sampai dena benar benar sembuh* ucap papi sambil menggenggap tangan mami.
*Iya aku setuju. tapi bagaimana dengan perusahaan kita pi, siapa yang akan mengurusnya*
*Mami tenang saja. di setiap cabang ada orang yang papi percaya untuk mengurusnya., sekarang kita fokus rawat anak kita. selagi kita masih ada waktu* mami memeluk papi dan melihat tingkah denada dari kejauhan.
*
*Ibu, ibu mau kemana bawa koper, kalian juga ini berdua kok juga ikutan bawa koper* tanya sam saat turun ke lantai bawah ingin mengambil minum.
*Nak, kaliankan sudah menikah. jadi ibu dan adik mu akan pulang ke rumah lama kita* jawab ibu.
*Gak boleh. ibu dan adik adik tetap disini saja, kita akan tinggal bersama disini.* ucap sam tegas.
__ADS_1
*Tapi nak*
*Iya bu, ibu dan adek tinggal disini aja. kalau klian gak ada nanti dinda sama siapa. abang kan gak selalu bisa di rumah pasti sering ke luar kota mengecek lestorannya* sahut dinda yang juga sedang menuruni tangga.
*Tapi kak. kita nanti berangkat sekolahnya jauh kalau dari sini. lagian aku juga takut naik motor jalan jauh* adik dinda juga ikut membantu ibu bicara agar dinda dna sam mau melepas mereka.
*Kalau masalah itu. nanti abang carikan kalian supir. berangkat pakai mobil aja. gak usah naik motor lagi.* sam tetap bersikeras.
Adik adik dinda hanya bisa pasrah, mereka menunggu keputusan dari ibu selanjutnya.
*Bu, sam mohon, tetap tinggal bersama kami. ibu jangan khawatir. di simpang 3 depan sana sam udah sediakan ruko untuk ibu, agar ibu tetap ada kegiatan nanti.* ucap samuel memohon dan membujuk san mertua.
*Nak, ibu gak enak sama kamu.* jujur ibu.
*Udah la bu, sekarang sam anak ibu juga kan. anak laki satu satunya. dan tugas sam adalah membahagiakan 4 wanita yang ada di depan sam sekarang.*
*Abaaaangg*...
__ADS_1
Bersambung......